Hello Kebaya Lovers!

SIAPA yang sudah pernah main ke Sarinah? Pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat ini mungkin sudah akrab buat kalian yang suka jalan-jalan, berburu kuliner, atau mencari produk lokal. Tapi, pernah nggak sih kalian penasaran, kenapa namanya Sarinah?

Ternyata, nama pusat perbelanjaan yang menjadi salah satu ikon Jakarta ini bukan diambil dari nama tokoh kerajaan atau sosok perempuan terkenal. Sarinah adalah nama perempuan sederhana yang punya tempat istimewa di hati Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ya, Sarinah  adalah nama pengasuh Bung Karno ketika masih kecil!

Sosok Sarinah yang Membekas di Hati Bung Karno

Buat Bung Karno, Sarinah bukan sekadar pengasuh. Perempuan yang biasa dipanggil Mbok Sarinah ini mengajarkan banyak hal tentang kasih sayang, kehidupan, dan bagaimana mencintai rakyat kecil.

Dalam bukunya yang berjudul Sarinah, Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia, Bung Karno menulis:

“Saya namakan kitab ini Sarinah, sebagai tanda terima kasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia ‘mbok’ saya.”

Tulisan Bung Karno yang dikutip dari https://www.pustakaagraria.or.id/2022/11/sarinah-kewajiban-wanita-dalam.html mengungkapkan bahwa dari Sarinah, ia belajar mencintai rakyat kecil. Ia menulis:

“Dari dia saya banyak mendapat pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiri pun ‘orang kecil’, tetapi budinya selalu besar!” Duh, kalimat terakhirnya terasa sederhana, tetapi maknanya dalam banget, ya, Kebaya Lovers?

Bung Karno mengingat Sarinah bukan karena kekayaan atau kedudukan sosialnya, melainkan karena kebaikan hati dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkannya. Dari perempuan sederhana inilah, Bung Karno belajar bahwa orang yang mungkin tidak punya banyak hal secara materi tetap bisa memiliki jiwa yang besar.

Penghargaan Bung Karno terhadap Sarinah ternyata tidak berhenti dalam buku. Nama perempuan inilah yang kemudian diabadikan sebagai nama pusat perbelanjaan pertama di Indonesia.

Dari Nama Pengasuh Menjadi Ikon Pusat Perbelanjaan

Gedung Sarinah merupakan gagasan Bung Karno yang ingin mendorong perdagangan dan memperkenalkan produk-produk dalam negeri kepada masyarakat.

Pada 17 Agustus 1962, PT Department Store Indonesia didirikan. Pembangunan gedungnya dimulai pada 23 April 1963, ditandai dengan pemancangan tiang pertama. Setelah melalui proses pembangunan selama beberapa tahun, Sarinah diresmikan oleh Bung Karno pada 15 Agustus 1966.

Bung Karno menginginkan Sarinah menjadi lebih dari sekadar tempat berbelanja. Pusat perbelanjaan ini diharapkan menjadi sarana distribusi barang kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung perkembangan produk lokal.

Dalam surat penetapan pemancangan tiang yang dipasang di dinding lantai 1 Sarinah, Bung Karno menekankan pentingnya departement store sebagai alat distribusi barang kebutuhan rakyat. Ia juga menolak anggapan bahwa pusat perbelanjaan tersebut merupakan proyek mewah semata.

Jadi, sejak awal, Sarinah punya misi yang cukup besar, menggerakkan perekonomian sekaligus memberi ruang bagi produk buatan Indonesia.

Sarinah dari Masa ke Masa: Pernah Terbakar!

Hampir enam dekade berdiri, Sarinah telah melewati banyak perubahan. Bukan hanya mengikuti perkembangan zaman, gedung ini juga pernah mengalami kebakaran yang mengubah perjalanan sejarahnya.

1970-an: Mendorong Produk Lokal

Pada era 1970-an, Sarinah menjalankan misi untuk mempromosikan produk kerajinan lokal, termasuk batik. Upaya ini sejalan dengan gagasan awal Bung Karno yang ingin menjadikan Sarinah sebagai tempat untuk memperkenalkan produk Indonesia kepada masyarakat.

Pada 10 April 1979, nama perusahaan yang semula PT Department Store Indonesia resmi berubah menjadi PT Sarinah (Persero).

1980-an: Ekspansi dan Kebakaran Besar

Memasuki 1980-an, Sarinah memperluas jangkauan bisnis dengan membuka cabang di Semarang, Jawa Tengah. Berbagai program juga dikembangkan untuk mempromosikan produk usaha kecil kepada konsumen.

Namun, periode ini juga menjadi masa yang berat bagi gedung Sarinah. Kebakaran pernah terjadi pada 18 Juli 1980. Peristiwa yang lebih besar kemudian terjadi pada 13–14 November 1984, ketika api melahap bagian gedung, terutama lantai 6 hingga lantai 14.

Kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan serius dan memusnahkan banyak dokumen perusahaan. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik dalam sejarah fisik bangunan Sarinah.

Setelah kebakaran besar itu, gedung menjalani proses renovasi dan penguatan struktur. Bahkan, ketika proses renovasi berlangsung, kebakaran kembali terjadi pada 6 November 1987 di bagian selatan gedung.

1990-an: Renovasi dan Perubahan Tampilan

Pasca-kebakaran 1984, Sarinah menjalani pembenahan bertahap. Pekerjaan renovasi dimulai pada 1987 dan berlanjut hingga sekitar awal 1990-an, termasuk perubahan tampilan eksterior bangunan.

Perubahan tersebut membuat wajah Sarinah berbeda dari desain awalnya. Gedung ini terus beradaptasi untuk mempertahankan keberadaannya di tengah perkembangan pusat perbelanjaan Jakarta yang semakin beragam.

2000-an: Mengikuti Perkembangan Zaman

Memasuki milenium baru, Sarinah terus berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan konsumen dan perkembangan bisnis ritel. Pada 2000, gedung mengalami perubahan tampilan berupa penambahan elemen mahkota bangunan.

Perjalanan transformasi bisnisnya kemudian berlanjut. Pada 2019, Sarinah memperluas kegiatan usaha di bidang perdagangan dengan mengekspor produk Sarinah Home ke sejumlah negara, sekaligus mengimpor beberapa komoditas.

2020–2022: Bertransformasi dan Kembali Dibuka

Setelah hampir enam dekade berdiri, Sarinah menjalani revitalisasi besar-besaran pada Mei 2020 hingga Maret 2022. Gedung ini kembali dibuka pada 21 Maret 2022 dengan wajah baru yang lebih modern.

Kini, Sarinah bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga ruang bagi produk lokal, karya seni, kuliner, dan berbagai kegiatan publik. Semangat untuk memperkenalkan karya Indonesia tetap menjadi bagian penting dari identitasnya.

Perjalanan panjang Sarinah menunjukkan bahwa sebuah bangunan bisa terus berubah mengikuti zaman, tetapi kisah di balik namanya tetap layak dikenang.

Buku Sarinah, Pesan Bung Karno untuk Perempuan Indonesia

Buku Sarinah, Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia pertama kali terbit pada November 1947 isinya merupakan pemikiran Bung Karno mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat dan perjuangan bangsa.

Lewat buku tersebut, Bung Karno mengkritik pandangan yang menempatkan perempuan seolah-olah hanya pantas dipuja, tetapi dianggap tidak mampu berpikir atau mengambil keputusan.

Ia menekankan bahwa perempuan juga harus mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia. Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan laki-laki, melainkan bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.

Bung Karno bahkan menyampaikan pesan yang lantang:

“Hai wanita-wanita Indonesia, jadilah revolusioner, – tiada kemenangan revolusioner, jika tiada wanita revolusioner, dan tiada wanita revolusioner, jika tiada pedoman revolusioner!”

Pesan tersebut lahir dalam konteks perjuangan pada masanya. Namun, gagasan bahwa perempuan perlu memiliki kesadaran, pengetahuan, dan peran aktif dalam masyarakat tetap menarik untuk direnungkan hingga sekarang.

Di sinilah kisah Sarinah terasa semakin istimewa. Nama seorang perempuan sederhana tidak hanya dikenang melalui sebuah gedung, tetapi juga melalui buku yang membicarakan peran perempuan dalam perjuangan bangsa.

Sarinah, Lebih dari Sekadar Tempat Belanja

Kalau selama ini kalian mengenal Sarinah sebagai tempat berburu kuliner, membeli produk lokal, atau sekadar nongkrong di tengah Jakarta, sekarang kalian tahu bahwa ada cerita lain di balik namanya.

Sarinah mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu dibentuk oleh orang-orang yang namanya tercatat besar dalam buku pelajaran. Ada pula sosok-sosok sederhana yang meninggalkan pengaruh mendalam melalui kasih sayang, ketulusan, dan nilai-nilai kehidupan yang mereka ajarkan. Bagi Bung Karno, Sarinah adalah salah satunya.

Dan bagi kita, kisah ini menjadi pengingat bahwa perempuan, apa pun latar belakangnya, punya peran dalam membentuk keluarga, masyarakat, bahkan perjalanan sebuah bangsa. Karena ternyata, di balik nama Sarinah, ada cerita tentang cinta, penghargaan, dan besarnya makna seorang perempuan dalam kehidupan Presiden Soekarno. ***

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *