Hello, kebaya lovers!

PERNAH kepikiran nggak, gimana caranya tanah yang lembut dan lunak bisa berubah jadi benda keras yang bertahan puluhan ribu tahun? Jawabannya: keramik.

Keramik berasal dari tanah liat yang dibentuk, lalu dibakar pada suhu tinggi hingga menghasilkan produk yang kuat dan awet. Bahkan, keramik tercatat sebagai salah satu karya tertua manusia—sudah ada sejak lebih dari 10.000 tahun lalu. Nggak heran kalau keramik jadi teknologi penting dalam sejarah peradaban manusia.

Kalau kebaya lovers penasaran ingin melihat langsung bagaimana perjalanan keramik dari masa ke masa, jangan cuma dibayangin. Langsung aja datang ke Museum Seni Rupa dan Keramik.

Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Museum di Kota Tua dengan Sejarah Panjang

Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan ruang yang didedikasikan untuk memamerkan, merawat, dan melestarikan seni rupa serta keramik Indonesia. Museum ini diresmikan pada 20 Agustus 1976, tapi bangunannya sendiri punya riwayat panjang.

Sebelum menjadi museum, gedung ini pernah beralih fungsi menjadi kantor pengadilan Belanda, asrama militer, hingga kantor Wali Kota Jakarta. Berlokasi di Jalan Pos Kota No. 2, Jakarta Barat, museum ini berada di kawasan Kota Tua Jakarta—area yang selalu punya daya tarik tersendiri.

Menariknya, saat libur sekolah, museum ini pernah dikunjungi hingga 2.000 orang dalam satu hari. Fix, ini bukan museum yang “sepi dan membosankan”.

Piring keramik berusia ratusan tahun yang masih utuh. Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Tiket Murah, Koleksi Nggak Murahan

Dengan harga tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak dan pelajar, kebaya lovers sudah bisa menikmati beragam koleksi keramik dan lukisan bersejarah.

Salah satu koleksi ikoniknya adalah piring celadon dari Long Quan, Provinsi Zhejiang (sekarang Tiongkok), yang usianya sudah lebih dari 500 tahun. Celadon dikenal dengan warna hijau giok khas hasil proses pengglasiran. Keramik ini dibuat menggunakan mesin putar dan diperkirakan berasal dari Dinasti Ming, abad ke-15.

Kebayang nggak sih, piring itu sudah dipakai makan oleh berapa generasi manusia? Hehe.

Peninggalan kapal karam menjadi alat ilmuan memetakan jalur laut dunia. Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Keramik & Jejak Perdagangan Dunia

Kebaya lovers tahu nggak, awetnya peninggalan keramik justru membantu para peneliti memetakan jejaring peradaban Asia di masa lalu.

Dahulu, kapal adalah transportasi utama perdagangan dan eksplorasi. Diperkirakan ada sekitar 3 juta kapal karam di dasar laut dunia. Dari artefak yang ditemukan termasuk keramik, peneliti bisa membuktikan adanya interaksi antarbangsa.

Letak Nusantara yang strategis menjadikan Indonesia sebagai jalur maritim dunia, sehingga tak heran jika banyak sisa kebudayaan dari berbagai bangsa ditemukan di sini. Ternyata, peninggalan lama itu punya peran besar dalam memahami sejarah manusia ya, Kebaya Lovers.

Keramik peninggalan kapal karam. Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Lukisan Legendaris Para Maestro

Selain keramik, museum ini juga menyimpan banyak koleksi lukisan dari seniman ternama Indonesia, seperti Henk Ngantung, Raden Saleh, dan lainnya.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah karya Raden Saleh berjudul “Merapi, Eruption by Night”. Lukisan cat minyak di atas kanvas ini menghadirkan karya seni kontras yang kuat, lava merah menyala yang merepresentasikan amarah dan kekuatan Gunung Merapi, beradu dengan bulan purnama yang lembut dan tenang di langit malam.

Fun fact-nya, Raden Saleh melukis letusan Gunung Merapi pada dua waktu berbeda yakni siang dan malam hari. Raden Saleh Sjarif Boestaman sendiri dikenal sebagai pionir pelukis modern Indonesia, yang membawa pengaruh seni Eropa setelah menempuh pendidikan seni di Belanda selama satu dekade.

“Merapi, Eruption by Night” hanyalah satu dari sekian banyak karyanya yang memberi pengaruh besar bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Nah, Kebaya Lovers, kalian tahu nggak karya Raden Saleh lainnya?

Konstruksi bangunan museum dengan tangga gaya lawas. Foto: M. Taufiq Rovyansyah

 

Lukisan Merapi, Eruption by Night oleh Raden Saleh. Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Museum Bukan Sekadar Tempat Lihat-Lihat

Setiap karya seni di Museum Seni Rupa dan Keramik punya ceritanya sendiri dan rasanya nggak akan pernah habis kalau dibahas satu per satu. Cara terbaik untuk menikmatinya tentu dengan datang langsung dan merasakannya sendiri kebesaran sejarah Indonesia..

Dengan mengunjungi museum, Kebaya Lovers nggak cuma mendukung pelestarian seni dan budaya, tapi juga membuka perspektif baru tentang kekayaan kesenian Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi?

Yuk, masukin Museum Seni Rupa dan Keramik ke dalam daftar destinasi wisata kamu berikutnya. 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *