
Hello, Kebaya Lovers!
KASUS bullying di Indonesia masih terus terjadi. Bukan hanya meninggalkan luka fisik, perundungan juga dapat berdampak pada kesehatan mental anak, menurunkan rasa percaya diri, bahkan memengaruhi kehidupan mereka hingga dewasa.
Ironisnya, bullying masih kerap dianggap sebagai “cuma bercanda”. Persoalan lain yang juga sering muncul adalah penolakan dari orang tua ketika anaknya diduga menjadi pelaku.
Psikolog klinis Vera Itabiliana menjelaskan, salah satu persoalan yang kerap muncul ketika kasus bullying terungkap adalah orang tua pelaku yang sulit percaya bahwa anaknya melakukan perundungan.
“Orang tua pelaku sering mengatakan anaknya baik dan bersikap manis. Mereka tidak percaya bahwa anaknya bisa melakukan bullying,” ujar Vera dalam obrolan bersama Sabrina Anggraini di kanal YouTube Boss Mama.
Kenali Ciri-Ciri Bullying
Menurut Vera, setidaknya terdapat tiga karakteristik utama dalam bullying. Pertama, ada niat atau kesengajaan untuk menyakiti, mengintimidasi, mengancam, atau menguasai orang lain.
Kedua, terdapat ketimpangan kekuatan atau power antara pelaku dan korban. Pelaku merasa memiliki posisi yang lebih kuat sehingga korban kesulitan untuk melawan atau membela diri.
Ketiga, perilaku tersebut berpotensi dilakukan secara berulang. Bullying juga memiliki banyak bentuk dan tidak semuanya meninggalkan luka yang terlihat.
Pada bullying secara fisik, kata Vera, tanda-tandanya dapat berupa luka, cedera, pakaian kotor atau robek, hingga barang milik anak yang rusak.
Namun, perundungan juga dapat terjadi secara verbal, mental, relasional, hingga melalui dunia digital.
“Seorang anak bisa saja tidak pernah dipukul, tetapi dikucilkan dari kelompok pertemanan, tidak diundang dalam kegiatan, dipermalukan dalam percakapan grup, atau menjadi sasaran cyberbullying,” ungkap Vera.
Perlu Perhatian Banyak Pihak
Pemerhati anak dan keluarga, Zulharoh Ancanawati, mengingatkan bahwa menanggulangi bullying bukan hanya tugas sekolah. Orang tua, guru, teman sebaya, hingga masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Menurut Ancanawati, pencegahan bullying dapat dimulai dari rumah. Orang tua perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak sejak dini. Anak harus merasa bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
“Biasakan komunikasi dua arah. Jadilah pendengar yang baik. Orang tua juga harus terus belajar dan tidak merasa selalu paling benar,” katanya kepada kebayastory, Selasa (18/8/2026).
Selain keluarga, sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam mencegah bullying. Menurut Ancanawati, guru harus segera bertindak ketika mengetahui adanya kasus perundungan.
Sekolah juga perlu memiliki laporan dan bukti yang jelas serta mempertemukan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, tanpa terburu-buru memberikan cap negatif kepada anak.
“Guru harus tegas, tetapi jangan mudah menghakimi. Yang dibutuhkan adalah komunikasi dan kerja sama agar masalah bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menilai budaya saling menghormati harus dibangun melalui keteladanan, bukan sekadar slogan yang ditempel di dinding sekolah.
“Disiplin, toleransi, saling menghargai, dan kasih sayang harus menjadi budaya sehari-hari di sekolah,” tambahnya.
Ancanawati juga mengingatkan pentingnya peran saksi atau teman korban bullying. Ketika melihat ada teman yang menjadi korban bullying, jangan memilih diam.
Anak-anak perlu diajarkan untuk memiliki empati, berani melapor kepada guru, serta memberikan dukungan kepada temannya yang menjadi korban.
“Solidaritas dalam kebaikan sangat penting. Jangan menjadi penonton ketika melihat teman disakiti,” katanya.
Mengajarkan Empati Sejak Dini
Vera berpendapat, kemampuan berempati merupakan salah satu bekal penting untuk mencegah bullying.
Pada usia di bawah lima tahun, perilaku anak belum tentu dapat langsung disebut sebagai bullying. Pada tahap tersebut, anak masih belajar memahami mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang dapat menyakiti orang lain.
Memasuki sekitar usia enam tahun, pemahaman anak mengenai perilaku yang menyakiti orang lain biasanya semakin berkembang. Karena itu, orang tua dapat mulai memperkuat empati melalui buku cerita, permainan peran, maupun simulasi sederhana.
Anak dapat diajak membayangkan bagaimana perasaan orang lain ketika diperlakukan dengan cara tertentu.
“Ketika anak melihat seseorang yang berbeda, misalnya dari sisi penampilan, kondisi ekonomi, agama, atau latar belakang lainnya, orang tua juga dapat memberikan contoh bagaimana menghargai perbedaan,” kata Vera.
Menurutnya, anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Membawa anak mengunjungi panti asuhan, berbagi dengan orang lain, atau mengajak mereka memperhatikan perasaan orang yang sedang mengalami kesulitan dapat menjadi pengalaman untuk mengasah empati.
“Perlakukan anak dengan empati. Anak yang terbiasa dihargai akan belajar menerapkan hal yang sama kepada orang lain,” kata Vera.
Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sedikitnya 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan terjadi hanya dalam kurun waktu Januari hingga Maret tahun 2026.
Dikutip dari website Ombudsman RI, masalah bullying menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus perundungan tertinggi di dunia pendidikan sehingga kasus bullying telah menjadi darurat sosial di Indonesia. Wahh sedih dan miris ya Kebaya Lovers! ***















