Hello Kebaya Lovers! 

LIFE balance lagi jadi topik panas di era digital. Semua serba cepat, kerjaan bisa beres dari mana aja, info datang tanpa henti dari berbagai penjuru dunia. Kelihatannya memudahkan, tapi diam-diam bisa bikin kepala penuh. Kalau nggak disadari, kondisi ini pelan-pelan memicu anxiety dan kecemasan berlebihan yang berdampak ke kesehatan mental.

Tantangan menjaga keseimbangan hidup makin terasa buat mereka yang tinggal jauh dari tanah kelahiran. Entah karena penugasan atau pilihan hidup, merantau ke negeri orang tetap butuh mental yang kuat. Di balik foto-foto estetik dan cerita seru, rasa rindu pada keluarga, sahabat, dan suasana rumah tetap ada. Di titik ini, life balance jadi sesuatu yang harus diusahakan, bukan sekadar wacana.

Salah satu cara sederhana tapi ampuh untuk menjaga kesehatan mental adalah menulis. Bukan menulis untuk pamer di media sosial, tapi menulis untuk diri sendiri. Media sosial sering kali bukan tempat yang aman untuk curhat. Bukannya lega, masalah justru bisa makin panjang karena komentar, penilaian, atau gosip.

Menulis sebagai ruang aman untuk mencurahkan isi kepala inilah yang diangkat dalam buku Menulis Membaca Kehidupan karya Kristin Samah. Penulis yang telah melahirkan lebih dari 40 buku ini juga membagikan pengalamannya lewat Workshop Menulis Write For Happiness untuk Diaspora Indonesia yang tergabung dalam DWP KBRI Takhta Suci Vatikan dan DWP KBRI Roma.

Bertempat di Wisma KBRI Takhta Suci, Jumat (16/1/2025) Kristin menjelaskan bahwa menulis bisa menjadi proses healing. “Dengan menulis apa saja yang menjadi beban pikiran, kita bisa merasa lebih tenang dan lega tanpa takut dihakimi atau digunjingkan. Kalau curhat ke orang lain, sering kali ada rasa khawatir,” ujarnya.

Kristin Samah bilang, menulis juga berarti mendokumentasikan kehidupan, apalagi kalau dilengkapi foto-foto.

Tulisan Jadi Dokumentasi Hidup

Hal ini diamini salah satu peserta, Maria Asih. Ia mengaku sering meluapkan unek-unek lewat tulisan. “Setelah selesai menulis, rasanya lega. Biasanya kertasnya langsung saya robek,” ceritanya sambil tersenyum.

Para peserta pun terlihat antusias saat mengetahui bahwa ide menulis nggak harus selalu besar. Hal-hal kecil yang dialami dan dilihat sehari-hari justru bisa jadi materi yang jujur dan bermakna.

Menulis juga berarti mendokumentasikan kehidupan. Apalagi kalau dilengkapi foto-foto. “Daripada foto cuma numpuk di galeri HP, lebih baik jadi pelengkap tulisan. Ini bisa jadi warisan berharga untuk anak cucu kita nanti,” ujar Kristin yang mengawali kariernya sebagai wartawan.

Tugas di Luar Negeri Banyak Tantangan

Ketua DWP KBRI Takhta Suci, Atie Nitiasmoro, pun mengajak para diaspora di Vatikan dan Roma untuk mulai menulis pengalaman paling berkesan selama hidup di rantau. Misalnya, kisah istri diplomat yang harus mendampingi anak pindah sekolah lintas negara. Bukan cuma soal administrasi, tapi juga adaptasi mental anak menghadapi sistem pendidikan baru, bahasa baru, teman baru, dan budaya yang berbeda.

“Banyak orang melihat tugas luar negeri itu menyenangkan. Tapi sedikit yang tahu betapa kita harus jungkir balik mendampingi anak-anak agar bisa beradaptasi,” jelas Atie.

Atie menambahkan, cerita lain datang dari mereka yang bersuamikan warga Italia. Mulai dari beratnya hidup jauh dari keluarga sendiri, menyesuaikan diri dengan budaya keluarga pasangan, mengurus rumah dan anak, hingga tetap bekerja. 

“Belum lagi rindu masakan Indonesia yang rasanya nggak pernah benar-benar tergantikan,” papar Atie.

Dari acara worshop menulis bisa disimpulkan, lewat menulis, semua cerita itu bisa menemukan ruangnya. Nggak harus sempurna, yang penting jujur. 

Sejuta Manfaat Menulis

Banyak penelitian bilang, menulis itu bukan cuma soal kata-kata. Aktivitas ini terbukti bisa bantu relaksasi, nurunin stres, bikin pikiran lebih jernih, dan ngebantu kita ngatur emosi. Caranya simpel: tuangkan perasaan, pikiran, atau pengalaman ke dalam tulisan. Sekarang istilah kerennya dikenal sebagai journaling.

Buat kamu yang pengin mulai tapi masih bingung, ini tips versi Redaksi KebayaStory:

  1. Sisihkan Waktu
    Nggak perlu lama-lama. Pagi atau malam, cukup 5–10 menit aja. Yang penting konsisten, bukan durasinya.
  2. Pilih Media yang Paling Nyaman
    Bisa pakai buku catatan, notes di HP, atau bahkan rekaman suara. Bebas, yang penting kamu nyaman dan jujur sama diri sendiri.
  3. Mulai dari Hal Kecil
    Nggak harus curhat berat. Cukup tulis tiga hal yang kamu syukuri hari ini, perasaan yang lagi kamu rasain, atau rencana sederhana buat besok.
  4. Stop Jadi Perfeksionis
    Ini bukan lomba nulis. Nggak usah mikirin ejaan atau tata bahasa. Fokus ke isi, karena tulisan ini buat kamu, bukan buat dinilai orang lain.
  5. Tulis Apa Aja yang Kamu Rasain
    Mau marah, sedih, capek, bahagia, atau bersyukur, semuanya valid. Pengalaman kecil sehari-hari pun layak ditulis.

Nah, Kebaya Lovers, coba deh biasakan menulis secara rutin. Pelan-pelan kamu bakal ngerasain sendiri manfaatnya. Daripada emosi diluapin lewat status medsos yang kadang bikin nyesel, mending dituangin ke tulisan. Siapa tahu, dari sana justru lahir cerita positif yang bisa bermanfaat buat orang lain. ***

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
3
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *