
Hello Kebaya Lovers!
GAYA hidup sehat kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Salah satu cara paling sederhana untuk memulainya adalah berjalan kaki. Selain menyehatkan tubuh, aktivitas ini juga memberi kesempatan untuk menikmati suasana sekitar, menemukan tempat baru, atau bahkan bernostalgia dengan tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.
Nah, kali ini saya memilih Tebet Eco Park (TEP), sebuah taman kota di Jakarta Selatan yang menawarkan ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Pagi itu, saya memulai perjalanan dari Stasiun Cawang. Dari sana, saya berjalan kaki sekitar 800 meter menuju Tebet Eco Park. Lumayan untuk pemanasan sebelum mulai menjelajahi taman yang luasnya sekitar 7,3 hektare ini.
Begitu memasuki kawasan taman, suasana terasa berbeda. Udara pagi yang sejuk, pepohonan rindang, dan hamparan ruang hijau membuat langkah terasa lebih ringan. Rasanya menyenangkan bisa menikmati suasana seperti ini di tengah Jakarta yang identik dengan kemacetan dan kesibukan.
Oh ya, sebelumnya saya sempat mencari informasi dan bersiap melakukan registrasi melalui aplikasi JAKI. Ternyata, menurut petugas kebersihan yang saya temui, pengunjung kini bisa langsung masuk tanpa registrasi.
“Sekarang pengunjung bebas masuk, nggak perlu registrasi,” katanya.
Wah, makin praktis, ya! Jadi, siapa pun bisa datang untuk berjalan kaki, berolahraga, atau sekadar menikmati suasana taman.
Menyusuri Jembatan Ikonik Tebet Eco Park
Salah satu daya tarik Tebet Eco Park yang langsung mencuri perhatian adalah Infinity Link Bridge, jembatan berwarna oranye yang terlihat mencolok di antara hijaunya pepohonan.

Jembatan ini menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berjalan kaki sekaligus menikmati pemandangan taman dari ketinggian. Desainnya yang melengkung dan menyerupai angka delapan membuatnya terlihat unik dan estetik. Tak heran jika banyak orang tertarik mengabadikan momen di sini.
Infinity Link Bridge menghubungkan Taman Tebet Utara dan Taman Tebet Selatan yang sebelumnya terpisah oleh Jalan Tebet Timur Raya. Dengan panjang sekitar 800 meter dan ketinggian kurang lebih enam meter, jembatan ini memungkinkan pengunjung menikmati kawasan taman dari sudut pandang yang berbeda.
Menariknya, desain jembatan ini terinspirasi oleh bentuk batang pohon leda (Eucalyptus deglupta), yang dikenal memiliki kulit batang dengan perpaduan warna menyerupai pelangi.
Pohon leda sendiri menjadi salah satu tanaman ikonik Tebet Eco Park. Warna batangnya yang eksotis, mulai dari jingga, merah, hingga keunguan, menjadi inspirasi bagi desain dan warna jembatan ini.
Sambil berjalan menyusuri jembatan, saya menikmati suasana taman dari atas. Pepohonan yang tumbuh di sekitarnya membuat pemandangan terasa asri. Sesekali, kita bisa berhenti untuk mengambil foto atau sekadar menikmati suasana tanpa perlu terburu-buru.
Buat Kebaya Lovers yang senang jalan kaki, tempat ini bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di pagi hari. Selain berolahraga, kita juga bisa menikmati ruang hijau yang memberikan jeda dari rutinitas sehari-hari.
Bukan Sekadar Taman untuk Olahraga
Tebet Eco Park ternyata bukan hanya tempat untuk berjalan kaki atau berfoto. Taman ini dirancang sebagai ruang publik yang memadukan fungsi ekologi, edukasi, rekreasi, dan interaksi sosial.

Di bagian taman, saya melihat area yang bisa digunakan untuk kegiatan olahraga bersama. Sejumlah ibu-ibu tampak bersemangat mengikuti senam dengan iringan musik. Gerakan mereka kompak, sesekali mengikuti irama dengan penuh antusias.
Melihat suasana itu, saya jadi berpikir bahwa taman kota memang punya peran lebih besar daripada sekadar menyediakan tempat untuk bersantai. Taman bisa menjadi ruang pertemuan bagi warga, tempat membangun kebiasaan hidup sehat, sekaligus sarana mempererat hubungan sosial.
Apalagi, suasana hijau dan pepohonan rindang membuat kegiatan di luar ruangan terasa lebih menyenangkan.

Yang juga menarik, revitalisasi Tebet Eco Park tidak semata-mata berfokus pada penataan taman agar terlihat cantik. Kawasan ini dirancang dengan memperhatikan keberlangsungan ekosistem yang sudah ada. Pepohonan yang tumbuh sejak lama dipertahankan semaksimal mungkin, sementara unsur alam seperti sungai dan lahan basah atau wetland turut mendukung fungsi ekologis taman.
Jadi, saat kita berjalan di antara pepohonan atau melintasi jembatan oranye itu, ada proses panjang di balik ruang hijau yang kita nikmati.
Bagi saya, taman seperti ini mengingatkan bahwa kota yang nyaman bukan hanya tentang gedung tinggi, jalan lebar, atau pusat perbelanjaan. Ruang hijau yang mudah diakses juga menjadi bagian penting dari kualitas hidup masyarakat.
Tebet, Tempat yang Menyimpan Cerita
Ada alasan lain mengapa perjalanan pagi itu terasa istimewa bagi saya. Tebet bukan kawasan yang asing. Saya pernah tinggal di sini selama sekitar tiga tahun, ketika masih aktif bekerja sebagai wartawan.
Tahun 1999, kantor menugaskan saya untuk meliput kegiatan di Istana Negara. Saat itu, dinamika politik nasional sedang tinggi-tingginya, terutama pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Jadwal liputan bisa berubah sewaktu-waktu. Kadang, ada agenda penting yang harus segera diliput, sehingga jarak tempat tinggal menjadi pertimbangan tersendiri.
Sebelumnya, saya tinggal di Tangerang. Untuk mendukung mobilitas pekerjaan, akhirnya saya memilih tinggal di Tebet agar lebih mudah menjangkau lokasi liputan di kawasan pusat Jakarta.

Nah, setelah selesai menikmati Tebet Eco Park, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Stasiun Tebet. Perjalanan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat kembali kawasan yang pernah saya tinggali.
Beberapa sudut jalan masih terasa akrab, tetapi ada pula yang sudah banyak berubah. Saya sempat melewati rumah lama yang pernah menjadi tempat tinggal. Melihatnya kembali setelah sekian lama menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada nostalgia, ada rasa penasaran, sekaligus kesadaran bahwa waktu memang mengubah banyak hal.
Rumah dan lingkungan yang dahulu menjadi bagian dari keseharian kini memiliki wajah berbeda. Sementara itu, kenangan tentang masa-masa sibuk mengejar berita, berpindah dari satu agenda ke agenda lain, masih tersimpan di kepala.
Lucunya, perjalanan yang awalnya diniatkan untuk olahraga justru membawa saya kembali ke potongan cerita dari masa lalu.
Bertemu Mbak Inem, Penjual Jamu yang Suka Bernyanyi
Dalam perjalanan menuju Stasiun Tebet, saya juga menemukan kejutan kecil lainnya.
Di depan Pasar PSPT Tebet, saya bertemu Mbak Inem, penjual jamu yang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak. Ia menjual aneka jamu tradisional, seperti beras kencur dan kunyit asam.

Yang membuat saya tertarik bukan hanya jamu-jamu yang dijualnya, tetapi juga caranya menawarkan dagangan sambil menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa.
Wah, ada hiburan gratis di tengah perjalanan!
Saya pun menyempatkan diri berbincang dengannya. Ketika ditanya mengapa suka bernyanyi sambil berjualan, Mbak Inem menjawab santai.
“Iseng aja sih, saya emang suka nyanyi, hehehe,” katanya.
Jawaban sederhana itu membuat saya tersenyum. Di tengah perjalanan kaki yang cukup panjang, pertemuan singkat seperti ini justru menjadi bagian yang menyenangkan. Kita bisa menemukan cerita dari orang-orang yang menjalani kesehariannya dengan cara masing-masing.
Tebet ternyata bukan hanya tentang taman hijau dan bangunan yang berubah. Ada pula kehidupan warga, pasar, pedagang, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat kawasan ini tetap punya karakter.
Jalan Kaki, Menemukan Cerita Baru
Perjalanan pagi itu mengingatkan saya bahwa berjalan kaki bisa memberikan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar membakar kalori.
Kita bisa menikmati ruang hijau, melihat kehidupan masyarakat, menemukan tempat yang sebelumnya belum pernah disinggahi, atau kembali mengunjungi lokasi yang menyimpan kenangan.
Tebet Eco Park sendiri menawarkan alasan yang cukup kuat untuk dikunjungi. Ada pepohonan rindang, jalur pejalan kaki, Infinity Link Bridge yang ikonik, serta ruang terbuka untuk berolahraga dan berinteraksi.
Buat Kebaya Lovers yang ingin mencoba kegiatan sederhana untuk menjaga kebugaran, berjalan kaki di taman kota bisa menjadi pilihan. Tidak harus selalu mengejar jarak atau kecepatan. Sesekali, nikmati saja perjalanan, perhatikan lingkungan sekitar, dan beri waktu untuk diri sendiri.
Kalau punya waktu lebih, perjalanan juga bisa dilanjutkan dengan menjelajahi kawasan sekitar. Siapa tahu, seperti saya, kalian justru menemukan cerita menarik di luar rencana.
Karena terkadang, perjalanan yang paling berkesan bukanlah perjalanan yang jauh atau mahal, melainkan perjalanan sederhana yang memberi kita kesempatan untuk bergerak, bernapas lebih lega, dan menyapa kembali kenangan lama.
Jadi, kapan terakhir kali Kebaya Lovers berjalan kaki sambil menjelajahi tempat yang menyimpan cerita?



























