• 2025-08-07
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Halo, Kebaya Lovers!

SIAPA bilang jadi perempuan itu cuma ngurusin dapur, sumur, dan kasur? Dulu iya, tapi sekarang? Perempuan bisa megang peran di mana aja, dari rumah, kantor, sampai panggung politik dan budaya.  Bu Tuti Nusandari Roosdiono contohnya.

Bu Tuti lahir, tumbuh, dan hidup sebagai perempuan Indonesia yang nggak cuma mengurus keluarga, tapi juga jadi bagian dari pengambil kebijakan negara. Buat beliau, jadi perempuan tuh seru banget! Kenapa? Karena kita bisa ambil peran penting baik di rumah dan di masyarakat. Yang penting? Niat, tujuan, dan komitmen. Beliau pernah bilang, “Semua kembali pada niat dan kerja ikhlas.” Sesimpel itu.

Jadi Anggota DPR, Dua Periode!

Selain politik, Bu Tuti juga punya passion dalam budaya. Salah satunya Kebaya. Menurut beliau, kebaya itu punya makna filosofis: keanggunan, kekuatan, dan kesederhanaan yang elegan.

Nggak main-main, Bu Tuti duduk di DPR RI dua periode. Tahun 2014–2019 di Komisi I dan 2019–2024 di Komisi IX. Dapil-nya Jawa Tengah I yang meliputi wilayah Salatiga, Semarang, Kendal, semuanya adalah kampung halamannya. Saat jadi wakil rakyat, beliau menyerap banyak aspirasi langsung dari masyarakat. Ternyata, masalah di lapangan itu kompleks banget. Tapi Bu Tuti punya jurus jitu yakni “Gotong royong, guyub rukun, tandang gawe,” alias, kerja bareng, saling dukung, dan jangan baperan.

Kebaya Bukan Cuma Soal Fashion

Selain politik, Bu Tuti juga punya passion dalam budaya. Salah satunya? Kebaya. Yup, kebaya bukan cuma baju cantik buat kondangan. Menurut beliau, kebaya itu punya makna filosofis: keanggunan, kekuatan, dan kesederhanaan yang elegan.

Bu Tuti adalah salah satu pendiri Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan juga pendiri serta Ketua Umum Kebaya Foundation. Beliau ikut mendorong lahirnya Hari Kebaya Nasional yang akhirnya disetujui Presiden Jokowi dan ditetapkan setiap 24 Juli.

Beliau adalah salah satu pendiri Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan juga pendiri serta Ketua Umum Kebaya Foundation. Beliau ikut mendorong lahirnya Hari Kebaya Nasional yang akhirnya disetujui Presiden Jokowi dan ditetapkan setiap 24 Juli, terinspirasi dari pidato Bung Karno di hadapan ribuan perempuan berkebaya tahun 1964. Bung Karno berpidato di hadapan lebih dari  7.000 perempuan yang pakai kebaya. Saat itu Bung Karno dengan lantang mengatakan,” Revolusi Indonesia tidak akan pernah dicapai tanpa peran perempuan”. Epic banget nggak sih?

Tahun lalu , untuk pertama kalinya Indonesia merayakan Hari Kebaya Nasional di Istora Senayan. Di sana, 9.250 perempuan dari seluruh Indonesia kompak pakai kebaya. Sekarang kita bisa melihat banyak perempuan Indonesia yang bangga pakai kebaya dimanapun berada dan berkegiatan apa saja. Keren banget! 

Tetap Jadi Istri, Ibu, dan Nenek yang Bahagia

Meski sibuk ngurus negara dan budaya, Bu Tuti tetap menomorsatukan keluarga. Dari olahraga bareng, makan bareng, sampai liburan sama cucu,  semua dijalanin dengan penuh cinta. Buat beliau, keluarga dan kesehatan adalah harta paling berharga. Dan itu nggak pernah boleh dikesampingkan, seberapa sibuk pun kita. 

Nah pesan Bu Tuti untuk kita semua, Perempuan bisa main di ranah publik dan domestik. Bisa berkarir, berkarya, dan tetap cinta keluarga.” Jadi, buat kamu yang lagi merasa “cukup nggak sih gue sebagai perempuan?”, ingat ini:  Kita bisa jadi apa pun yang kita mau. Kita bisa bikin perubahan. Kita bisa jaga budaya dan tetap relevan. Yuk, jadi perempuan yang berdaya, berbudaya, dan berkarya  dengan tetap bahagia apapun pilihan kamu,  tapi juga bermanfaat buat bangsa. 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *