Hello Kebaya Lovers!

PPERNAH membayangkan sebuah mahakarya dari Jawa yang usianya lebih tua 200 tahun lebih dibandingkan lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci? Inilah Arca Prajnaparamita, peninggalan Kerajaan Singhasari dari abad ke-13 yang kini menjadi salah satu koleksi istimewa Museum Nasional Indonesia.

Keindahan arca ini bahkan membuat Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebutnya sebagai “Monalisa-nya Indonesia” atau “Monalisa dari Jawa”. Bukan tanpa alasan. Arca yang menggambarkan Dewi Kebijaksanaan dalam tradisi Buddha Mahayana ini memiliki detail pahatan yang begitu halus, mulai dari ekspresi wajah, mahkota, perhiasan, hingga motif kain yang dikenakannya.

Kebaya Story berkesempatan melihat langsung mahakarya ini di Museum Nasional. Berbeda dengan sejumlah arca lain yang dipamerkan, Prajnaparamita ditempatkan di ruang khusus, dengan posisi lebih tinggi dan area yang diberi pembatas. Penataan tersebut membuat pengunjung seolah diajak memberi perhatian lebih pada sosok dewi yang satu ini.

Lebih tua dari Mona Lisa
Arca Prajnaparamita diperkirakan berasal dari abad ke-13, pada masa Kerajaan Singhasari, Jawa Timur. Sementara itu, Mona Lisa karya Leonardo da Vinci mulai dilukis sekitar 1503 dan diperkirakan selesai pada 1519.

Jika menggunakan perkiraan tahun 1300 untuk Prajnaparamita dan 1503 sebagai awal pengerjaan Mona Lisa, usia kedua mahakarya ini terpaut sekitar 203 tahun. Dengan kata lain, Prajnaparamita telah hadir lebih dari dua abad sebelum Leonardo da Vinci mulai melukis perempuan dengan senyum misterius yang kemudian dikenal di seluruh dunia.

Mona Lisa sendiri dipercaya menggambarkan Lisa Gherardini, istri seorang pedagang sutra asal Florence, Italia. Lukisan cat minyak di atas panel kayu poplar ini terkenal karena teknik sfumato yang digunakan Leonardo untuk menciptakan peralihan warna dan bayangan yang lembut. Ekspresi wajah dengan senyum yang seolah menyimpan misteri serta lanskap samar di belakang sosoknya menjadi daya tarik lukisan tersebut hingga sekarang.

Jika Mona Lisa dikenal sebagai salah satu ikon seni Renaissance, Prajnaparamita merupakan bukti pencapaian seni pahat Nusantara pada masa klasik. Keduanya lahir dari tradisi dan kebudayaan yang berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan kemampuan seniman pada zamannya dalam menghadirkan karya yang memikat lintas generasi.

Dijuluki Monalisa dari Jawa oleh Fadli Zon
Keistimewaan Arca Prajnaparamita kembali mendapat perhatian saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli menyebut arca ini sebagai salah satu pencapaian artistik dan estetika tertinggi dari nenek moyang bangsa Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa arca yang dipamerkan merupakan artefak asli, bukan replika.

“Galeri Prajnaparamita ini menampilkan arca asli, bukan replika, secara khusus mahakarya dari nenek moyang kita. Salah satu pencapaian artistik dan estetika yang tertinggi, bahkan kalau boleh dibilang, arca Prajnaparamita ini adalah Monalisa-nya Indonesia,” katanya.

Fadli berharap Prajnaparamita menjadi point of interest sekaligus ikon atau signature Museum Nasional. Menurutnya, kunjungan ke Museum Nasional terasa belum lengkap jika belum melihat arca istimewa ini.

“Galeri Prajnaparamita, Monalisa-nya dari Jawa atau Monalisa-nya Nusantara ini bisa menjadi suatu atraksi di Museum Nasional untuk mengapresiasi. Menghargai karya dari nenek moyang kita yang menghadirkan sebuah arca yang begitu indah, menarik, dan luar biasa,” ujarnya.

Sempat dibawa ke Belanda, lalu kembali ke Indonesia
Di balik keindahannya, Prajnaparamita menyimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Arca ini bukan sejak awal berada di Museum Nasional. Sebelum menjadi salah satu koleksi penting di Jakarta, ia sempat dibawa ke Belanda dan berada di sana selama lebih dari satu abad.

Arca Prajnaparamita ditemukan sekitar 1818–1819 oleh D. Monnereau, seorang pejabat kolonial yang bertugas di wilayah Malang. Lokasi penemuannya berada di kawasan Cungkup Putri, tidak jauh dari kompleks percandian Singhasari, Jawa Timur.

Sekitar 1820, arca ini diserahkan kepada Prof. C.G.C. Reinwardt. Dua tahun kemudian, pada 1822, arca tersebut dibawa ke Belanda. Setelah melalui beberapa perpindahan koleksi museum di Leiden, Prajnaparamita akhirnya menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Etnologi di kota tersebut.

Baru pada 1978, melalui kerja sama kebudayaan Indonesia-Belanda, arca ini dikembalikan ke Indonesia. Sejak itu, Prajnaparamita menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Indonesia.

Perjalanan tersebut membuat keberadaan arca ini semakin istimewa. Ia bukan hanya peninggalan seni dari masa Singhasari, tetapi juga bagian dari sejarah panjang pengelolaan dan pemulangan benda-benda warisan budaya Indonesia.

Detail pahatan yang begitu halus
Saat melihat Arca Prajnaparamita, pengunjung akan menemukan banyak detail menarik. Arca setinggi sekitar 126 sentimeter ini dibuat dari batu andesit dengan ketelitian tinggi. Setiap bagian tubuh, pakaian, dan perhiasannya memperlihatkan keterampilan pemahat pada masa Singhasari.
Yuk, perhatikan beberapa detail istimewa pada arca ini!

Posisi duduk dan mudra
Prajnaparamita digambarkan duduk dalam posisi meditasi vajrasana. Kedua tangannya membentuk dharmacakra mudra, yaitu gestur yang melambangkan pemutaran roda ajaran atau kebenaran dalam tradisi Buddha.

Kiritamukuta, mahkota yang anggun
Pada bagian kepala, Prajnaparamita mengenakan kiritamukuta, yaitu mahkota atau tata rambut yang bentuknya membulat di bagian bawah dan semakin mengecil ke arah atas. Hiasannya berupa untaian permata yang tersusun menyerupai segitiga atau bunga.

Prabhamandala, lingkaran cahaya suci
Di belakang tubuh arca terdapat prabhamandala, yaitu sandaran berbentuk lengkung yang melingkupi bagian belakang tubuh. Elemen ini melambangkan cahaya suci. Bagian tepinya dihiasi motif jwala atau nyala api yang menggambarkan pancaran sinar.

Bunga teratai dan kitab suci
Di sisi kiri sosok dewi tampak tangkai bunga teratai atau padma yang menyangga sebuah kitab. Kitab tersebut berkaitan dengan Prajnaparamita Sutra, ajaran suci Buddha Mahayana yang melambangkan kebijaksanaan atau pengetahuan tertinggi.

Keyura, perhiasan di lengan atas
Pada bagian lengan atas terdapat keyura, yaitu perhiasan yang dikenakan di lengan. Bentuknya menyerupai rangkaian permata dengan hiasan geometris berbentuk segitiga. Detail ini memperlihatkan kecermatan pemahat dalam mengolah ornamen.

Kain panjang bermotif Jlamprang
Prajnaparamita mengenakan kain panjang yang menutupi tubuh hingga mata kaki. Kain tersebut dihiasi motif Jlamprang, berupa susunan lingkaran yang saling bersentuhan. Motif ini memiliki keterkaitan dengan motif patola dari India.

Dari mahkota hingga motif kain, setiap detail memperlihatkan bahwa arca ini bukan sekadar gambaran sosok dewi, tetapi juga karya seni dengan pengerjaan yang sangat teliti. Tidak heran jika Prajnaparamita menjadi salah satu mahakarya seni pahat Nusantara yang begitu istimewa.

Ditempatkan di ruang khusus, dijaga dengan perhatian istimewa
Ketika Kebaya Story berkunjung ke Museum Nasional, sejumlah pengunjung terlihat serius mengamati Arca Prajnaparamita. Penempatannya memang berbeda dari arca-arca lain.

Prajnaparamita berada di ruangan khusus dengan posisi lebih tinggi. Di sekelilingnya terdapat elemen penataan yang sekilas menyerupai lingkaran air di kolam, tetapi tampak menggunakan material kaca. Area arca juga dilengkapi tali pembatas sehingga pengunjung tidak bisa mendekat atau menyentuh koleksi aslinya.

Saat Kebaya Story bertanya kepada petugas yang berjaga, ia menjelaskan bahwa arca ini memang memiliki keistimewaan tersendiri. “Patung ini memang spesial, bentuknya sempurna, tiga dimensi. Diharapkan menjadi daya tarik utama atau primadona di Museum Nasional,” ujar petugas tersebut.

Untuk membantu pengunjung memahami detail arca, museum menyediakan buku informasi di sisi kanan ruang pamer. Melalui keterangan tersebut, pengunjung bisa mengenali bagian-bagian arca yang mungkin tidak langsung terlihat ketika hanya mengamatinya dari kejauhan.

Galeri baru yang lebih inklusif dan interaktif
Perhatian terhadap Prajnaparamita tidak berhenti pada keindahan ruang pamer. Museum Nasional juga mengembangkan Galeri Prajnaparamita dengan pendekatan yang lebih inklusif, terutama bagi pengunjung penyandang disabilitas netra.

Galeri baru ini dilengkapi deskripsi dalam huruf Braille, miniatur arca yang dapat disentuh, serta media taktil untuk membantu pengunjung mengenali bentuk dan proporsi koleksi melalui sentuhan. Fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan museum yang bisa diakses oleh lebih banyak kelompok masyarakat.

Saatnya lebih mengenal mahakarya Nusantara
Prajnaparamita bukan sekadar patung batu dari masa lalu. Ia merupakan bukti bahwa para seniman Nusantara telah memiliki kemampuan artistik yang tinggi sejak berabad-abad silam.

Perjalanan arca ini dari Singhasari, sempat dibawa ke Belanda, hingga akhirnya kembali ke Indonesia juga mengingatkan kita bahwa warisan budaya memiliki sejarah panjang yang perlu terus dikenali dan dijaga.

Julukan “Monalisa dari Jawa” yang disematkan Fadli Zon bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan mahakarya ini kepada lebih banyak orang. Namun, Prajnaparamita tentu memiliki identitas dan keistimewaannya sendiri, yang tumbuh dari tradisi seni dan kebudayaan Nusantara.

Kebaya Lovers yang belum menyaksikan kecantikan arca Prajnaparamita buruan ke Museum Nasional. Ternyata, peninggalan sejarah Nusantara tak kalah dengan seni dari negara lain. Bangga ya, Kebaya Lovers! ***

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *