• 2026-04-11
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

KALAU ngomongin sosok perempuan Indonesia yang out of the box, nama Toeti Heraty wajib banget masuk list. Nggak cuma dikenal sebagai penyair, beliau juga seorang filsuf, akademisi, dan aktivis perempuan yang pemikirannya jauh melampaui zamannya.

Lahir di Bandung pada 27 November 1933, Toeti tumbuh di lingkungan intelektual. Ayahnya, Roosseno Soerjohadikoesoemo, adalah tokoh penting di dunia teknik sekaligus salah satu pendiri Universitas Gadjah Mada. Bisa dibilang, darah akademisi sudah mengalir sejak awal.

Dari Kedokteran ke Filsafat: Jalan yang Nggak Biasa

Website kemendikdasmen.go.id menuliskan perjalanan pendidikan Toeti yang sangat menarik. Awalnya, ia kuliah di Universitas Indonesia jurusan kedokteran, lalu beralih ke psikologi. Tapi, rasa penasarannya soal kehidupan dan makna bikin dia melangkah lebih jauh ke dunia filsafat, bahkan sampai ke Leiden University di Belanda.

Gelar doktor filsafat yang ia raih kemudian melahirkan karya penting berjudul Aku dalam Budaya. Dari sini kelihatan banget kalau Toeti bukan cuma mikir, tapi juga berani menuangkan gagasan besar ke dalam tulisan.

Toeti pernah mengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, menjabat Rektor Institut Kesenian Jakarta. Beliau aktif di berbagai organisasi, dari Dewan Kesenian Jakarta sampai komunitas internasional yang fokus pada hak kekayaan intelektual dan vokal dalam isu perempuan. DOK. www.indonesia.travel

OET

O

Perempuan Multitalenta: Dosen, Rektor, hingga Aktivis

Bagaimana dengan kariernya? Jangan ditanya. Toeti pernah mengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, bahkan menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta.

Nggak cuma di dunia kampus, ia juga aktif di berbagai organisasi, dari Dewan Kesenian Jakarta sampai komunitas internasional yang fokus pada hak kekayaan intelektual. Di sisi lain, Toeti juga vokal dalam isu perempuan, terlibat dalam gerakan seperti Koalisi Perempuan Indonesia.

Menulis Puisi dan Mendunia

Toeti mulai menulis puisi sejak 1966, tapi karya pertamanya baru terbit saat usianya 40-an. Salah satu yang terkenal adalah Sajak-Sajak 33. Puisinya bukan tipe yang “lembut” atau mudah dicerna—justru penuh pemikiran dalam, reflektif, dan filosofis.

Kritikus sastra Subagio Sastrowardoyo bahkan bilang kalau Toeti adalah penyair yang berani keluar dari arus utama. Ia menulis bukan sekadar soal perasaan sesaat, tapi tentang kesadaran, pengalaman, dan makna hidup.

Karya Toeti nggak cuma dikenal di Indonesia. Puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dibahas di forum internasional, dari Rotterdam sampai Tokyo. Ia juga pernah tampil di berbagai forum sastra dunia, membawa perspektif perempuan Indonesia ke panggung global.

Hingga Akhir Hayat dan Warisan yang Terus Hidup

Toeti Heraty wafat pada 13 Juni 2021. Tapi pemikiran dan karyanya nggak ikut pergi. Salah satu bentuk penghormatan atas dedikasinya adalah Galeri Cemara 6—ruang seni yang kini jadi tempat mengenang sekaligus merayakan warisan intelektual dan artistiknya.

Kenapa Toeti Heraty Relevan Buat Kita Hari Ini?

Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, sosok Toeti mengingatkan kita bahwa berpikir dalam itu penting. Bahwa perempuan bisa jadi apa saja—ilmuwan, seniman, pemimpin, sekaligus agen perubahan.

Menjelang Hari Kartini 2026, kisah Toeti Heraty jadi bukti nyata kalau perjuangan perempuan nggak selalu lewat aksi besar di jalanan. Kadang, lewat tulisan, pemikiran, dan keberanian untuk beda—itu sudah jadi bentuk perlawanan yang powerful.

Kebaya Lovers! Kalau kamu lagi cari inspirasi perempuan keren Indonesia, Toeti Heraty adalah jawabannya. ***

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *