
Hello Kebaya Lovers!
SIAPA bilang rasa cinta terhadap Indonesia bisa memudar ketika tinggal jauh dari tanah air? Justru bagi Christiana Dessynta Streiff, tinggal di Eropa membuat rasa cintanya terhadap budaya Indonesia tumbuh semakin kuat. Di tengah kehidupan modern Swiss yang serba cepat dan individual, ia menemukan satu hal yang selalu membuatnya merasa “pulang” pada budaya Indonesia.
Bagi Christiana, budaya bukan sekadar tradisi lama yang dikenang saat perayaan tertentu. Budaya adalah identitas yang hidup dan terus dibawa ke mana pun seseorang pergi. Dari semua kekayaan budaya Indonesia, kebaya menjadi hal yang paling dekat dengan hatinya.
“Kebaya bukan hanya pakaian tradisional. Kebaya adalah simbol perempuan Indonesia yang anggun, hangat, kuat, daswissn penuh makna,” ungkapnya menjawab pertanyaan kebayastory beberapa waktu lalu.
Di balik setiap kain, lipatan, dan siluet kebaya, Christiana melihat cerita tentang kelembutan perempuan Nusantara, rasa hormat terhadap budaya, sekaligus kekuatan untuk tetap berdiri teguh di tengah perubahan zaman.

Tinggal di Eropa Bikin Cinta Budaya Semakin Besar
Pengalaman hidup di Eropa membuka mata Christiana tentang bagaimana masyarakat di sana begitu bangga terhadap budaya mereka sendiri. Mereka mengenakan pakaian tradisional dengan percaya diri, menjaga tradisi, dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari situlah muncul pertanyaan dalam dirinya, kalau bangsa lain begitu bangga pada budayanya, kenapa orang Indonesia tidak melakukan hal yang sama? Perasaan itu kemudian mempertemukannya dengan banyak perempuan diaspora Indonesia lain yang memiliki kerinduan serupa terhadap tanah air.
Dari obrolan kecil dan pertemuan sederhana, lahirlah komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia Eropa — sebuah ruang yang mempertemukan perempuan Indonesia di berbagai negara Eropa untuk tetap terhubung dengan budaya mereka.
Awalnya kegiatan mereka sederhana. Berkumpul memakai kebaya, mengadakan acara budaya, hingga memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat sekitar. Tapi ternyata, dampaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Kebaya Jadi Jembatan Budaya
Menariknya, kebaya sering menjadi pintu pertama yang membuat masyarakat internasional penasaran dengan Indonesia. Banyak orang asing yang awalnya hanya tertarik melihat kebaya, lalu mulai bertanya tentang batik, kain tradisional, tarian daerah, makanan Indonesia, bahkan filosofi kehidupan masyarakat Nusantara. Menurut Christiana, di situlah kekuatan budaya bekerja.
“Kebaya bisa menjadi jembatan budaya,” katanya.
Ada rasa haru tersendiri ketika melihat perempuan-perempuan Indonesia dari berbagai daerah berdiri bersama mengenakan kebaya di tengah kota-kota Eropa. Rasanya seperti membawa sepotong Indonesia hadir jauh dari rumah.

Menjaga Budaya di Tanah Rantau
Tentu perjalanan menjaga budaya di luar negeri bukan hal yang mudah. Kehidupan diaspora menuntut adaptasi besar, apalagi bagi anak-anak yang tumbuh dengan budaya negara tempat mereka tinggal.
Sebagai ibu dengan putri berdarah Indonesia-Swiss, Christiana punya cara sendiri untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada anaknya. Bukan lewat paksaan, tetapi lewat pengalaman sehari-hari. Ia mengajak sang putri datang ke acara budaya, memakai kebaya bersama, mendengarkan lagu Indonesia, menikmati makanan tradisional, hingga mengenal cerita tentang Indonesia sejak kecil.
Bagi Christiana, memiliki dua budaya bukanlah kebingungan identitas, melainkan kekayaan. Ia ingin putrinya tumbuh sebagai anak yang tetap mengenal akar Indonesianya dengan bangga, meski lahir dan besar di Eropa.

Perempuan Modern dan Tradisi Bisa Jalan Bareng
Satu hal yang paling menarik dari sosok Christiana adalah cara pandangnya terhadap perempuan modern. Menurutnya, perempuan Indonesia tidak perlu memilih antara menjadi modern atau mempertahankan tradisi. Keduanya bisa berjalan berdampingan.
Hari ini, kebaya bukan lagi simbol sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Justru kebaya menjadi simbol identitas perempuan Indonesia yang terus berkembang mengikuti zaman. Perempuan bisa tetap aktif, mandiri, cerdas, mendunia, dan tetap bangga memakai kebaya. Dan mungkin itu yang membuat kebaya terasa begitu spesial bagi Christiana.
Jika harus menggambarkan kebaya dalam satu kata, ia memilih kata: berkelas. Bukan karena terlihat mewah, tetapi karena kebaya selalu memancarkan karakter perempuan Indonesia yang anggun, hangat, kuat, dan penuh makna.

Kebaya Akan Selalu Hidup
Di tengah dunia yang semakin global, Christiana percaya identitas budaya justru menjadi sesuatu yang sangat berharga. Karena budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jati diri yang membuat seseorang tahu dari mana ia berasal.
Selama masih ada rasa bangga untuk mengenakannya, selama masih ada generasi yang mau merawatnya, kebaya akan selalu hidup, bahkan melintasi batas negara dan benua. Dan lewat langkah kecil perempuan-perempuan diaspora seperti Christiana Dessynta Streiff, kebaya Indonesia terus menemukan ruangnya untuk bersinar di dunia internasional. Wah keren ya, Ibu Christiana! ***


















