
Hello Kebaya Lovers!
ADA yang menarik dari pameran lukisan tunggal karya Lully Tutus Pinandita yang digelar di Cemara 6 Gallery – Toeti Heraty Museum, Jakarta, bertajuk “Mencuri Waktu di Tengah Riuh”, 22 September–3 Oktober 2026.
Karya Lully sangat dipengaruhi oleh fantasi dunia anak-anak masa kecil. Gaya lukisannya unik, kaya akan warna-warna cerah, bentuk kompleks, serta dipenuhi makhluk-makhluk mitologis, peri, kartun, dan jamur. Hasil karya seniman perempuan asal Yogyakarta ini mengandalkan sapuan cat berwarna cerah, bagai sebuah transisi enerjik dari kesibukannya sebagai ibu rumah tangga ke dunia yang berbeda.
Ya, Lully menegaskan bahwa dirinya adalah seorang ibu yang sehari-hari menghadapi kehebohan mengurus suami dan tiga anaknya. Namun, Lully berusaha mencuri waktu untuk dirinya sendiri, membuat karya luar biasa yang sebagian mengangkat tema aktivitasnya sebagai ibu, anak yang rewel, sampai isu pembalakan hutan.

Dalam satu kesempatan Lully berujar, kalau urusan keluarganya selesai maka lukisannya pun akan selesai. Ini menunjukkan, jika dalam proses berkarya, status sebagai ibu tidak bisa dipisahkan begitu saja.
“Keluarga nomor satu. Kalau urusan keluarga beres, lukisan saya beres. Kalau urusan keluarga nggak beres, lukisan saya nggak beres,” begitu kalimat Lully yang dikutip dari Instagram ortopologi April 2026.

Lully memiliki tiga anak, satu di antaranya berumur 5 tahun yang memiliki golden moment yang tidak bisa ditinggalkan. “Jadi bangun tidur urus anak-anak sampai sebelum sekolah, mereka harus kenyang. Ketika mereka sekolah itu me time saya yang paling indah,” kata Lully.
Menyelami karya Lully seperti diajak mengembara ke dunia fantasi yang kemudian diadaptasikan pada situasi riil saat ini. Objeknya perempuan dan anak-anak dibalut tema-tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tarikan garisnya tegas dan warna-warnanya yang ditorehkan mengajak penikmat lukisannya turut berpetualangan.
My Orchestra
Lukisan berjudul My Orchestra menurut Lully inspirasinya ia temukan bukan dari suara musik yang indah. Lukisan yang ia buat pada 2026 ini muncul justru dari tangisan anak, tawa yang tiba-tiba pecah, kegaduhan rumah tangga, keriuhan tukang kala membenahi rumah yang kemudian dikemas menjadi sebuah “orkestra kehidupan”.

“Di sanalah saya belajar tentang makna menjadi seorang ibu, sebuah pengalaman yang penuh keindahan, tetapi juga penuh tantangan. Orkestra ini tidak selalu harmonis, tetapi justru dari ketidakteraturan itulah lahir irama yang paling jujur,” kata Lully dikutip dari grammhotel.com.
Demikian juga dengan lukisannya yang bertajuk My World, Lully seakan membedah ide-idenya untuk menangkap semesta dan isi dunia yang penuh warna, makhluk yang mungkin tidak logis, tapi terasa hidup.
Lully lahir di Rembang, 28 Maret 1980. Sejak kecil ia menyukai karya pelukis terkenal Affandi. Dalam catatan dunia seni lukis, Lully adalah seorang seniman visual dan pelukis kontemporer yang dikenal melalui karya-karyanya yang sarat dengan dunia imajinasi, fantasi, dan mitologi.
Ia menciptakan seluruh karya lukisnya di studio seni miliknya yang berlokasi di Mriyan, Timbulharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Suami dan ketiga anaknya senantiasa menemaninya saat ia melukis.

Kurator Mikke Susanto mengatakan, Lully yang tidak mengenyam pendidikan seni justru bisa lebih bebas mengekspresikan apa yang ia rasakan dalam berkarya. “Sebagai ibu rumah tangga nilai melukis setara dengan memasak dan berbelanja, mengantar anak ke sekolah, bercengkerama dengan suami atau berinteraksi dengan teman-temannya di studio menjadi nilai penting untuk diangkat dalam sebuah pameran. Lully adalah gambaran perempuan yang bekerja sebagai seniman dalam kondisi riuhnya rumahtangga sebagai bagian dari perkembangan kebudayaan di Yogyakarta,” ungkap Mikke.

Lully telah menggelar beberapa pameran tunggal, di antaranya:
• Memanen Angin (2023): Pameran tunggal perdananya yang diselenggarakan di Jogja Gallery dengan menampilkan 33 lukisan dunia imajinasinya.
• My Fantasy is Very Serious! (2026): Pameran tunggal kedua yang diadakan di Gramm Hotel Yogyakarta, berfokus pada kebebasan berfantasi dan eksplorasi batin.
• Mencuri Waktu di Tengah Riuh (2026): Pameran tunggal ketiganya yang diselenggarakan di Cemara 6 Gallery – Toeti Heraty Museum, Jakarta.
Kebaya Lovers, menarik ya mengamati karya-karya Lully Tutus. Intinya, sesibuk apa pun perempuan dengan rutinitas harian sebagai ibu rumah tangga, kita jangan lupa mengelola waktu saat sendiri dengan menghasilkan karya. Jika Lully Tutus mencuri waktu dengan melukis, mungkin Kebaya Lovers lainnya bisa dengan menulis, merajut, atau merawat tanaman. Yang penting kata Lully Tutus, urusan keluarga beres.
Wah, inspiratif sekali ya! ***








