Hello Kebaya Lovers!

MEMILIKI masalah kesehatan mental itu bukan hal tabu. Data menunjukkan, 1 dari 5 orang di Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental. Artinya, mungkin teman kamu, keluarga kamu, atau bahkan kamu sendiri pernah ada di fase “nggak baik-baik saja”.

Menurut dr. Dik Adi Nugraha SpB, Direktur RS Izza Karawang, kondisi ini tuh ibarat gunung es. Yang kelihatan cuma sedikit padahal masalah sebenarnya jauh lebih besar.

“Yang terlihat di lapangan itu seperti fenomena gunung es. Hanya bagian atasnya saja yang tampak,” ujar dr. Adi di seminar It’s Okay Not to Be Okay di Karawang beberapa waktu lalu.

Kenapa bisa begitu? Karena stigma masih kuat. Banyak orang takut dicap, takut salah paham, atau ngerasa harus “kuat” terus. Jadinya, banyak yang memilih diam dan memendam.

Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik

Psikolog Marissa S. Purba bilang, kesehatan mental itu sama pentingnya kayak badan yang sehat. Bahkan, mengenali tanda-tanda awalnya itu penting banget. Misalnya:

·         Anak yang tiba-tiba jadi lebih pendiam

·         Orang tua yang kelihatan gampang marah

·         Atau teman kamu yang mulai menarik diri

Bukan berarti langsung “sakit”, tapi itu sinyal yang perlu diperhatikan. Dan kabar baiknya langkah awal yang harus dilakukan nggak harus besar kok. Hal sederhana seperti:

·         Mendengarkan tanpa menghakimi

·         Mengajak ngobrol dan beraktivitas bareng

·         Bikin suasana aman, itu sudah sangat membantu.

Kalau memang butuh bantuan profesional, nggak ada salahnya ke psikolog atau psikiater. Itu bukan tanda lemah, justru bentuk sayang sama diri sendiri. “Dengan pemahaman yang tepat dan keberanian mencari bantuan, kesehatan mental nggak perlu disembunyikan lagi,” kata Marissa.

Berani Minta Bantuan Itu Bukan Hal Memalukan

Dokter spesialis kejiwaan dr. Beta Ayu Natalia juga mengingatkan, banyak orang sebenarnya belum paham kondisi mentalnya sendiri. Kadang kita pikir: “Ah, aku cuma lelah kok.” Padahal sebenarnya lagi butuh bantuan.

Makanya, jangan nunggu sampai benar-benar nggak nyaman baru ke psikolog atau psikiater. Lebih cepat, lebih baik. “Jangan sampai sudah pada taraf merasa tidak nyaman baru datang,” pesan dr. Beta. Anggap aja sama seperti kalau badan sakit,  kita ke dokter kan? Mental butuh perhatian yang sama.

Dukungan Keluarga & Sahabat Itu Nggak Ternilai

Di seminar itu juga hadir Faqih N. Umam, seorang penyintas masalah kesehatan mental. Ia cerita bahwa proses pulih itu nggak instan, tapi bertahap. Ada naik-turunnya dan itu wajar. Apa hal yang paling membantu?

·         Penerimaan diri

·         Dukungan keluarga

·         Lingkungan yang bebas stigma

Hadir juga Hindrawati dan Bagus Utomo, narasumber yang mendampingi keluarga dengan kondisi kesehatan mental. Mereka sepakat, peran keluarga itu penting banget dalam pemulihan jangka panjang.

Nah Kebaya Lovers! Hal yang bisa dilakukan keluarga adalah:

·         Komunikasi yang hangat dan empatik

·         Peka sejak awal kalau ada perubahan

·         Bikin rumah jadi tempat aman

Karena kadang, yang paling kita butuhkan cuma didengar, bukan dihakimi. Intinya, nggak ada manusia yang selalu oke setiap saat. Kalau lagi berat, itu bukan salahmu, dan kamu nggak sendirian. Ngobrol ke orang yang kamu percaya, cari bantuan profesional kalau perlu, dan kasih waktu buat diri sendiri. Karena kesehatan mental itu bukan hal yang tabu, tapi bagian penting dari hidup yang lebih berkualitas. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *