
Hello Kebaya Lovers!
KALAU biasanya kebaya dipakai cuma buat kondangan atau acara resmi, beda cerita dengan Wisni W. Drupadi. Perempuan yang satu ini dikenal sebagai pegiat kebaya yang konsisten menjadikan kebaya—khususnya kebaya kutubaru—sebagai busana sehari-hari. Gayanya khas banget: kebaya kutubaru dipadukan dengan kain batik dan… sneakers!
Yes, sneakers! Perpaduan unik itu bikin Wisni sering jadi sorotan, sekaligus inspirasi banyak orang, terutama anak muda yang pengen tampil kece tapi tetap bangga dengan budaya sendiri.
Jatuh Cinta Sama Kutubaru
Buat Wisni, kebaya kutubaru itu bukan sekadar pakaian, tapi solusi.
“Dengan kutubaru, aku nggak lagi merasa salah kostum. Mau dipakai ke acara formal oke, dipakai buat aktivitas harian yang casual juga cocok banget,” cerita Wisni. Jadi, kutubaru baginya adalah busana yang menjembatani dua dunia: elegan dan santai.
Filosofi “KAS”: Klasik, Anggun, Sporty
Gaya Wisni ternyata punya filosofi sendiri. Ia menyebutnya KAS:
- Klasik: karena kebaya itu timeless, nggak lekang dimakan zaman.
- Anggun: pengingat kalau perempuan memang diciptakan Tuhan untuk tampil anggun, bukan cuma lewat pakaian tapi juga tutur kata dan sikap.
- Sporty: melambangkan jiwa dinamis dan semangat menghadapi perubahan.
Meski sering pakai sneakers, Wisni tetap “empan papan”—paham kapan harus menempatkan diri. Kalau acara resmi, ia lebih pilih kebaya dengan batik plus sepatu atau slop.
Kenapa Kutubaru Itu Timeless?
Menurut Wisni, kutubaru punya keunggulan yang nggak dimiliki kebaya lain. Potongannya simple tapi elegan, dan fleksibel dipaduin sama bawahan apapun: rok, celana jeans, sampai kain tradisional macam batik, tenun, dan wastra lainnya. Nggak heran kalau kutubaru jadi favoritnya.
Cerita Seru dengan Kebaya
Karena jarang ada yang tampil dengan kebaya buat daily look, Wisni sering banget jadi pusat perhatian.
“Orang-orang gampang mengenali aku. Pernah juga pas lagi rapiin kebaya di toilet mal, ada yang langsung terpesona sama kain batik tulis yang kupakai. Dari situ jadi kesempatan buat ngenalin keindahan batik tulis ke mereka,” kenangnya.

Dari Aneh Jadi Trendy
Awalnya, banyak yang memandang Wisni sebelah mata. Tapi seiring makin banyak komunitas perempuan yang aktif berkebaya, respons orang-orang berubah drastis.
“Sekarang makin banyak anak muda dan ibu-ibu muda yang pakai kutubaru buat kegiatan sehari-hari. Bahkan ada yang nyebut aku ini kayak Virus Kebaya—tapi virus yang bikin happy, bukan yang berbahaya,” ujarnya sambil tertawa.
Lewat konsistensinya, Wisni W. Drupadi berhasil membuktikan bahwa kebaya bisa hidup berdampingan dengan gaya modern. Kutubaru, batik, dan sneakers bukan cuma sekadar fashion, tapi juga simbol identitas, keanggunan, dan keberanian buat tampil beda.
So, kalau kamu masih ragu pakai kebaya karena takut dibilang kuno, coba deh gaya ala Wisni. Siapa tahu, kamu juga bisa jadi “virus kebaya” di lingkunganmu. ***



























