• 2026-09-24
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!
Kebayastory.com pernah menulis kiprah almarhumah Ibu Prof. Dr. Toeti Heraty, seorang pemikir, feminis, penyair, dan seniman Indonesia terkemuka. Nah, salah satu warisannya untuk kita, khususnya para perempuan, adalah Cemara 6 Galeri yang kemudian menjadi Museum Toeti Heraty yang sudah berdiri sejak 1993.

Memasuki rumah seni yang menyimpan koleksi pribadi Ibu Toeti, termasuk karya 60 seniman Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, hingga Basoeki Abdullah, seperti dibawa masuk ke dalam pemikiran sang empunya, yang sayang kalau ceritanya tidak dibagikan kepada pembaca kebayastory.com.

Rumah ini bukan sekadar museum yang menyimpan benda berharga. Bangunan bergaya kolonial ini juga memiliki koleksi buku, art shop, kafe, serta berbagai pameran dan program budaya. Seperti Selasa (23/9/2026), Museum Toeti Heraty menggelar pameran lukisan karya Lully Tutus, seniman dan pelukis asal Yogyakarta yang dikenal dengan karya-karya seni visual bernuansa fantasi yang kaya akan warna, kisah, dan karakter.

Cemara 6 Galeri-Museum, salah satu warisan Toeti Heraty yang menjadi ruang untuk merawat, mempertemukan, dan memperkenalkan karya seni kepada publik.

Museum Toeti Heraty berlokasi tak jauh dari Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Museum ini didirikan oleh Ibu Toeti sebagai wadah pelestarian dan apresiasi terhadap karya seni rupa dari seniman Indonesia dan mancanegara yang saat ini dikelola oleh Dr. Inda Citraninda Noerhadi, yang merupakan salah satu penerus visi pendiri dan direktur operasional museum.

Pilih Beli Lukisan daripada Mobil Mewah

Siang itu, kebayastory.com beruntung bisa ditemani M. Nirwan Sambudi, seniman muda lulusan Program Studi Seni Rupa Murni dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang bekerja di museum ini. Oiya, Nirwan adalah salah satu pemenang terbaik Basoeki Abdullah Art Award #4 (2022)—ajang penghargaan seni tiga tahunan—melalui karyanya yang berjudul “Dalam Merunut Sosok Sutan Takdir Alisjahbana”.

“Ini ruang Salim, pelukis Indonesia yang tinggal di Prancis. Beliau sahabat Bu Toeti, ada banyak lukisan Salim di sini,” kata Nirwan dengan ramah kepada kebayastory.com. Ia kemudian bercerita tentang Salim, pelukis Indonesia kelahiran Medan, sekaligus pejuang kemerdekaan yang bermukim di Prancis. Namanya memang tidak banyak dikenal di Indonesia, namun lukisannya sangat dikagumi di belahan Eropa.

Toeti Heraty dikenal tidak hanya sebagai akademisi dan filsuf, tetapi juga sebagai sosok yang aktif dalam dunia seni dan kebudayaan Indonesia.

Museum Toeti Heraty sebenarnya dibangun atas inisiatif dari almarhum pelukis Mochtar Apin dan juga Salim. Sebelum galeri berdiri, Ibu Toeti pergi ke Prancis sebagai anggota Yayasan Pusat Kesenian Jakarta dan bertemu dengan pelukis Salim yang akan menggelar pameran di Jakarta dalam rangka ulang tahun Taman Ismail Marzuki pada 1991.

Nirwan menuturkan, di tengah proses pameran, salah satu bank swasta memutuskan untuk mundur sebagai sponsor. Sementara itu, lukisan-lukisan Salim sudah tiba di Jakarta namun masih tertahan di bea cukai.

“Menariknya, di tengah kondisi lukisan harus sudah berada di ruang pamer, Bu Toeti mendapatkan tawaran mobil mewah dari kantornya. Tapi beliau memutuskan meminta jatah uang untuk membeli lukisan Salim yang jumlahnya mencapai puluhan,” ungkap Nirwan.

Karya Salim dan Mochtar Apin, dua karib Bu Toeti, banyak dipajang di museum ini. Bahkan, nama kedua seniman besar ini diabadikan menjadi nama ruangan di museum ini agar karyanya selalu dikenang sepanjang zaman.

Suporter Pelukis Kartika Affandi

Salah satu karya seniman perempuan yang menjadi koleksi Museum Toeti Heraty adalah lukisan Kartika Affandi, putri pelukis kenamaan Affandi yang menganut paham ekspresionisme murni. Dikutip dari www.affandi.org, pada awal kariernya, Affandi menampilkan karya-karyanya dalam lukisan realis fotografis yang artinya lukisannya seperti gambar yang diambil dari kamera.

Nirwan menjelaskan, hubungan Bu Toeti dengan Kartika Affandi cukup dekat. Terlebih, mereka ternyata memiliki tanggal lahir yang sama, yakni 27 November. Pernah pada suatu masa, Kartika “mutung” berkarya karena lukisannya selalu dikait-kaitkan dengan sang ayah. Maka, Bu Toeti-lah yang menyemangati agar tidak patah semangat dan mengabaikan penilaian negatif atas hasil karyanya.

Hubungan baik Bu Toeti dan Kartika semakin terbangun, sehingga Kartika tidak segan untuk berdiskusi dan meminta bantuan. “Pernah dalam satu pameran, lukisan Kartika nggak ada yang beli. Kemudian ia minta Bu Toeti membeli lukisannya biar bisa pulang ke Yogyakarta,” urai Nirman.

Wah, luar biasa ya Bu Toeti ini. Dukungannya kepada dunia seni cukup dalam. Beliau bukan hanya menjadi sosok yang memberikan panggung bagi para seniman, tetapi juga dukungan finansial yang nggak pernah ia hitung. Bayangin aja, beliau memilih beli lukisan dibanding mobil mewah. Salut!

Koleksi Buku dan Kebaya

Kebaya Lovers, di Museum Toeti Heraty, kalian akan disuguhi karya-karya beliau seperti bukunya yang berjudul “Calon Arang Kisah Perempuan Korban Patriarki”. Buku ini berisi kritikan stigma jahat yang dialamatkan pada Calon Arang sebagai perempuan penyihir. Padahal, Calon Arang adalah perempuan yang mencoba bertahan terhadap lingkungan patriarkal yang represif.

Cemara 6 Galeri menjadi bagian dari jejak panjang Toeti Heraty dalam dunia seni, sekaligus ruang yang mempertemukan karya, gagasan, dan generasi.

Selain itu, buku Seserpih Pinang Sepucuk Sirih Mimpi dan Pretensi (kp, 1982), Aku dalam Budaya (s, 1984), Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda (ap, 1986, Ed. bersama A. Teeuw), Antologi Puisi Indonesia 1997 (ap, 1977), dan Sembilan Kerlip Cermin (ap, 2000) bisa kalian baca di ruang perpustakaan bersama dengan buku budaya dan filsafat lainnya di Museum Toeti Heraty.

Oiya, kalian bisa menyaksikan piano warna putih peninggalan Bu Toeti, yang semasa hidup sering memainkan lagu-lagu klasik kesukaannya. “Pengunjung boleh memainkan piano ini. Tapi harus beneran bisa ya, bukan asal dibunyikan,” ungkap Nirwan.

Di museum ini, pengunjung bisa masuk ke ruangan tidur Bu Toeti yang klasik, di mana di dalamnya selain ada tempat tidur, meja makeup, juga ada koleksi jaket jeans bergambar fotonya dan koleksi kebaya warna kuning. Bahkan, di sudut dekat pintu masuk kamar, ada lemari kayu yang menyimpan koleksi kebaya dan kain yang sehari-hari dikenakan Bu Toeti dalam berbagai aktivitas. “Kami masih memilah koleksi kebaya karena ada beberapa jenis. Harapannya, kebaya Bu Toeti bisa dipamerkan kepada pengunjung,” tambah Nirwan.

Warisan Toeti Heraty terus hidup melalui seni dan gagasan. Museum Toeti Heraty menjadi salah satu ruang yang mengabadikan semangatnya dalam merawat kebudayaan Indonesia.

Selain lukisan, museum ini juga menyimpan sejumlah karya seni lainnya seperti patung dan instalasi Ruangan Perahu Nabi Nuh (1993) karya F. Widayanto. Museum ini memiliki ruang aula untuk menggelar berbagai acara, kemudian ada balkon yang sejuk, halaman di bagian dalam rumah yang estetik. Oiya, museum ini bisa disewa untuk sesi pemotretan dan kamar-kamarnya bisa disewa sebagai guest house.

Nah, Kebaya Lovers, setelah menyimak cerita kebayastory.com dan kalian tertarik untuk berkunjung ke sini, catat ya jam operasionalnya. Museum Toeti Heraty buka Selasa–Minggu pukul 10.00–16.30 WIB. Ingat ya, untuk Senin dan Hari Libur Nasional museum tutup.
Harga tiket masuk reguler sebesar Rp35.000 per orang (sudah termasuk tur berpemandu untuk mengeksplorasi koleksi museum) dan untuk pelajar Rp25.000 per orang.
Kalian beruntung jika berkunjung kesini pas ada pameran, jadi bisa sekaligus menikmati berbagai karya yang indah. Kalau bukan kita, siapa yang akan mengapresiasi hasil seni seniman-seniman kita. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *