• 2025-12-11
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello, Kebaya Lovers!

MOMEN peringatan Hari Disabilitas Internasional (3 Desember) dan Hari Ibu (22 Desember) tahun ini terasa beda. Rabu sore (10/12/2025), Atrium Lippo Mall Nusantara berubah jadi panggung penuh rasa—hangat, emosional, dan sarat makna.

Lewat acara bertajuk “DUNIA TANPA BATAS”, Yayasan Sekar Ayu Jiwanta menghadirkan pertunjukan yang menyatukan seni, budaya, kebaya, serta kisah ketangguhan perempuan dan anak disabilitas. Bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman yang bikin banyak orang terdiam, bahkan menitikkan air mata.

Di balik gelaran ini, ada sosok Emi Wiranto, pendiri dan pembina Yayasan Sekar Ayu Jiwanta, yang menjadi ruh utama acara. Melalui DUNIA TANPA BATAS, Emi ingin mengingatkan kita semua akan satu hal penting yang sering terlupakan: budaya Indonesia seharusnya jadi rumah yang ramah untuk semua, tanpa kecuali.

“Melalui DUNIA TANPA BATAS, kami ingin menunjukkan bahwa budaya Indonesia—termasuk busana Nusantara—adalah ruang yang ramah bagi semua, termasuk perempuan dan anak disabilitas. Di balik penampilan di panggung, ada perjalanan panjang para ibu yang setiap hari berdiri sebagai penopang utama,” ujar Emi.

Bukan tanpa alasan acara ini digelar di antara dua peringatan penting. Bagi Emi, Hari Disabilitas dan Hari Ibu adalah dua hal yang nggak bisa dipisahkan. Anak disabilitas dan ibu adalah dua kekuatan yang tumbuh bersama, saling menguatkan, dan saling melengkapi.

Rangkaian acara dibuka oleh Deaf Art Production, kelompok penari tuna rungu yang tampil penuh ekspresi. Tanpa suara, tapi pesannya nyampe banget: seni adalah bahasa universal. Setelah itu, Rawinala Band—yang beranggotakan sahabat tuna netra ganda—mengisi atrium dengan dua lagu penuh energi positif, disambut tepuk tangan panjang dari pengunjung mal.

Puncak pesan inklusi terasa saat Fashion Show Inklusif digelar. Karya Nita Seno Adji x Sthya dan Shawl & Co. melenggang di runway, tapi yang bikin merinding bukan cuma busananya. Para figur publik berjalan berdampingan dengan anak-anak disabilitas dari program Sakala Jiwa—mulai dari disabilitas rungu, netra, grahita, hingga daksa dengan kursi roda.

Mereka bukan sekadar model. Ada yang juara modelling, menyanyi, menari, bermain catur, hingga tenis meja. Kursi roda, pendamping, dan jeda langkah sama sekali nggak mengurangi keanggunan. Justru di situlah pesannya terasa kuat: kebaya dan budaya Nusantara memang milik semua orang.

Salah satu momen paling mengharukan hadir lewat Award Ibu Inspiratif. Penghargaan ini bukan cuma simbol, tapi bentuk pengakuan nyata atas perjuangan para ibu—yang setiap hari setia mengantar terapi, berjuang di sistem pendidikan, dan tetap menjadi sumber semangat utama di rumah.

Bagi Emi Wiranto, penghargaan ini terasa sangat personal.

“Acara ini adalah penghormatan kami kepada para ibu. Mereka mungkin tidak selalu terlihat di panggung, tapi merekalah pahlawan sebenarnya,” ungkapnya.

Ketua panitia Aylawati Sarwono menegaskan bahwa DUNIA TANPA BATAS bukan sekadar event seremonial.

“Kami ingin pengunjung mal yang lewat, keluarga yang datang, semua bisa merasakan bahwa inklusi itu nyata. Saat semua berbagi panggung, di situ kita melihat Indonesia yang kita impikan,” katanya.

Hal senada disampaikan Sendang Wangi, wakil ketua acara, yang menekankan pentingnya ekosistem berkelanjutan bagi anak disabilitas dan keluarganya. Sementara itu, Camelia Fena, penanggung jawab acara, memastikan seluruh penampil merasa aman, dihormati, dan benar-benar diberi ruang untuk bersinar.

Acara ini juga semakin semarak dengan apresiasi Lomba Lagu Lestari Kebaya Indonesia. Lagu “Lestari Kebaya Indonesia” kembali menggema di atrium dan menjadi semacam anthem kebanggaan para penggiat kebaya, perempuan, dan generasi muda.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), yang melihat DUNIA TANPA BATAS sebagai contoh kolaborasi nyata antara pemerintah, komunitas budaya, dan ruang publik.

Menutup rangkaian acara, Emi Wiranto kembali menyampaikan harapannya—sederhana, tapi penuh makna.

“Anak disabilitas berhak punya panggung. Ibu-ibu yang mendampingi mereka berhak diapresiasi. Kalau hari ini kita bisa berkumpul dalam satu ruang penuh cinta dan kebanggaan, saya percaya Indonesia bisa melangkah menuju dunia yang benar-benar tanpa batas.” 

Wahh keren ya Kebaya Lovers! . Ibu Emi Wiranto emang panutan! ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *