
Hello Kebaya Lovers!
SOLO memang nggak pernah kehabisan cerita soal seni dan budayanya. Di setiap sudut kotanya, tradisi seperti ikut bernafas bareng warganya. Dari aroma tahok hangat di gang Pecinan, suara lembut gamelan dari Keraton Kasunanan Surakarta, sampai jemparingan alias panahan gaya keraton yang penuh filosofi. Semuanya membentuk karakter khas Solo, kota yang selalu jadi pusat denyut budaya Jawa.
Dan kabar gembiranya, sebanyak 14 tradisi asli Kota Solo baru aja resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2025 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penetapan ini dilakukan dalam Sidang Penetapan WBTb Nasional di Jakarta, 10 Oktober 2025 lalu. Kabar ini langsung bikin bangga warga Solo dan pecinta budaya di seluruh Indonesia.
Perwakilan dari Keraton Kasunanan Surakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai Kusuma, bilang tahun 2025 jadi momen bersejarah karena Solo jadi daerah dengan jumlah tradisi terbanyak yang lolos jadi WBTb nasional.
“Solo tahun ini mencatat sejarah, karena menjadi daerah dengan jumlah terbanyak yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sebanyak 14 tradisi sekaligus,” kata Rumbai seperti dikutip dari tempo.co.
Dan kalau disimak satu per satu, ragam warisan budaya ini keren banget, mencakup kuliner, seni tari, tradisi keraton, olahraga tradisional, sampai teknologi tradisional.
Dari Tahok Hangat sampai Bubur Samin Ramadan
Dua tradisi kuliner khas Solo yang masuk daftar ini adalah tahok dan bubur samin Masjid Darussalam Jayengan. Tahok itu minuman hangat dari sari kedelai lembut yang disiram kuah jahe manis, hasil perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.
Sementara bubur samin jadi tradisi Ramadan yang udah turun-temurun. Setiap sore, ribuan warga ngumpul di Masjid Darussalam Jayengan buat berbuka bareng bubur samin, resepnya diwariskan dari para perantau Samin asal Kalimantan.
Tradisi ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal kebersamaan dan gotong royong yang udah jadi DNA orang Solo.
Delapan Tari Keraton dan Lagu Bengawan Solo
Dari kategori seni pertunjukan, ada delapan tari klasik dari Keraton Surakarta yang ikut masuk daftar WBTb: Tari Bedhaya Doro Dasih, Tari Bedhaya Sukoharjo, Tari Srimpi Gondokusumo, Tari Srimpi Lobong, Tari Adaninggar Kelasworo, Tari Prawirowatang, dan Tari Golek Lambang Sari.
Dan jangan lupa, karya legendaris “Bengawan Solo” ciptaan Gesang Martohartono juga ikut diakui. Lagu ini udah jadi simbol keindahan Sungai Bengawan sekaligus cinta orang Solo pada alam dan kehidupan. “Warisan seperti tari Bedhaya dan Srimpi itu nggak cuma indah dilihat, tapi juga punya filosofi hidup yang dalam,” ujar GPH Dipokusumo dari Keraton Surakarta.
Tradisi Pernikahan, Panahan, dan Teknologi Tradisional
Dalam katagori adat istiadat, ada Pengantin Solo Basahan Gaya Surakarta, prosesi pernikahan klasik yang anggun dan sarat makna filosofis. Sementara di katagori olahraga tradisional, ada Jemparingan Surakarta, panahan gaya keraton yang mengajarkan ketenangan dan konsentrasi — bukan cuma otot, tapi juga olah rasa.
Ada juga Canthik Kyai Rojo Molo, cerita rakyat legendaris dari Solo, serta Kembar Mayang Surakarta, seni menghias janur dan bunga dalam prosesi pernikahan tradisional.
Berikut daftar lengkap 14 Warisan Budaya Solo yang Ditetapkan WBTb 2025:
1. Pengantin Solo Basahan Gaya Surakarta
2. Tahok
3. Bubur Samin Masjid Darussalam
4. Tari Bedhaya Doro Dasih
5. Tari Bedhaya Sukoharjo
6. Tari Srimpi Gondokusumo
7. Tari Srimpi Lobong
8. Tari Adaninggar Kelasworo
9. Tari Prawirowatang
10. Tari Golek Lambang Sari
11. Lagu Bengawan Solo
12. Jemparingan Surakarta
13. Canthik Kyai Rojo Molo
14. Kembar Mayang Surakarta
Jangan Lupakan Akar Budaya Kita
Di tengah dunia yang makin digital dan cepat banget berubah, kabar ini jadi pengingat penting buat anak muda Indonesia agar tetap mencintai dan mengenal budayanya sendiri.
Budaya lokal itu bukan sesuatu yang kuno, tapi cermin dari jati diri bangsa. Dari batik, tari, musik, sampai kuliner tradisional, semuanya mengandung filosofi, nilai moral, dan keindahan yang membentuk karakter baik dalam masyarakat Indonesia.
Solo sudah memberi contoh bahwa tradisi bisa tetap hidup, bahkan di tengah zaman yang serba modern. Sekarang, giliran kita untuk menjaga, mengenal, dan merayakan budaya sendiri. Karena dari sinilah akar kita tumbuh, dan dari sinilah karakter Indonesia lahir. ***














































