• 2026-05-02
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

DOKTOR Ikha Magdalena, ilmuwan ITB yang meneliti gelombang laut dan berkontribusi dalam mitigasi pesisir, ternyata nggak melulu berkutat dengan penelitian dan hal-hal serius. Di balik aktivitas akademiknya, ia juga menikmati hal-hal sederhana seperti traveling, ngopi tanpa distraksi, dan kulineran.

“Saya biasanya mencoba mengambil jeda sejenak, entah traveling, menikmati suasana baru, atau sekadar punya waktu tenang untuk refleksi. Recharge tidak selalu harus dalam bentuk liburan besar, tetapi lebih tentang memberi ruang untuk kembali tenang dan terhubung dengan diri sendiri,” ungkap Ikha kepada kebayastory.com.

Peneliti yang juga menaruh perhatian pada ekosistem pesisir ini mengaku punya “lazy day” di akhir pekan. Kegiatannya pun relatable banget: membaca buku, berita, artikel, atau menonton film tanpa terburu-buru. Wah, ternyata Dr. Ikha sama seperti kita—tetap butuh healing juga, ya!

Perempuan dan STEM: Semakin Berani dan Percaya Diri

Ikha melihat perempuan Indonesia saat ini semakin terbuka dan berani menyuarakan pendapat, termasuk dalam menentukan passion dan karier. Banyak yang kini percaya diri memilih bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

“Saya melihat perempuan Indonesia sekarang sudah jauh lebih berani dibandingkan sebelumnya. Banyak perempuan muda nggak ragu memilih bidang STEM,” katanya.

Menurutnya, peluang perempuan untuk berkembang juga semakin luas, termasuk akses ke beasiswa dan program internasional. Selain itu, hadirnya komunitas seperti Association for Women in Mathematics (AWM) juga menjadi wadah penting untuk saling mendukung.

Namun, Ikha menekankan bahwa dukungan ekosistem tetap penting—mulai dari role model, mentorship, hingga lingkungan yang mendorong perempuan untuk percaya diri.

“Keberanian itu sebenarnya sudah ada, tinggal bagaimana kita sebagai ekosistem ikut menguatkan,” jelasnya.

Sebagai gambaran, di Matematika ITB jumlah mahasiswa perempuan sudah cukup signifikan, mencapai lebih dari 45%. Bahkan secara nasional melalui IndoMS, sekitar 54,4% anggotanya merupakan perempuan. Ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di bidang ini terus berkembang dengan sangat baik.

Keren banget ya, Kebaya Lovers!

Kebaya, Identitas, dan Kebanggaan

Dalam acara formal seperti gala dinner di forum internasional, Ikha kerap mengenakan kebaya atau wastra Nusantara. 

Meski telah melanglang buana ke berbagai negara, Ikha tetap menjaga kedekatannya dengan budaya Indonesia. Dalam acara formal seperti gala dinner di forum internasional, ia kerap mengenakan kebaya atau wastra Nusantara.

“Setiap kali memakainya, ada perasaan yang berbeda—lebih sadar akan identitas diri dan merasa sangat ‘Indonesia’. Di dunia akademisi, mengenakan busana tradisional justru menjadi kebanggaan,” tuturnya.

Bagi Ikha, kebaya bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol budaya, identitas, sekaligus memiliki makna personal yang dalam—merepresentasikan sejarah, nilai, dan keanggunan perempuan Indonesia.

Dalam keseharian pun, ia tetap membawa unsur budaya lewat hal-hal kecil, seperti mengenakan wastra, scarf, atau aksesori khas Indonesia, terutama saat melakukan kunjungan penelitian atau workshop di luar negeri.

“Bagi saya, menjaga budaya tidak harus sesuatu yang besar, tetapi bisa dilakukan melalui kebiasaan kecil yang konsisten,” ujarnya.

Pesan untuk Perempuan Indonesia

Di akhir, Ikha memberikan pesan yang sederhana tapi kuat untuk perempuan Indonesia: berani bermimpi dan jangan takut gagal.

“Kita harus terus belajar dan tumbuh. Teruslah berusaha dan berdoa, karena setiap langkah kecil tidak akan ada yang sia-sia. Nggak usah ragu mengambil kesempatan. Masa depan kalian dibangun dari keberanian hari ini,” pungkasnya.

Kebaya Lovers, jadi makin semangat kan setelah baca cerita Dr. Ikha? Yuk, terus berani bermimpi dan melangkah! ***

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *