Hello Kebaya Lovers!

KALAU lagi mampir di Kota Tua jangan lupa ke Museum Wayang ya. Tempat ini bukan sekadar museum yang jadi gallery peninggalan bersejarah tempo dulu tapi sekaligus makam orang-orang Belanda yang namanya sering kamu baca di buku sejarah. 

Museum Wayang: Bekas Gereja yang Punya “Penghuni”

Di artikel yang pernah ditulis kebayastory udah pernah diulas, ada sudut yang tampak estetik di Museum Wayang yang dibangun di abad 16 ini yang  ternyata makam. Udah tau kan ya, dulunya Museum Wayang adalah gereja megah milik VOC bernama De Oude Hollandsche Kerk.

Nah, silsilah “makam di dalam museum” ini bermula dari sini. Zaman dulu, sudah jadi tradisi bagi orang Belanda kelas atas untuk dimakamkan di dalam atau di sekitar area gereja. Sayangnya, gedung gereja ini sempat hancur karena gempa bumi hebat.

Sekarang, area bekas makam tersebut sudah disulap jadi taman yang asri banget. 

Begitu masuk, kamu bakal lewat lorong dengan deretan prasasti batu yang nempel di dinding. Alih-alih seram, spot ini malah jadi favorit pengunjung buat selfie karena vibes-nya yang klasik dan vintage abis! Salah satu yang dimakamkan di sini adalah Jan Pieterszoon Coen (J.P. Coen). 

Foto: M. Taufiq Rovyansyah

Coen lahir 8 Januari 1587 di Hoorn, Belanda. Orang tuanya Pieter Willemszoon van Twisk dan Geertruida Jansdochter Mol. Masih muda banget, umur 31 tahun, dia udah duduk jadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1619–1623 dan 1627–1629). Ambisius? Banget.

Dikutip dari Kompas TV, waktu itu Coen lagi OTW ke Jakarta dari Banda, Maluku, bawa 1.100 pasukan plus 17 kapal. Setibanya di sana, dia langsung ngepung Jakarta yang saat itu dijaga pasukan Sunda-Banten sekitar 6.000–7.000 orang. Pasukan Sunda akhirnya mundur ke hutan, ninggalin 40 meriam kuningan dan 6 ton mesiu. Kebayang nggak tuh dramanya?

Menurut buku Hikayat Jakarta karya Williard A. Hanna (Yayasan Obor Indonesia, 1988), setelah berhasil masuk ke Jakarta, Coen langsung gercep: bikin blokade buat pasukan Banten dan Inggris. Lebih “berani” lagi, dia ngumumin kalau wilayah itu resmi di bawah kekuasaannya—tanpa izin atau pemberitahuan ke Sultan Banten sebagai penguasa sebelumnya. Savage move banget di zamannya.

Nggak berhenti di situ, Coen juga membangun Jakarta (yang kemudian jadi Batavia) sebagai pusat kerajaan dagang raksasa. Wilayah perdagangannya membentang dari Tanjung Harapan di Afrika Selatan sampai Jepang. Belanda pun jadi pemain utama yang memonopoli perdagangan luar. Ambisinya emang nggak main-main.

Tapi hidup Coen nggak panjang. Dia meninggal 21 September 1629 di usia 42 tahun. Ada dua versi soal kematiannya. Versi pertama bilang dia kena kolera (muntaber), penyakit yang waktu itu sering banget muncul karena sanitasi Jakarta yang buruk. Versi kedua menyebut dia tewas akibat serangan pasukan Sultan Agung dari Mataram tahun 1629.

Bahkan ada yang percaya Coen meninggal karena wabah kolera yang sengaja disebarkan pasukan Mataram lewat Sungai Ciliwung setelah Serangan Besar di Batavia tahun 1628. Jadi, misterinya masih jadi bahan cerita sejarah sampai sekarang.

Buat mengenang Coen, pemerintah kolonial Belanda sempat bikin monumen dan patungnya tahun 1869, pas 250 tahun Batavia. Patung itu berdiri gagah dengan pose telunjuk menunjuk ke depan, lengkap sama mottonya yang terkenal: Dispereert Niet (pantang putus asa). Lokasinya dulu di depan Gedung Putih—sekarang jadi Gedung Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Tapi saat pendudukan Jepang, tepatnya 7 Maret 1943, patung itu digusur dan dihancurkan.

Nah, Kebaya Lovers! Dari kisah ini kita bisa lihat, sejarah tuh selalu punya pesan. Kekuasaan yang dijalankan dengan arogan dan penuh ambisi tanpa batas, ujung-ujungnya nggak bakal bertahan lama.

Sebenarnya, nisan-nisan ini sekarang lebih berfungsi sebagai petilasan. Artinya, jenazahnya sudah dipindahkan ke tempat lain (seperti Prasasti Kebon Jahe), tapi batu nisannya tetap dipertahankan di situ sebagai bukti sejarah kalau mereka pernah dimakamkan di sana.

Dari Makam ke Galeri Budaya Dunia

Meskipun punya sejarah makam yang kuat, Museum Wayang tetap jadi tempat yang asyik buat belajar budaya. Koleksinya nggak cuma Wayang Kulit yang punya silsilah keluarga lengkap kayak manusia, tapi ada juga:

  • Wayang Suket (yang terbuat dari rumput).
  • Boneka Si Unyil (nostalgia banget!).
  • Koleksi Internasional: Ada boneka dari India, Tiongkok, hingga negara-negara Eropa yang pakai baju tradisional negara asalnya.

“Museum Wayang membuktikan kalau sejarah yang ‘berat’ dan ‘tua’ bisa dikemas jadi tempat yang tetap relevan buat anak muda.”

Jadi, buat kalian yang mau cari konten unik buat feed Instagram sambil belajar sejarah Jakarta, Museum Wayang wajib masuk bucket list weekend ini! Nggak usah takut sama nisannya, karena itu adalah saksi bisu perjalanan kota kita tercinta.

Tertarik buat mampir ke sini bareng bestie kamu? Kalau kamu mau, aku bisa bantu buatkan rekomendasi rute transportasi umum menuju Kota Tua!

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *