
Hello Kebaya Lovers!
BEBERAPA minggu terakhir, buku memoar berjudul Broken Strings yang ditulis oleh aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans lagi viral banget di media sosial. Kenapa? Karena ia berani buka-bukaan tentang pengalaman pahitnya jadi korban child grooming di usia remaja, hal yang sering banget terjadi di sekitar kita tapi jarang dibahas secara jujur dan blak-blakan.
Apa sih Child Grooming Itu?
Kebaya Lovers, child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan orang dewasa untuk membangun ikatan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan mengendalikan dan mengeksploitasi mereka, termasuk eksploitasi seksual. Manipulasinya bisa halus dan berlapis, bukan cuma hitungan hari, tapi bisa berbulan-bulan sampai korban nggak sadar sudah terjerat.
Dengan kata lain, ini bukan sekadar hubungan biasa, tapi hubungan yang dibentuk dengan niat tidak sehat dan memanfaatkan ketidaksiapan emosional korban.
Dari Perhatian Jadi Luka: Cerita Aurelie
Di Broken Strings, Aurelie menceritakan bahwa saat ia masih 15 tahun, ia bertemu dengan seorang pria dewasa yang kemudian secara perlahan mengendalikan hidupnya. Awalnya datang sebagai sosok yang perhatian dan terlihat “baik”, tapi lama-lama berubah jadi kontrol emosional, manipulasi psikologis, bahkan menjerumuskannya dalam hubungan yang tidak sehat.
Parahnya lagi, hubungan itu sempat berujung pada pernikahan tidak sah saat ia masih di bawah umur. Tentu ini sebuah pengalaman traumatis yang sampai sekarang masih meninggalkan bekas di hidupnya sebagai orang dewasa.
Aurelie menulis kisah ini tanpa romantisasi, bukan buat mencari perhatian atau drama, tapi untuk nyuarain pengalaman nyata dari sudut pandang korban yang sering kali suaranya dibungkam.
Ciri-Ciri Grooming yang Harus Kita Tahu
Kebaya Lovers, Psikolog Joice Manurung dalam acara No Rumpi No Secret Trans TV mengatakan, pelaku child grooming biasanya direncanakan dan insidious atau licik/tersembunyi dan terselubung dengan memberikan perhatian, bantuan atau perlindungan. “Sehingga sikap pelaku dimaknai sebagai hal positif, membangun rasa percaya dan aman pada anak,” paparnya.
Setelah itu, tambah Joice, pelaku mendapatkan kepercayaan dan kontrol dari sang anak dan keluarganya. “Dia punya akses dan otoritas pada anak dan bebas melakukan manipulasi,” kata Joice.
Nah, Kebaya Lovers harus tau, berdasarkan pembahasan yang muncul setelah buku ini viral, beberapa tanda child grooming itu antara lain:
- Pelaku perlahan membangun kepercayaan dengan memberi perhatian berlebihan atau hadiah.
- Mereka membuat korban merasa “spesial” sehingga tergantung secara emosional.
- Seringkali pelaku berusaha mendekati keluarga dan lingkungan korban untuk menurunkan kecurigaan.
- Lama-lama korban dijauhkan dari orang-orang terdekat dan dibentuk buat merasa hanya pelaku yang “mengerti” dirinya.
Intinya, grooming nggak selalu langsung kasar secara fisik, tapi seringkali halus, perlahan, dan bikin korban ngerasa sendirian tanpa sadar.
Kenapa Kisah Ini Penting Banget Dibahas?
Banyak dari kita mungkin mikir, “Ah masa sih hal kayak gitu bisa kejadian?” Padahal realitanya grooming bisa terjadi pada siapapun, bahkan yang kelihatannya pinter, kuat, dan dikelilingi orang yang sayang. Cerita Aurelie jadi bukti bahwa predator sering berkamuflase jadi orang yang perhatian dan peduli duluan.
Melalui buku ini, Aurelie juga berharap:
- Kisahnya bisa jadi kekuatan buat orang yang pernah mengalami hal serupa.
- Edukasi soal grooming makin nyebar luas.
- Semoga tidak ada korban lain lagi.
Orang Tua dan Lingkungan Harus Lebih Aware
Kesadaran soal child grooming bukan cuma tugas korban atau ahli psikologi, ini tugas kita semua: keluarga, teman, sampai lingkungan sekolah dan komunitas. Kita harus mulai terbuka ngomongin batasan dalam hubungan, tanda manipulasi, serta pentingnya dukungan emosional sejak dini buat anak dan remaja.
Karena sejatinya, melindungi anak itu bukan cuma soal fisik, tapi juga soal kesehatan emosional dan psikologis mereka. Broken Strings bukan sekadar buku tapi ini jadi alarm buat kita semua buat bersikap lebih peka dan nggak anggap remeh tanda-tanda hubungan yang nggak sehat. Semoga setelah ini, kita bisa lebih aware, lebih peduli, dan memang benar-benar jadi generasi yang nggak cuma nonton, tapi bertindak. ***












