
Hello Kebaya Lovers!

SELAIN menjadi pakaian sehari-hari perempuan Indonesia dari semua suku, satu hal yang sering luput dibahas adalah kebaya itu juga punya tempat penting dalam kehidupan beragama di Indonesia.
“Dari dulu, perempuan Indonesia memakai kebaya saat beribadah,” ungkap pegiat kebaya Atie Nitiasmoro kepada kebayastory, belum lama ini.
Perempuan Muslim
Ke masjid pakai kebaya dan kerudung. Baca al Qur’an atau ngaji, belajar di pesantren santri (murid) dan Ibu Nyai (istri kyai, guru ngaji) mengenakan kebaya jadi bagian dari keseharian.
Umat Katolik
Ke gereja, Natal, Paskah, kebaya tetap dipakai. Bahkan dalam pernikahan Katolik, banyak pengantin memilih kebaya sebagai bentuk penghormatan budaya.

Perempuan Hindu (terutama di Bali)
Sampai sekarang, kebaya adalah pakaian wajib ke pura dan saat hari besar seperti Galungan dan Kuningan.
Atie mengungkapkan, di sini kelihatan jelas bahwa kebaya bukan milik satu golongan agama tapi milik budaya Indonesia secara keseluruhan. “Ini yang disebut akulturasi budaya, di mana agama hadir tanpa menghapus identitas lokal. Indonesia dari dulu memang terbuka menerima pengaruh luar, tapi tetap jadi diri sendiri,” kata Atie yang juga istri Dubes Indonesia untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono.
Maka, tambah Atie, kebaya bisa masuk ke semua ruang termasuk ruang spiritual. Bahkan di Gereja Katolik, kebaya punya makna khusus, yakni dipakai dalam pernikahan dan jadi identitas umat Katolik Indonesia. Kebaya dipakai oleh organisasi seperti Wanita Katholik Republik Indonesia atau WKRI.

“Dan yang paling simbolik, ada patung Bunda Maria berkebaya di Gereja Katedral Jakarta,” papar Atie.
Kebaya Lovers! Bayangin, Bunda Maria pakai kebaya, kain batik, sentuhan merah putih, bahkan simbol Indonesia. Itu bukan cuma seni. Itu pesan kuat bahwa, iman bisa hadir dalam wajah budaya lokal. Selain itu, tradisi dan keyakinan adalah dua hal yang nggak harus dipisahkan. Menarik banget ya, ini yang bikin kita makin cinta sama kebaya. ***






























