• 2026-05-18
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

DI saat banyak orang sibuk mengejar hidupnya sendiri, Zulharoh Ancanawati justru memilih hadir menemani anak-anak pejuang kanker melewati hari-hari tersulit mereka. Dengan hati yang tulus, ia mengabdikan tenaga, pikiran, dan kasih sayangnya sebagai relawan pendamping pasien kanker anak di Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) Foundation.

Bagi banyak orang, menjadi relawan mungkin hanya aktivitas sosial. Tapi bagi Zulharoh yang biasa disapa Anca, ini adalah perjalanan batin. Sebuah cara untuk “menitipkan diri kepada Tuhan” lewat welas asih kepada sesama. Ia percaya, sebagai perempuan dan ibu dari dua anak laki-laki, hidup bukan hanya soal diri sendiri, melainkan tentang seberapa besar cinta bisa dibagikan kepada orang lain yang sedang berjuang.

“Pendampingan itu bukan hanya soal membantu, tapi tentang menghadirkan cinta dan membuat keluarga pasien merasa tidak sendirian saat menghadapi masa tersulit dalam hidup mereka,” ujar Anca kepada kebayastory pekan lalu.

Perjalanan Anca menjadi relawan lahir dari kebiasaan sederhana, suka berbagi. Sejak lama, ia merasa terpanggil membantu orang lain, terutama anak-anak yang tengah berhadapan dengan penyakit berat seperti kanker. Baginya, mendampingi pasien bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menjadi tempat bersandar ketika keluarga pasien merasa lelah, takut, dan kehilangan harapan.

“Saya percaya, ketika pasien benar-benar membutuhkan pertolongan, Tuhan selalu mengirimkan tangan-tangan baik untuk membantu lewat cara yang tidak pernah kita sangka,” katanya.

Anak Pejuang Kanker Ajarkan Kekuatan Hidup

Selama mendampingi pasien kanker anak, Anca mengaku banyak belajar tentang arti cinta kasih yang tulus. Ia memahami bahwa membantu seseorang harus dilakukan tanpa pamrih dan tanpa keterikatan. Dari anak-anak pejuang kanker, ia belajar tentang kekuatan hidup, rasa syukur, dan keteguhan hati. Di mata Anca, anak-anak itu bukan sekadar pasien, melainkan “anak-anak hebat” yang sedang berjuang untuk sembuh.

Menjadi pendamping pasien kanker tentu bukan hal mudah. Ada banyak situasi emosional yang harus dihadapi setiap hari. Namun Anca punya prinsip yang selalu ia pegang yakni cinta dan tidak memiliki kemelekatan. Ia berusaha menjadi penguat bagi para orang tua pasien dengan terus menanamkan prasangka baik dan keyakinan bahwa mereka adalah pilihan Tuhan yang diberikan kekuatan luar biasa.

Salah satu momen paling menyentuh selama menjadi relawan adalah ketika ia melihat pasien berhasil keluar dari kondisi kritis. Baginya, kebahagiaan terbesar bukanlah pengakuan atau penghargaan, melainkan ketika seorang anak kembali bisa beraktivitas meski masih harus menjalani kemoterapi, radiasi, atau MRI. Momen-momen kecil seperti senyum pasien dan semangat keluarga menjadi energi yang terus membuatnya bertahan di jalan kemanusiaan ini.

“Perempuan kuat bukan yang tidak pernah lelah, tetapi yang mampu tetap tulus, mengelola emosi, dan terus hadir untuk orang lain tanpa pamrih.”
— Zulharoh Ancanawati

Dibantu Donatur

Dalam bidang penggalangan dana di YOAI Foundation, Anca juga menghadapi tantangan besar, terutama ketika ada kebutuhan pasien yang tidak ditanggung BPJS. Banyak keluarga pasien datang dari latar belakang ekonomi sulit, pendidikan minim, bahkan ada ibu tunggal yang harus berjuang sendirian mendampingi anaknya berobat. Kondisi itu membuat kebutuhan bantuan sering kali mendesak dan kompleks.

Meski begitu, ia memilih percaya bahwa rezeki selalu punya jalannya sendiri. Ia meyakini bahwa pemilik segala dana adalah Tuhan Yang Maha Baik. “Ketika ada pasien yang sangat membutuhkan bantuan, selalu saja hadir tangan-tangan baik yang tergerak untuk membantu. Dari sahabat, teman, hingga donatur yang datang tanpa diduga, semua terasa seperti perpanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan harapan anak-anak pejuang kanker,” ungkap Anca.

Menurutnya, keberadaan relawan pendamping sangat penting, bukan hanya untuk pasien tetapi juga keluarganya. Banyak orang tua pasien mengalami tekanan mental luar biasa saat anak mereka didiagnosis kanker. Dalam situasi seperti itu, kehadiran seseorang yang mau mendengar, membantu, dan memberi semangat bisa menjadi penyelamat secara emosional.

Kekuatan Perempuan Hadir Membantu Kesulitan 

Bagi Anca, makna perempuan kuat bukanlah sosok yang terlihat keras atau tak pernah menangis. Perempuan kuat adalah perempuan yang mampu mengelola ego dan emosi, serta belajar melepaskan keterikatan pribadi demi membantu orang lain dengan tulus. Dalam dunia pendampingan kemanusiaan, ia percaya tidak boleh ada kepentingan pribadi. Yang dibutuhkan adalah disiplin, kesadaran, dan hati yang bahagia.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kanker anak. Menurutnya, banyak pelajaran hidup justru ditemukan di luar rumah, lewat interaksi langsung dengan lingkungan dan realitas sosial. Ia mengingatkan para orang tua agar lebih peka terhadap tumbuh kembang anak. Jika ada gejala mencurigakan, segera lakukan pemeriksaan ke dokter karena kanker memiliki perkembangan yang sangat cepat. Namun ia juga menegaskan bahwa kanker bisa disembuhkan jika terdeteksi sejak dini.

Ketika berbicara tentang kebaya sebagai simbol perempuan Indonesia, Anca memaknainya sebagai lambang keteguhan seorang ibu. Sama seperti ibu-ibu yang mendampingi anak penderita kanker tanpa lelah dan tanpa banyak mengeluh. Dalam perjuangan panjang melawan penyakit, seorang ibu akan terus bertahan sampai titik akhir demi anaknya. “Perempuan adalah madrasah bagi anak-anaknya,” ujarnya penuh keyakinan.

Di balik segala kesibukan dan perjuangannya, Anca menunjukkan bahwa kekuatan terbesar seorang perempuan bukan hanya pada kata-kata, melainkan pada kemampuan untuk tetap hadir bagi orang lain di saat paling sulit. Dan lewat langkah kecil yang konsisten, ia membuktikan bahwa cinta kasih memang bisa menjadi obat paling kuat bagi harapan.***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *