
TANGGAL 20 Desember 2025 kemarin, suasana di tanabambu Cibubur mendadak jadi super meriah. Soalnya, ada pertunjukan Reog Ponorogo yang bikin pengunjung benar-benar ngerasa lagi balik ke akar budaya sendiri. Tiketnya? 400 lembar dengan harga Rp15 ribu aja—dan ludes terjual! Gokil!
Padahal sore itu hujan sempat gerimis sampai cukup deras. Tapi siapa bilang hujan bisa bikin semangat luntur? Penonton tetap duduk rapi di depan panggung, ada yang duduk di kursi kayu sampai di tikar, payung di tangan, senyum di wajah. Banyak juga yang nonton sambil gandengan—keluarga muda bareng anak-anaknya. Vibes-nya hangat banget!
Penari Datang dari Arah Penonton, Bikin Deg-degan tapi Seru!
Pertunjukan dimulai dengan cara yang beda. Para penari Reog datang dari arah penonton, berjalan pelan sambil menari. Interaksi mereka tuh dekat banget—ramah, akrab, dan bikin penonton nggak cuma jadi penonton, tapi kayak ikut masuk ke dalam cerita.
Yang paling bikin gemes, anak-anak kecil diajak naik ke panggung buat ikut menari. Bukannya takut sama penarinya, mereka malah heboh sendiri—ikut goyang, ikut ketawa. Lucu maksimal!
Setelah itu, tampil juga sekelompok remaja putri yang menarikan Jaran Kepang. Gerak mereka luwes tapi tetap tegas—kelihatan banget kalau latihan mereka nggak main-main. Pokoknya, semua elemen tradisi Jawa terasa hidup banget sore itu.
Dan yang bikin pertunjukan ini terasa makin unik adalah lokasinya: sebuah kedai makan dengan konsep tradisional. Jadi, sambil nonton seni budaya, kita bisa ngopi, ngemil, makan menu-menu Indonesia dan ngobrol santai. Cocok banget buat healing bermakna, nggak cuma buat hati, tapi juga buat rasa cinta sama budaya sendiri.

Reog Resmi Diakui Dunia
Pertunjukan ini juga berasa spesial karena digelar di tengah rasa bangga kita semua—Reog Ponorogo sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Jadi, yang kita tonton bukan cuma hiburan, tapi karya budaya yang udah diakui dunia. Keren banget kan!

Nah buat pengetahuan, susunan pertunjukan Reog Ponorogo itu punya pakem begini:
- Pembukaan & Tatalu
Musik tradisional khas Reog mulai dimainkan buat buka suasana.
- Tari Jaranan (Jathilan)
Penari—termasuk remaja putri—menari dengan properti kuda anyaman.
- Kemunculan Bujang Ganong
Tokoh jenaka dengan topeng khas yang lincah dan energik.
- Warok & Pengiring
Sosok warok tampil sebagai figur kuat yang menjaga keseimbangan.
- Puncak Acara: Tarian Singa Barong (Dadak Merak)
Penari membawa topeng raksasa bermotif merak yang beratnya bisa puluhan kilo—epik banget buat ditonton!

Hujan Pun Gak Bisa Matikan Antusiasme
Meskipun hujan turun makin deras, nggak ada satu pun tanda-tanda penonton mau bubar termasuk kebayastory yang jauh-jauh dari Depok ingin menyaksikan dan menulis untuk para kebaya lovers! . Semua tetap duduk, tetap senyum, tetap menikmati setiap hentakan musik dan gerak tarian.
Rasanya kayak diingatkan lagi bahwa budaya itu bukan sekadar pertunjukan, dia hidup di hati orang-orang yang mencintainya. Dan pertunjukan Reog Ponorogo ini benar-benar membuat kita jatuh cinta lagi pada Indonesia.
Kalau kamu lagi cari aktivitas yang nggak cuma seru tapi juga meaningful, nonton pertunjukan tradisional seperti ini wajib masuk bucket list. Karena dari situ, kita bisa belajar bahwa identitas itu bukan cuma soal siapa kita hari ini, tapi juga apa yang sudah diwariskan sejak dulu. Sampai ketemu di cerita budaya berikutnya ya! ***


















