
Hello Kebaya Lovers!
KALAU selama ini kamu mengira kain tenun hanya cocok dipakai saat acara adat atau acara formal, saatnya mengubah cara pandang itu. Di Roma, Italia, tepatnya di KBRI Takhta Suci Vatikan, kain-kain tenun Nusantara tampil super stylish dalam acara “Women, Thread, and Time” pada 24 Juni 2026.
Acara yang digelar KBRI Takhta Suci bersama OERIP Indonesia ini bukan sekadar fashion show. Ini adalah panggung yang menunjukkan kalau wastra Indonesia punya cerita, filosofi, sekaligus masa depan di kancah internasional.
Tenun Nusantara Jadi Bintang di Roma
Berbagai koleksi OERIP tampil memukau dengan memadukan kain tenun dari Kalimantan, Sumatera, Sumba, Lombok, Bali, hingga Sulawesi menjadi busana modern yang bisa dikenakan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono didampingi istri, Atie Nitiasmoro mengapresiasi peran OERIP yang selama ini konsisten melestarikan Wastra Nusantara sekaligus memberdayakan lebih dari 500 pengrajin tenun di sekitar 70 daerah di Indonesia.
Diplomasi budaya seperti inilah yang menjadi cara Indonesia memperkenalkan kekayaan tradisi kepada dunia. Sebelumnya, KBRI Takhta Suci juga aktif menggelar berbagai kegiatan budaya, mulai dari workshop batik, fashion show kebaya, hingga pertunjukan seni tradisional.

Setiap Helai Tenun Punya Cerita
Yang membuat koleksi OERIP berbeda bukan hanya desainnya, tetapi juga kisah di balik setiap kain.
Pendiri OERIP Indonesia, Dian Erra Kumalasari, menjelaskan bahwa seluruh kain dibuat langsung oleh para perempuan penenun dari berbagai daerah di Indonesia.
Beberapa kain bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk diselesaikan.
Salah satu koleksi yang ditampilkan berasal dari kain warisan keluarga yang diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun dan proses pembuatannya dahulu memakan waktu hingga 10 tahun.
Artinya, setiap busana yang dikenakan bukan hanya soal fashion, tetapi juga tentang sejarah, kesabaran, dan warisan budaya yang terus hidup.

Outer yang Bercerita tentang Indonesia
Salah satu koleksi paling menarik perhatian adalah Outer Peta Wastra. Sekilas terlihat seperti cardigan sederhana. Namun ketika dilihat dari belakang, terdapat ilustrasi peta Indonesia yang dihiasi potongan kain tenun asli dari setiap pulau asalnya.
Dalam ajang ini, Trias Kuncahyono dan Atie Nitiasmoro didapuk fashion show tampak mengenakan outer warna hijau tosca yang keren lengkap dengan tenun sebagai ikat kepala.
“Outer dengan peta wastra ini merupakan karya tingkat tinggi dan sesuai dengan trend fashion saat ini. Keren banget,” ungkap Atie.
Seluruh busana ini dibuat menggunakan pewarna alami, sehingga tidak hanya indah dipandang tetapi juga lebih ramah lingkungan.
Konsep ini seolah mengingatkan bahwa Indonesia begitu kaya akan keberagaman budaya, namun tetap terhubung dalam satu cerita besar.
Fashion Tradisional yang Siap Dipakai Anak Muda
Salah satu kekuatan OERIP adalah kemampuannya mengubah kain tradisional menjadi busana yang terasa modern. Koleksinya didesain unisex, berukuran one size, nyaman dipakai sehari-hari, dan bisa dikenakan oleh berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Inilah bukti bahwa memakai kain tradisional tidak harus terlihat kaku atau terlalu formal.
Justru tenun bisa menjadi bagian dari gaya hidup anak muda yang ingin tampil unik sekaligus mencintai budaya sendiri.

Ramah Lingkungan Sejak Proses Produksi
Selain memberdayakan para penenun perempuan, OERIP juga konsisten menggunakan bahan pewarna alami.
Warna-warna cantik pada koleksi mereka berasal dari berbagai tanaman seperti:
• Indigo
• Kayu secang
• Mengkudu
• Kulit mangga
• Kunyit
Pendekatan ini membuat setiap koleksi terasa semakin istimewa karena menggabungkan nilai budaya, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Lebih dari Fashion Show
Acara “Women, Thread, and Time” juga menghadirkan pertunjukan tari kontemporer berjudul “Weaving the Traditional Textiles of the Indonesian Archipelago”.
Tarian ini menggambarkan perjuangan, ketangguhan, dan dedikasi perempuan Indonesia dalam menjaga tradisi menenun dari generasi ke generasi.
Pesan yang ingin disampaikan pun sederhana namun kuat: di balik setiap lembar kain tenun, ada kisah tentang perempuan, keluarga, identitas, dan budaya yang tidak boleh hilang.

Saatnya Bangga Memakai Wastra Nusantara
Selama ini banyak orang menganggap tenun hanya cocok disimpan di lemari atau dikenakan saat acara resmi. Padahal, karya-karya seperti yang ditampilkan OERIP membuktikan bahwa wastra Nusantara bisa tampil modern tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari desa-desa tempat para penenun berkarya, hingga panggung budaya di Roma, perjalanan kain tenun Indonesia menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah ketinggalan zaman. Justru ketika dikemas dengan kreativitas dan semangat kolaborasi, warisan budaya mampu berbicara kepada dunia.
Dan mungkin, cara paling sederhana untuk ikut menjaga warisan itu adalah dengan mulai bangga mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap helai tenun bukan sekadar kain, melainkan cerita Indonesia yang terus ditenun untuk masa depan. ***































