• 2026-07-09
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

SIAPA bilang sidang promosi doktor selalu identik dengan suasana tegang dan formal? Pemandangan berbeda justru terlihat di Auditorium Toety Heraty Noerhadi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Rabu (8/7/2026).

Sejak memasuki area sidang, para tamu langsung disambut deretan manekin berkebaya yang menghiasi ruangan. Bukan dekorasi biasa, melainkan bagian dari perjalanan panjang seorang desainer kebaya yang hari itu resmi menyandang gelar doktor.

Dialah Lenny Agustin Ernawati, fashion designer yang selama bertahun-tahun dikenal lewat karya-karya kebayanya. Kini, ia membuktikan bahwa kecintaannya terhadap kebaya tidak berhenti di dunia mode, tetapi juga melahirkan kajian akademik yang mendalam.

Lewat disertasi berjudul “Kebaya Modern sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan”, Lenny sukses mempertahankan argumentasinya di hadapan para penguji.

Auditorium dipenuhi para pelaku UMKM kebaya, komunitas pecinta kebaya, hingga pegiat budaya yang hadir anggun mengenakan kebaya dengan beragam model dan warna. Bahkan banyak peserta harus berdiri karena seluruh kursi telah terisi.

Ketika Kebaya Menjadi Alat Politik Budaya

Disertasi Lenny mengangkat satu pertanyaan besar yang mungkin belum banyak dipikirkan, mengapa kebaya akhirnya diterima sebagai busana nasional perempuan Indonesia?

Di balik popularitasnya, ternyata ada proses panjang yang melibatkan negara, kekuasaan, media, dunia mode, hingga tubuh perempuan itu sendiri.

Sidang dipromotori oleh Prof. Dr. Bambang Wibawarta, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, dengan kopromotor Dr. Didik Pradjoko.

Salah satu penguji, Dr Linda Sunarti, menilai penelitian Lenny sangat relevan karena berhasil menempatkan kebaya modern sebagai sebuah artefak budaya.
Menurut Linda, pada masa Orde Baru, sosok Ibu Tien Soeharto bersama organisasi Dharma Wanita menjadi representasi perempuan ideal dalam balutan kebaya.
Namun ia mengajukan pertanyaan yang cukup kritis.

“Apakah perempuan pada masa itu benar-benar memilih memakai kebaya secara sukarela? Atau ada unsur tekanan negara sehingga mereka patuh? Apakah pernah muncul penolakan atau bentuk resistensi terhadap kebijakan tersebut?”


Perempuan Modern Sempat Menolak Kebaya

Menjawab pertanyaan itu, Lenny menjelaskan bahwa pembentukan identitas perempuan Indonesia pada masa Orde Baru memang tidak berlangsung tanpa dinamika.

Saat gelombang modernisasi semakin kuat, banyak perempuan yang justru merasa kebaya tradisional kurang praktis untuk aktivitas sehari-hari.
“Berkebaya itu dianggap ribet. Harus memakai kemben, stagen, membuat dada terasa sesak, bahkan langkah berjalan menjadi lebih pelan,” papar Lenny dalam sidang.

Namun, di sinilah inovasi mulai mengambil peran. Menurutnya, Ibu Tien Soeharto memberikan ruang kepada para desainer kebaya untuk berkreasi.

Kebaya yang sebelumnya menggunakan bros mulai diberi kancing. Penutup kain mulai memakai resleting. Potongan menjadi lebih sederhana tanpa meninggalkan identitasnya.

Media mode dan majalah perempuan saat itu juga ikut memperkenalkan kebaya dengan sentuhan tren internasional.

Perubahan-perubahan kecil inilah yang perlahan membuat perempuan modern merasa lebih nyaman mengenakan kebaya. “Perempuan yang awalnya menolak akhirnya mulai merasa terakomodasi,” jelas Lenny.

Meski begitu, menurutnya, inovasi tetap memiliki batas. Sekitar 30 persen perubahan masih dianggap dapat ditoleransi, sementara selebihnya harus tetap mempertahankan pakem kebaya agar identitas budayanya tidak hilang.

Saat Kebaya Kehilangan Figur Panutan

Diskusi sidang semakin menarik ketika penguji tamu dari Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dr. Nita Trismaya, mengangkat isu mengenai peran ibu negara dalam perjalanan kebaya sebagai busana nasional.

Menurut Nita, pada masa Orde Baru, sosok ibu negara memiliki posisi yang sangat kuat dalam membentuk citra perempuan Indonesia. Kehadiran Ibu Tien Soeharto yang konsisten mengenakan kebaya membuat busana ini selalu hadir dalam ruang publik dan menjadi simbol perempuan Indonesia.

Namun setelah era Reformasi, menurutnya, figur ibu negara tidak lagi memiliki peran yang sama dalam mendorong penggunaan kebaya. Kebaya kini lebih sering muncul pada momen-momen tertentu, sehingga muncul pertanyaan apakah hilangnya relasi kuasa tersebut ikut membuat kebaya semakin jarang dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak muda sekarang mungkin tidak lagi melihat ibu negara sebagai role model. Mereka lebih banyak mengikuti influencer di media sosial. Ketika relasi kuasa itu menghilang, apakah kebaya ikut terabaikan?” ujar Nita dalam sesi tanya jawab.

Menanggapi hal itu, Lenny Agustin menjelaskan bahwa meski Ibu Tien Soeharto selalu tampil berkebaya, keberhasilan kebaya bertahan tidak semata-mata karena sosok ibu negara.

Menurutnya, Ibu Tien memang menghadirkan citra perempuan Indonesia yang anggun, rapi, berkebaya, dan bersanggul sebagai representasi perempuan ideal pada masa itu. Di sisi lain, pemerintah juga memberi ruang kepada para desainer kebaya melalui berbagai ajang dan penghargaan sehingga kreativitas mereka terus berkembang.

Lenny menambahkan, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono juga tetap mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan, namun pendekatannya lebih bersifat memberi teladan daripada mendorong secara formal.

Di era digital saat ini, menurut Lenny, tantangannya berbeda. Jika dahulu figur ibu negara menjadi panutan, kini media sosial memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. Karena itu, diperlukan lebih banyak figur publik, kreator konten, hingga influencer yang konsisten mengenakan kebaya agar generasi muda kembali melihat kebaya sebagai busana yang relevan, modis, dan membanggakan.

Praktisi yang Berhasil Menembus Dunia Akademik

Bagi Prof. Bambang Wibawarta, perjalanan Lenny merupakan contoh menarik tentang bagaimana seorang praktisi mampu memberikan kontribusi ilmiah.
Menurutnya, tidak mudah berpindah dari dunia fashion menuju dunia akademik. Dalam pandangannya, kreativitas desainer dan ilmuwan sebenarnya memiliki kesamaan.

Seorang desainer terbiasa merevisi potongan, warna, motif, hingga siluet pakaian agar menghasilkan karya terbaik. Sementara akademisi terus merevisi argumen, teori, dan analisis hingga menjadi karya ilmiah yang kuat.

“Kalau desainer mengecilkan lingkar pinggang, akademisi mengecilkan jumlah halaman,” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.

Ia juga menegaskan bahwa kebaya mampu bertahan selama ratusan tahun karena selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Kebaya Terus Hidup Bersama Zamannya

Sidang promosi doktor ini menjadi pengingat bahwa kebaya bukan sekadar pakaian tradisional.

Di balik setiap lipatan kain, tersimpan cerita tentang identitas bangsa, politik budaya, perjuangan perempuan, hingga kemampuan sebuah warisan budaya untuk terus beradaptasi.

Lewat penelitian ini, Lenny menunjukkan bahwa inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru dengan terus bertransformasi, kebaya berhasil tetap relevan di berbagai generasi.

Atas keberhasilannya mempertahankan disertasi tersebut, Lenny Agustin Ernawati dinyatakan lulus dengan IPK 3,81 dan resmi menjadi doktor ke-496 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sebuah pencapaian yang sekaligus menjadi inspirasi bahwa kecintaan terhadap budaya bisa diwujudkan, tidak hanya melalui karya, tetapi juga lewat penelitian yang memperkaya pengetahuan tentang kebaya Indonesia. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *