
Hello Kebaya Lovers!
AGE is just a number. Usia yang telah kita lewati tak berarti membatasi semangat, mimpi, kemampuan, atau cara kita menjalani hidup. Itulah yang bisa kita pelajari dari Katsuko Hosoya, fotografer bawah laut asal Jepang yang kini berusia 81 tahun.
Di usianya yang tak muda lagi, perempuan kelahiran Tokyo, 1945, ini memantapkan diri menjadi fotografer bawah laut yang menghasilkan gambar-gambar yang tak hanya indah, tetapi juga fantastis.
Katsuko menggelar pameran di Cemara 6 Galeri, Jakarta, bertajuk Living Jewels of the Nusantara Seas pada 22 Oktober hingga 8 November 2026. Pameran ini menampilkan 52 karya fotografi, salah satunya hasil perjalanan bawah lautnya ke Tulamben, Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, dan Pulau Komodo.
Memiliki latar belakang pekerjaan di bidang akuntansi pajak dan properti, Katsuko mengawali hobi fotografinya dari sekadar memotret bunga dan tumbuhan. Titik awal ketertarikannya terhadap fotografi bawah laut bermula saat mengunjungi perairan Honolulu, Hawaii, pada 2005, ketika berusia 60 tahun. Ia kemudian mendalami fotografi bawah laut dan rutin menyelam bersama komunitas dua sampai tiga kali dalam setahun.
Sejak 2014, Katsuko telah menerbitkan sejumlah buku foto makro bawah laut. Buku-buku tersebut antara lain bertajuk Jewels of the Sea: Reproduction (2020), The Mysterious World of Tunicates (2021), dan Jewels of Indonesian Seas (2026). Pameran tunggalnya di Cemara 6 Galeri merupakan bentuk penyajian lain dari foto-foto dalam buku terakhirnya.

Sebagai anggota Japan Professional Photographers Society (JPS), sebuah platform fotografi yang didirikan di Tokyo pada 1950, Katsuko telah lebih dari 60 kali mengunjungi perairan Nusantara dalam 20 tahun terakhir. Meski telah berusia 81 tahun, Katsuko senang melakukan kegiatan ekstrem, mengabadikan kehidupan bawah laut di perairan berbagai negara.
Pameran Living Jewels of the Nusantara Seas menyajikan hasil jepretan Katsuko dalam buku terakhirnya, beserta cerita di balik tiap-tiap foto yang diabadikan di perairan Tulamben, Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, dan Pulau Komodo.
“Tulamben adalah salah satu tempat favorit saya. Hamparan pasir gelap di sana memudahkan untuk bisa memotret biota laut bahkan yang ukurannya sangat kecil,” kata Katsuko dalam jumpa pers, Kamis (22/10/2026).
Bukan Foto Ikan atau Kura-kura
Kebaya Lovers, jangan berpikir fotografi bawah laut ala Katsuko itu memotret ikan ataupun kura-kura, ya. Lho, kok? Ya, objek yang dijadikan Katsuko sebagai pemeran utama dalam karyanya bukanlah ikan atau makhluk hidup yang biasa kita kenal. Biota seperti tunikata, nudibranch, dan lainnya lah menjadi pusat perhatian Katsuko dalam karyanya.

Makhluk-makhluk ini berukuran mungil, mulai dari 10 sentimeter hingga hanya 3 milimeter.
Katsuko mengagumi makhluk-makhluk ini karena meskipun usia mereka tidak panjang, hanya sekitar satu tahun, mereka memiliki daya juang hidup yang kuat.
Seperti dalam salah satu foto, terlihat seekor induk udang sedang membawa telur-telurnya sambil berenang untuk memberikan suplai oksigen yang cukup. Untuk bisa mendapatkan foto-foto ini, tentulah ada rintangan yang perlu dilewati Katsuko. Ia harus menyelam di kedalaman 20 hingga 30 meter.

Selain harus membawa peralatan untuk menyelam dan memotret seberat 12 kilogram, ukuran objek yang sangat kecil juga memberikan tantangan tersendiri. Oiya, satu lagi, Katsuko sendiri juga sudah berusia lanjut. Namun, semuanya terbayar saat menyaksikan foto-foto hasil jepretannya. Keren banget, ya, Kebaya Lovers!

Acara pembukaan pameran Living Jewels of the Nusantara Seas dihadiri Konsul Jenderal Jepang di Denpasar Miyakawa Katsutoshi, Duta Besar Belanda Marc Gerritsen, hingga Oscar Motuloh selaku kurator pameran ini.
“Fotografi makro bawah laut adalah sebentuk aliran dalam fotografi dengan handicap khusus,” demikian kurator Oscar Motuloh menyampaikan. “Teknik ini,” lanjutnya, “memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, yang membutuhkan disiplin dan konsentrasi penuh.”
“Kita berutang mata pada Katsuko karena melalui foto-fotonya bisa menyaksikan kekayaan alam bawah laut Indonesia yang sebelumnya mungkin belum kita ketahui,” kata Oscar.
Selain sebagai sebuah pameran seni, acara ini juga menjadi wadah untuk merekatkan hubungan diplomasi negara-negara yang terlibat. Jadi, kalau Kebaya Lovers tertarik melihat berbagai kehidupan bawah laut dari makhluk-makhluk yang belum pernah dikenal sebelumnya, bisa banget mengunjungi pameran ini.***

























