Hello Kebaya Lovers!

KEBAYANG nggak sih, bangun pagi, buka pintu rumah, terus yang kelihatan langsung barisan gunung kece kayak Gunung Sindoro, Merbabu, sama Andong?

Nah, kurang lebih begitu rasanya ketika saya menginap di rumah Mas Sofyan di Tegalsari, RT 03 RW 05, Bansari, Temanggung. Saya kenal Mas Sofyan saat ia menjadi ajudan Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq (periode 2018–2023).

Pagi itu, Jumat (26/12/2025), saya, suami dan anak saya bareng Mas Sofyan, Mbak Greni (istrinya), dan Icha (anaknya) berangkat jalan kaki ke Embung Bansari yang jaraknya cuma 2,2 km aja! Deket? Iya. Tapi karena jalannya nanjak terus, rasanya kayak 10 km. Hahaha.

Kalau cuaca lagi cerah, dari Embung Bansari kamu bisa lihat tujuh gunung sekaligus — Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, sampai Ungaran.

Sayangnya waktu itu lagi mendung, jadi yang kelihatan paling jelas cuma Gunung Sumbing. Sisanya malu-malu ketutup awan putih. Tapi justru itu yang bikin suasananya berasa banget kayak lagi jalan di atas awan.

Embung Bansari disebut-sebut sebagai embung tertinggi dan terbaik se–Jawa Tengah! Luasnya sekitar 1,5 hektare, dan airnya dipakai untuk irigasi 100 hektare lahan pertanian.

Apa Sih Embung Bansari Itu?

Embung Bansari berada di Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, di ketinggian sekitar 1.300–1.400 mdpl. Awalnya, embung ini dibangun sebagai tampungan air hujan untuk irigasi pertanian. Tapi karena pemandangannya secantik itu, akhirnya dikembangkan juga menjadi destinasi wisata.

Di sekeliling embung, kamu bakal lihat hamparan tanaman kol/kobis, jagung, cabai dan kopi

“Kalau tanaman kopi baru-baru aja ditanam di sekitar Embung Bansari. Sebagian besar lahan masih ditanami jagung, kol, atau cabai,” cerita Mas Sofyan.

Embung ini dibangun tahun 2019, lalu mulai dikembangkan sebagai tempat wisata pada 2020. Puncaknya, Desember 2021, Embung Bansari dieresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Dan FYI, Embung Bansari disebut-sebut sebagai embung tertinggi dan terbaik se–Jawa Tengah! Luasnya sekitar 1,5 hektare, dan airnya dipakai untuk irigasi 100 hektare lahan pertanian.

Selain itu, tempat ini juga jadi spot wisata kece untuk camping, campervan, travelling santai dan  edukasi pertanian Bahkan pernah jadi lokasi program nasional seperti Food Estate Hortikultura dan Kawasan Terpadu Nusantara. Jadi bukan cuma indah, tapi juga bermanfaat banget buat masyarakat lokal.

Temanggung selain indah, tanang, udaranya sejuk dan masyarakatnya ramah. Jadi  betah berlama-lama di sini.

Perjalanan ke Embung: Capek? Iya. Worth It? Banget!

Begitu sampai di Desa Bansari, hal pertama yang menyambut adalah udara dingin yang super seger. Beda banget sama udara kota.

Perjalanan menuju embung memakan waktu sekitar 1 jam jalan kaki. Nggak jauh sih, tapi medannya nanjak terus, jadi siap-siap ngos-ngosan ya! Hehe.

Kalau nggak mau capek, tenang — ada juga ojek atau angkutan sewaan buat naik ke area embung. Begitu sampai di atas, semua lelah langsung hilang. Yang kelihatan di depan mata langit luas, gunung berjejer, hamparan kebun, permukaan embung yang tenang plus banyak ikan berenang. Seru banget, karena kamu juga bisa kasih makan ikan dengan membeli pakan seharga Rp5.000.

Kenapa Embung Bansari Spesial?

Embung Bansari bukan cuma soal pemandangan gunung yang cakep, tapi juga udara dingin yang bikin rileks, keramahan warga desa dan suasana yang hangat.  Apalagi saya punya privilege nginep di rumah Mas Sofyan yang super dekat dari embung, rasanya kayak jadi warga lokal sehari. Bahagia banget!

Kalau kamu lagi ke Temanggung, jangan cuma lewat. Mainlah ke Embung Bansari. Biar kamu tahu rasanya berdiri di antara awan yang cantik. ***

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *