Hello Kebaya Lovers!

KETIKA kebayastory.com berkunjung ke Museum Basoeki Abdullah, Minggu (23/8/2026) seperti mengingat kisah tragis sang maestro seni lukis Indonesia yang wafat pada Jumat 5 November 1993. Basoeki meninggal di kediamannya, Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan, terbunuh oleh perampok yang menyatroni rumahnya dini hari. Perampokan ini melibatkan empat orang pelaku yang didalangi tukang kebun Basoeki sendiri.

Saat kejadian, perampok masuk kamar hendak mengambil barang berharga seperti uang dan koleksi jam tangan, namun sempat dipergoki Basoeki. Pelaku kemudian memukul kepala Basoeki hingga tersungkur, berdarah dan ditemukan meninggal dunia pagi keesokan harinya. Duniapun geger, seniman kondang yang namanya dikenal di luar negeri karena melukis banyak tokoh terkemuka ini berpulang dengan cara tragis.

Kebaya Lovers, lokasi Museum Basoeki Abdullah adalah rumah Basoeki yang memiliki luas 600 m2. Bangunan ini akhirnya dihibahkan kepada negara di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Kebudayaan cq. Direktorat Permuseuman. Pada tanggal 25 September 2001 Museum Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, selanjutnya pada 29 November 2016 pemerintah meresmikan bangunan baru ataugedung II yang terletak di sebelah rumah Basoeki sebagai bagian dari pengembangan museum.

120 Koleksi Karya Basoeki Abdullah

Siang itu saya bertemu dua siswa SMK 47 Pejaten, Jakarta Selatan jurusan broadcasting, Aura dan Toni. Mereka terlihat antusias mengamati koleksi Museum Basoeki Abdullah yang terdiri dari lukisan dan koleksi pribadi berupa patung, topeng, wayang, senjata, buku-buku yang ditempatkan dalam satu ruangan perpustakaan.

Dua siswa SMK 47 Pejaten, Aura dan Toni, terlihat antusias mengamati koleksi Museum Basoeki Abdullah. Kunjungan mereka sekaligus menjadi bagian dari tugas sekolah untuk membuat laporan tentang museum. Foto: Elvy Yusanti

Sesekali mereka berdiskusi, mencatat dan memotret lukisan sang maestro sambil mengelilingi ruangan. “Kami dapat tugas dari sekolah membuat laporan kunjungan ke museum ini,” kata Aura yang mengaku kagum dengan karya-karya Basoeki yang seperti foto asli.

“Saya paling suka lukisan tokoh Gerakan Non Blok. Bagus banget, seperti foto orang beneran,” kata Toni.

Lukisan Basoeki dipajang di lantai 1 dan lantai 2 gedung. Sebagian besar adalah lukisan tokoh nasional seperti Soekarno – Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, dan masih banyak lagi. Ada juga lukisan Mahatma Gandhi, Mahathir Mohammad dan tokoh Gerakan Non Blok yang dilukis pada tahun 1992.

 

Salah satu koleksi Museum Basoeki Abdullah yang menarik perhatian adalah lukisan tokoh-tokoh nasional dan dunia. Goresannya begitu detail hingga terlihat seperti foto asli. Foto: Elvy Yusanti

 

Basoeki juga kerap melukis tokoh-tokoh perempuan seperti Ibu Tien Soeharto, astronot Pratiwi Sudharmono, Dewi Soekarno, Ratu Juliana dan Ratu Sirikit dari Thailand pada tahun 1960 atas permintaan sang ratu untuk dilukis bersama Raja Bhumibol Adulyadej. Basoeki juga mengabadikan potret sang isteri Nataya Nararet dan anak perempuannya Cecilia Sidhawati. Lukisan Basoeki bukan hanya para tokoh tetapi juga pemandangan alam, flora dan fauna.

“Jumlah karya Pak Basoeki di museum ini sekitar 120 lukisan yang terawat dengan baik,” kata Humas Museum Basoeki Abdullah, Fadhil ketika ditemui kebayastory.com, Minggu (23/8/2026).

Oiya Kebaya Lovers, lukisan Basoeki Abdullah yang terkenal adalah Nyai Roro Kidul dan Pangeran Diponegoro yang sedang mengendarai kuda. Karya ini dianggap luar biasa karena digambarkan sangat hidup. Lukisan karya Basoeki Abdullah mengarah ke aliran realisme dan naturalisme yang terlihat sangat mirip dengan aslinya, seperti bentuk tubuh manusia, pemandangan alam, dan wajah tokoh.

Prof. Dr Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia dalam bukunya, “Lukisan Basoeki Abdoellah. Tema Dongeng, Legenda, Mitos dan Tokoh” yang diterbitkan Museum Basoeki Abdullah tahun 2009 menilai, karya Basoeki Abdullah merepresentasikan nilai-nilai perjuangan, kondisi sosial, serta aspek kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Agus, Basoeki melakukan penggambaran visual yang kuat, karya-karya tersebut mencerminkan berbagai peristiwa dan dinamika kehidupan yang sarat makna historis dan moral. “Seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai media estetika, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan dan refleksi sosial,” tulis Agus.

Ranjang Terakhir Sang Maestro

Basoeki lahir di Sriwedari, Surakarta, pada 27 Januari 1915. Bakat melukisnya diturunksn dari sang ayah, Raden Abdullah Suryosubroto, pelukis naturalis terkenal pada awal abad ke-20. Ibunya adalah Raden Ayu Sukarsih seorang pembatik dan kakaknya, Sudjono Abdullah, adalah pelukis panorama. Raden Abdullah adalah juga putra perintis pergerakan nasional Indonesia Dokter Wahidin Sudirohusodo.

Tak hanya karya seni, Museum Basoeki Abdullah juga menyimpan kamar dan ranjang yang digunakan sang maestro hingga akhir hayatnya. Ruang ini menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian pengunjung. Foto: Elvy Yusanti

Yang menarik di Museum Basoeki Abdullah, pengunjung bisa menyaksikan kamar dan ranjang Basoeki yang ia tempati sampai dia ditemukan wafat terbunuh oleh perampok. Di kamar inilah Basoeki menghabiskan waktunya untuk berkarya dan juga berdoa. Museum ini juga memajang koleksi pakaian Basoeki, termasuk piyama yang terakhir ia kenakan saat meninggal dunia.

Kebaya Lovers, jika kalian punya rencana berkunjung ke Museum Basoeki Abdullah dan ingin merasakan kedekatan dengan karya-karyanya, bisa datang pada Selasa – Minggu pukul 08:00 hingga 17:00 wib. Kalian cukup merogoh kocek Rp 5.000 per orang untuk umum, pelajar/mahasiswa Rp 3.000 dan WNA Rp 25.000. Lokasinya gampang dijangkau lho. Jika kalian menggunakan transportasi umum, Museum Basoeki Abdullah tak jauh dari Stasiun MRT Fatmawati. Dijamin kalian dapat banyak pengetahuan jika berkunjung kesana. ***

Basoeki Abdullah telah tiada, tapi jejak karyanya abadi. Foto: Elvy Yusanti

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *