Hello Kebaya Lovers! 

SIAPA bilang kalau sudah berusia 50 tahun ke atas, waktunya cuma sibuk mengurus rumah, keluarga, dan pekerjaan? Eits, tunggu dulu! Kita juga berhak kok menikmati hidup, jalan-jalan, ketawa bareng teman, dan sesekali kabur sejenak dari rutinitas.

Apalagi kalau bisa jalan-jalan sambil tetap bekerja. Istilah kerennya, workation! Kerja jalan, liburan juga jalan. Asal tahu cara mengatur waktu, dua-duanya bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan tanggung jawab.

Nah, pengalaman ini baru saja saya rasakan bersama tiga teman perempuan saat kami memutuskan untuk staycation ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang. Tujuannya sederhana: ganti suasana, menikmati waktu bersama, sekaligus menyelesaikan pekerjaan yang bisa dilakukan secara online.

Berburu Hotel Murah, Lalu Menikmati PIK 2

Rencana ini bermula dari obrolan bersama teman-teman. Setelah mencocokkan jadwal masing-masing, kami mulai berburu hotel yang ramah di kantong dan cukup nyaman untuk ditempati berempat. Akhirnya, pilihan jatuh pada Osaka PIK 2.

Panas-panasan di tepi pantai demi makan siang bersama. Ternyata, salah pilih waktu pun bisa jadi cerita lucu yang bakal dikenang!

Kami berangkat sekitar pukul 11.00 dari titik kumpul menggunakan mobil salah satu teman. Perjalanan pun dimulai dengan semangat liburan, meskipun sebenarnya pekerjaan tetap menunggu untuk diselesaikan.

Sampai di PIK 2, tujuan pertama kami adalah Aloha, tempat mencari makan siang sekaligus menikmati suasana tepi pantai. Sayangnya, kami kurang jeli memilih waktu. Datang ke kawasan pantai saat matahari sedang terik-teriknya ternyata bukan ide paling cemerlang. Bayangkan, siang bolong, panasnya terasa seperti matahari sedang tepat bertengger di atas kepala!

Tapi, namanya juga jalan-jalan bersama teman. Alih-alih mengeluh panjang lebar, kami memilih menikmati saja. Yang penting perut kenyang, foto tetap ada, dan cerita lucu bertambah. Setelah makan siang, kami masuk hotel untuk beristirahat sekaligus menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Sedikit kenalan, ya. Saya mengelola kebayastory.com, bekerja sebagai konsultan media dan komunikasi. Woro dan Fitri berprofesi sebagai jurnalis, sementara Nenny bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan pengelola  lapangan golf. Pekerjaan kami berbeda, tetapi ada satu kesamaan, selama pekerjaan memungkinkan dilakukan secara remote, kami punya kesempatan untuk mengatur tempat bekerja.

Jadi, jangan bayangkan kami seharian hanya rebahan, mengobrol, dan membuat konten. Ada saatnya laptop dibuka, pekerjaan dibereskan, dan fokus kembali ke tanggung jawab masing-masing. Justru di situlah serunya. Kami bisa tetap produktif tanpa harus terus-menerus berada dalam suasana kerja yang sama setiap hari.

Jalan Santai, Patung Naga, dan Sunset yang Cantik

Sore hari, setelah pekerjaan cukup terkendali, waktunya menikmati PIK 2!

Kami berjalan santai menyusuri jalanan yang relatif sepi pada Minggu sore. Tidak perlu agenda yang rumit atau target harus mengunjungi banyak tempat. Cukup berjalan, melihat-lihat, mengobrol, dan menikmati suasana.

Jalan-jalan bareng bestie belum lengkap tanpa sesi foto. Patung naga yang ikonik jadi salah satu spot seru untuk mengabadikan momen kebersamaan.

Kami juga melihat patung naga berukuran panjang di Mega Kuningan PIK 2 atau dikenal juga sebagai area Dragon Point atau Kuningan Village PIK 2 yang dikenal dengan  Patung Naga Kemakmuran. Patung ini memiliki panjang sekitar 153 meter dan tinggi kurang lebih 9,9 meter. Tentu saja, sesi foto tidak boleh dilewatkan. Namanya juga pergi bersama teman-teman, masa tidak punya dokumentasi?

Perjalanan berlanjut jalan ke jogging track tak jauh dari Dragon Poin di tepi danau. Di sana, kami menikmati pemandangan matahari terbenam yang cantik. Langit sore perlahan berubah warna, suasananya terasa lebih tenang, dan kami kembali sibuk mengabadikan momen. Hasil fotonya? Cakep-cakep, dong! Hehehe.

Namun, kalau dipikir-pikir, yang membuat sore itu menyenangkan bukan hanya pemandangannya. Ada obrolan ringan, tawa, saling mengambil foto, dan kebersamaan yang terasa begitu sederhana. Tidak ada tuntutan harus tampil sempurna atau melakukan sesuatu yang luar biasa.

Menikmati suasana PIK 2 sambil berjalan santai, mengobrol, dan berburu foto. Nggak harus punya agenda padat, yang penting happy bareng!

PIK 2, Lalu Mendadak Harus ke Bandung!

Menjelang malam, kami kembali ke hotel. Tiba-tiba, telepon saya berdering.

Ada pekerjaan yang menunggu di Bandung. Senin pukul 14.00, saya harus sudah tiba di Hotel Trans Luxury Bandung untuk mendampingi media dalam acara sebuah kementerian.

Wah, dari PIK 2 ke Bandung? Lumayan juga, ya!

Untungnya, saya sudah terbiasa mengatur pekerjaan yang mengharuskan bergerak cepat. Setelah mempertimbangkan waktu dan pilihan transportasi, saya menyusun rencana perjalanan agar tidak terlambat.

Senin pagi pukul 06.00, saya menyempatkan diri berenang selama satu jam. Hitung-hitung menyiapkan stamina sebelum perjalanan panjang dan menghadapi jadwal kerja yang padat.

Setelah itu, saya berangkat menggunakan TransJakarta menuju Stasiun Whoosh Halim. Jujur, ada rasa deg-degan juga. Perjalanan harus diperhitungkan dengan cermat agar semuanya berjalan lancar.

Alhamdulillah, perjalanan berlangsung sesuai rencana. Saya tiba di lokasi acara tepat pukul 14.00. Saya masih bisa mendapatkan pernyataan dari para narasumber dan mengikuti konferensi pers bersama menteri serta direktur jenderal.

Lega rasanya! Liburan singkat tetap bisa dinikmati, pekerjaan pun tetap terlaksana.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa fleksibilitas memang menyenangkan, tetapi tetap harus dibarengi tanggung jawab dan perencanaan yang matang. Jangan sampai kesenangan pribadi membuat pekerjaan terbengkalai atau merepotkan orang lain.

Traveling Bareng Teman, Apa Manfaatnya buat Mental?

Bagi saya, perjalanan seperti ini bukan sekadar pindah tempat untuk tidur di hotel atau berburu foto bagus. Ada sesuatu yang lebih penting: kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas, menikmati kebersamaan, dan mengisi kembali energi.

Sebagai perempuan yang sudah melewati usia 50 tahun, kehidupan sehari-hari tentu punya banyak peran dan tanggung jawab. Ada pekerjaan, urusan rumah, keluarga, dan berbagai hal yang perlu dipikirkan.

Kadang-kadang, kita terlalu sibuk memastikan semuanya berjalan baik sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “Aku sendiri sudah cukup menikmati hidup belum, ya?”

Bukan berarti harus selalu bepergian jauh atau menghabiskan banyak uang. Jalan-jalan singkat, mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi, makan bersama, atau sekadar mengobrol tanpa terburu-buru pun bisa menjadi momen yang menyenangkan.

Menariknya, kebersamaan saat bepergian juga punya penjelasan dari sisi psikologi.

Dr. Charlotte Russell, psikolog klinis sekaligus pendiri The Travel Psychologist, menyoroti pentingnya kualitas hubungan pertemanan dalam pengalaman bepergian. Perjalanan bersama teman yang bisa dipercaya, saling mendukung, dan membuat kita merasa nyaman berpotensi memperkuat kedekatan serta memberikan manfaat bagi kesejahteraan diri. Sebaliknya, hubungan yang penuh ketegangan atau kurangnya rasa saling percaya bisa membuat perjalanan justru terasa melelahkan.

Artinya, bukan sekadar punya teman untuk diajak pergi, melainkan menemukan teman yang cocok dengan cara kita menikmati perjalanan.Teman yang tidak keberatan kalau kita ingin beristirahat. Teman yang memahami ketika kita harus menyelesaikan pekerjaan. Teman yang bisa diajak tertawa saat rencana tidak berjalan sempurna, tetapi juga bisa saling membantu ketika ada situasi mendadak. Sebab, perjalanan yang menyenangkan bukan berarti semuanya harus berjalan mulus. Yang penting, kita bisa menghadapi situasi bersama tanpa saling menyalahkan.

Penelitian Dr. Erica Boothby bersama Margaret S. Clark dan John A. Bargh yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2014 juga memberikan perspektif menarik. Penelitian mereka, berjudul Shared Experiences Are Amplified, menemukan bahwa pengalaman yang dilakukan bersama orang lain dapat terasa lebih intens dibandingkan ketika dialami sendirian.

Dalam eksperimen tersebut, peserta yang mencicipi cokelat yang menyenangkan pada saat bersamaan dengan orang lain menilainya lebih nikmat dibandingkan peserta yang mencicipinya tanpa berbagi pengalaman tersebut. Sebaliknya, pengalaman mencicipi cokelat yang pahit juga terasa lebih tidak menyenangkan ketika dilakukan bersama.

Temuan ini menunjukkan bahwa kebersamaan dapat memperkuat cara kita merasakan sebuah pengalaman. Tentu saja, penelitian tersebut bukan secara khusus membuktikan bahwa traveling pasti membuat seseorang lebih bahagia. Namun, hasilnya membantu menjelaskan mengapa pengalaman menyenangkan, seperti menikmati sunset atau menjelajahi tempat baru, bisa terasa lebih berkesan ketika dibagikan dengan orang yang dekat dengan kita.

Coba ingat-ingat, deh. Pemandangan indah mungkin bisa kita nikmati sendirian. Namun, ketika ada teman di sebelah yang ikut berdecak kagum, sibuk mengambil foto, lalu tertawa karena hasil fotonya kurang bagus, momen itu bisa menjadi cerita yang terus diingat bertahun-tahun kemudian. Bukankah itu salah satu hal yang membuat persahabatan terasa berharga?

Usia Boleh Bertambah, Rasa Ingin Tahu Jangan Padam

Saya dan teman-teman sudah berusia di atas 50 tahun. Namun, keinginan untuk mengunjungi tempat baru, mencoba pengalaman berbeda, dan menikmati waktu bersama ternyata tetap ada. Kami memang tidak selalu punya banyak waktu luang. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang perlu diperhatikan, dan jadwal masing-masing yang tidak mudah dicocokkan. Karena itu, setiap kesempatan untuk bepergian menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Beberapa kali kami bepergian bersama, termasuk ke luar kota, karena kebetulan pekerjaan memungkinkan dilakukan secara remote. Kami menyisihkan uang untuk perjalanan, mencocokkan jadwal, lalu memilih tempat sesuai anggaran. Tidak harus hotel mahal. Tidak harus itinerary yang padat. Yang penting, perjalanan itu bisa dinikmati tanpa membuat kondisi keuangan berantakan atau pekerjaan terbengkalai.

Menutup sore dengan pemandangan matahari terbenam dan obrolan ringan. Kadang, kebahagiaan sederhana seperti inilah yang membuat kita pulang membawa energi baru.

Kalau boleh berbagi tips, menurut saya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, siapkan dana khusus untuk jalan-jalan. Tidak perlu menunggu punya uang berlimpah. Sisihkan sesuai kemampuan dan pilih tujuan yang cocok dengan anggaran. Liburan seharusnya memberi kesenangan, bukan menambah beban setelah pulang.

Kedua, pilih teman seperjalanan yang sepemikiran. Ini penting banget! Cocokkan anggaran, gaya perjalanan, jadwal, dan ekspektasi sejak awal. Kalau satu ingin bangun pagi untuk jalan-jalan, sementara yang lain ingin tidur lebih lama, bicarakan saja. Tidak semua kegiatan harus dilakukan bersama setiap saat.

Ketiga, tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga. Kalau ingin bekerja sambil bepergian, pastikan jadwal kerja, akses internet, transportasi, dan waktu istirahat sudah diperhitungkan. Jangan sampai niat mencari suasana baru justru membuat kita stres karena dikejar tenggat.

Bagi saya, traveling bersama teman adalah salah satu cara menikmati hidup tanpa harus menunggu semua urusan selesai. Sebab, kalau menunggu seluruh pekerjaan beres dan semua orang membutuhkan kita tidak lagi, entah kapan kita punya kesempatan untuk bersenang-senang. Sesekali, kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk tertawa, melihat tempat baru, menikmati makanan enak, dan menciptakan kenangan bersama orang-orang yang kita sayangi.

Jadi, buat Kebaya Lovers yang sudah memasuki usia 40, 50, atau bahkan 60 tahun, jangan merasa terlambat untuk mulai jalan-jalan. Sesuaikan saja dengan kondisi tubuh, kebutuhan, dan kemampuan finansial. Tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Kita bepergian bukan untuk terlihat keren di media sosial, melainkan untuk menikmati hidup dengan cara yang membuat kita merasa nyaman.

Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukan cuma foto-foto cantik atau cerita tentang hotel tempat menginap. Ada tawa, kedekatan, pengalaman baru, dan kenangan yang mungkin akan kita ceritakan lagi sambil ngopi bersama teman-teman.

Dan kalau suatu saat ada yang bertanya, “Masih sempat jalan-jalan di usia segini?”

Jawab saja, “Ya, dong! Selama masih sehat, ada kesempatan, dan pekerjaan bisa diatur, kenapa tidak?”

Kebaya Lovers, kapan terakhir kali kalian jalan-jalan bersama bestie? Yuk, mulai rencanakan perjalanan kecil berikutnya. Siapa tahu, yang kita butuhkan bukan liburan mewah, melainkan waktu berkualitas bersama teman-teman yang membuat hidup terasa lebih berwarna. ***: 

 

 

 

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *