
Hello Kebaya Lovers!
Setelah berkenalan dengan Batik Belanda dan Batik Hokokai, sekarang kita akan mengupas berkenalan batik pesisir yang punya warna merah ikonik dan cerita akulturasi budaya yang menarik, Batik Lasem. Bayangkan kain batik dengan warna merah menyala, motif burung hong, naga, hingga tanaman bambu yang berpadu dengan ragam hias khas Jawa.
Sekilas, kita akan melihat sentuhan budaya Tiongkok. Namun, kalau diperhatikan lebih dekat, Batik Lasem menyimpan cerita tentang pertemuan masyarakat, sejarah kolonial, kehidupan pesisir, dan kreativitas para pembatik yang diwariskan lintas generasi.
Bukan sekadar kain cantik untuk melengkapi kebaya, Batik Lasem juga menjadi bukti bahwa perbedaan budaya bisa melahirkan karya yang unik dan punya karakter kuat.
Lasem, Kota Kecil dengan Jejak Budaya yang Kaya
Lasem merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Letaknya berada di pesisir utara Pulau Jawa, kawasan yang sejak berabad-abad lalu menjadi jalur penting perdagangan dan pertemuan berbagai bangsa.
Lasem dikenal dengan julukan Tiongkok Kecil karena memiliki sejarah panjang komunitas Tionghoa. Di kawasan ini, kita masih bisa menemukan rumah-rumah tua berarsitektur Tionghoa, klenteng bersejarah, serta lingkungan permukiman yang memperlihatkan jejak kehidupan masyarakat lintas budaya.
Salah satu bangunan bersejarah yang dikenal di Lasem adalah Klenteng Cu An Kiong. Keberadaan bangunan ini menjadi bagian dari kisah panjang komunitas Tionghoa yang berkembang di kawasan pesisir tersebut.
Namun, Lasem bukan hanya tentang budaya Tionghoa. Kehidupan masyarakatnya juga dibentuk oleh tradisi Jawa, aktivitas perdagangan, agama, serta perjumpaan dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Eropa, pada masa kolonial. Menariknya, kehidupan lintas budaya itu tidak hanya terlihat dari bangunan dan tradisi masyarakat. Jejaknya juga terekam pada selembar kain bernama Batik Lasem.
Bagaimana Batik Lasem Lahir?
Sejarah Batik Lasem tidak bisa dilepaskan dari perkembangan komunitas Tionghoa di pesisir utara Jawa. Hubungan perdagangan dan perpindahan penduduk selama berabad-abad membuka ruang bagi pertukaran keterampilan, pengetahuan, dan selera seni.
Dalam perjalanan sejarahnya, keterampilan membatik berkembang di tengah masyarakat Lasem. Para pembatik setempat mengolah ragam hias yang dikenal dalam tradisi Tionghoa, kemudian memadukannya dengan unsur alam, lingkungan, dan selera visual masyarakat Jawa.
Dari proses pertemuan budaya tersebut, berkembanglah Batik Lasem dengan karakter yang khas. Motif burung hong, naga, dan bambu, misalnya, mengingatkan kita pada ragam hias Tionghoa. Sementara itu, motif yang terinspirasi dari lingkungan pesisir dan kehidupan masyarakat setempat memperlihatkan kedekatan batik ini dengan tanah kelahirannya.
Jadi, Batik Lasem bukan sekadar batik dengan motif Tionghoa. Kekuatan utamanya justru terletak pada proses akulturasi, ketika berbagai pengaruh budaya bertemu dan diolah menjadi ekspresi seni yang memiliki identitas lokal.
Merah Getih Pitik, Warna yang Jadi Ikon Batik Lasem
Kalau ada satu hal yang langsung membuat Batik Lasem mudah dikenali, jawabannya adalah warna merahnya. Batik Lasem terkenal dengan warna merah yang disebut getih pitik, yang secara harfiah berarti darah ayam. Warna ini memiliki karakter merah kuat dan khas, sehingga menjadi salah satu identitas visual Batik Lasem yang paling populer.
Selain merah, Batik Lasem juga dikenal menggunakan warna biru tua dan hijau. Perpaduan warna tersebut menghadirkan tampilan yang berani, kontras, tetapi tetap harmonis.
Dalam tradisi Batik Lasem, warna merah juga kerap dikaitkan dengan pengaruh estetika Tionghoa. Namun, daya tariknya tidak berhenti pada makna warna. Teknik pewarnaan, pilihan motif, dan komposisi ragam hias membuat setiap kain memiliki karakter tersendiri.
Warna merah khas Lasem pun menjadi salah satu alasan batik ini mudah dikenali di antara beragam batik pesisir Indonesia.
Batik Lasem memiliki banyak variasi. Perbedaannya bisa dilihat dari kombinasi warna, motif, dan teknik pengerjaan. Salah satu yang paling dikenal adalah Batik Tiga Negeri.
1. Batik Tiga Negeri
Batik Tiga Negeri merupakan salah satu tradisi batik yang identik dengan proses pewarnaan di tiga wilayah berbeda, yang secara historis dikenal melibatkan Lasem, Pekalongan, dan Solo.
Setiap wilayah memiliki karakter warna yang khas. Lasem terkenal dengan warna merahnya, Pekalongan dengan warna biru, dan Solo dengan warna cokelat atau sogan. Perpaduan tersebut menghasilkan kain dengan warna yang kaya sekaligus mencerminkan perjalanan produksi batik lintas daerah.
Prosesnya membutuhkan keterampilan dan ketelitian karena setiap tahap pewarnaan harus dilakukan dengan memperhatikan bagian motif yang akan diberi warna.
Batik Tiga Negeri juga menjadi gambaran menarik tentang hubungan antardaerah dalam tradisi batik. Sebuah kain dapat menyimpan jejak keterampilan dari lebih dari satu pusat produksi batik di Pulau Jawa. Meski demikian, istilah Batik Tiga Negeri memiliki sejarah dan variasi praktik yang kompleks. Tidak semua Batik Lasem otomatis termasuk Batik Tiga Negeri.
2. Batik Bang Biru
Selain Batik Tiga Negeri, dikenal pula sebutan bang biru, yang merujuk pada perpaduan warna merah dan biru. Kata bang merupakan singkatan dari merah, sedangkan biru merujuk pada warna biru. Kombinasi ini menghadirkan kontras yang menarik, terutama ketika warna merah khas Lasem bertemu dengan biru pada motif-motifnya. Sebutan dan pengelompokan warna batik dapat berbeda menurut tradisi pembatik dan daerah, sehingga tidak semua variasi warna memiliki klasifikasi yang sama.
3. Batik Lasem dengan Ragam Warna dan Motif
Dalam perkembangannya, Batik Lasem juga hadir dengan berbagai pilihan warna dan komposisi motif. Ada kain yang menonjolkan merah sebagai warna utama, ada yang memadukan merah dan biru, dan ada pula yang menghadirkan warna lain sesuai kreativitas pembatik.
Variasi ini menunjukkan bahwa Batik Lasem bukan tradisi yang berhenti pada satu tampilan. Para pembatik terus mengembangkan desain, tanpa harus meninggalkan karakter yang membuatnya dikenal.
Motif Batik Lasem: Dari Burung Hong hingga Batu Pecah
Salah satu keistimewaan Batik Lasem adalah ragam motifnya. Beberapa motif memperlihatkan pengaruh budaya Tionghoa, sementara lainnya terinspirasi dari lingkungan alam dan pengalaman historis masyarakat setempat.
1. Burung Hong
Burung hong atau fenghuang merupakan burung mitologis dalam tradisi Tionghoa. Dalam ragam hias, burung ini sering diasosiasikan dengan keanggunan, keharmonisan, dan keberuntungan.
Motif burung hong pada Batik Lasem memperlihatkan kuatnya pengaruh seni Tionghoa dalam perkembangan batik pesisir.
2. Naga
Naga merupakan salah satu simbol yang populer dalam seni dan kebudayaan Tionghoa. Sosoknya sering dikaitkan dengan kekuatan, kemakmuran, dan keberuntungan.
Ketika dituangkan ke dalam kain batik, bentuk naga menghadirkan kesan dinamis sekaligus menjadi penanda pertemuan tradisi visual Tionghoa dengan keterampilan membatik masyarakat Jawa.
3. Bambu
Motif bambu juga dikenal dalam ragam hias yang dipengaruhi budaya Tionghoa. Bambu kerap dimaknai sebagai simbol ketahanan, kelenturan, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi perubahan.
Motif ini menjadi contoh bagaimana unsur alam dapat diolah menjadi simbol yang memiliki nilai estetika sekaligus filosofis.
4. Latoan
Berbeda dari motif yang terinspirasi ragam hias Tionghoa, latoan berangkat dari lingkungan alam pesisir Lasem.
Latoan merupakan sejenis rumput laut yang dikenal masyarakat setempat dan dapat diolah sebagai bahan makanan. Bentuknya yang khas kemudian menjadi inspirasi motif batik.
Motif latoan memperlihatkan kedekatan pembatik dengan lingkungan tempat mereka hidup. Alam bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga sumber ide untuk berkarya.|
5. Watu Pecah atau Kricak
Motif watu pecah, yang juga dikenal sebagai kricak, memiliki cerita sejarah yang menyentuh.
Motif ini sering dikaitkan dengan pembangunan Jalan Raya Pos pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pembangunan jalan tersebut melibatkan kerja paksa dan penderitaan masyarakat, termasuk di wilayah Rembang dan sekitarnya.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, batu-batu yang dipecah untuk pembangunan jalan menjadi inspirasi motif yang kemudian dikaitkan dengan kesedihan dan penderitaan rakyat.
Meski rincian sejarah dan penafsiran motif ini perlu dilihat dalam konteks sumber masing-masing, cerita watu pecah memperlihatkan bagaimana pengalaman sosial dapat meninggalkan jejak dalam seni batik.
Dari sini kita belajar bahwa motif batik tidak selalu lahir dari keindahan alam atau simbol keberuntungan. Ada pula motif yang menyimpan ingatan kolektif tentang masa lalu.
6. Sekar Jagad
Sekar Jagad dikenal sebagai motif yang menampilkan susunan bidang-bidang menyerupai pecahan bentuk atau peta. Nama sekar jagad kerap dimaknai sebagai bunga dunia atau keindahan dunia.
Dalam perkembangan Batik Lasem, motif ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai unsur ragam hias. Salah satu pengembangannya bahkan memadukan motif Sekar Jagad dengan aksara Tionghoa.
Pengembangan motif seperti ini memperlihatkan bahwa akulturasi budaya bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga terus berlangsung melalui kreativitas para pembatik.
Museum Batik Tiga Negeri Lasem
Kalau ingin mengenal Batik Lasem lebih jauh, ada satu tempat yang menarik untuk masuk ke daftar kunjungan budaya kamu: Museum Batik Tiga Negeri Lasem.
Museum ini berfokus pada sejarah dan perkembangan Batik Lasem, terutama tradisi Batik Tiga Negeri yang dikenal melalui perpaduan warna dan pengaruh budaya lintas wilayah.
Gagasan pendirian museum bermula pada 2019 melalui inisiatif Rudy Hartono dan Agni Malagina. Salah satu latar belakangnya adalah penemuan sketsa motif batik karya Johanna Tjoa di rumah peninggalan keluarga Tjoa di Lasem. Temuan tersebut membuka kesempatan untuk menelusuri kembali jejak sejarah batik dan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.
Pada tahap awal, museum menempati paviliun Rumah Johanna Tjoa. Pada 2024, museum kemudian berpindah ke bangunan baru yang difungsikan sebagai museum sekaligus galeri batik. Museum ini dikaitkan dengan upaya pelestarian sejarah dan budaya Lasem yang didukung oleh Yayasan Lasem Heritage.
Kehadiran museum menjadi penting karena sejarah batik tidak selalu bisa dipahami hanya dengan melihat kain yang sudah jadi. Di balik setiap motif, ada perjalanan manusia, pertukaran keterampilan, perubahan selera, dan dinamika sosial yang ikut membentuknya.
Museum Batik Tiga Negeri Lasem juga memiliki potensi sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal sejarah batik, memahami proses kreatif pembatik, serta mengapresiasi warisan budaya secara lebih mendalam.
Jadi, kalau suatu hari kamu berkunjung ke Lasem, jangan hanya berburu foto di bangunan-bangunan tuanya. Mengenal sejarah batiknya juga bisa menjadi pengalaman yang tak kalah menarik! Nah, Batik Belanda, Batik Hokokai dan Batik Lasem adalah asli karya perajin Indonesia. Hanya saja ketiga batik ini terinspirasi dari Belanda, Jepang dan Tionghoa, tiga kebangsaan yang orang-orangnya tinggal lama di Indonesia. Jadi jangan salah ya, Kebaya Lovers! *** Tulisan dikutip dari berbagai sumber.


































