• 2026-06-25
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

PERNAH nggak sih kalian merasa kalau hobi atau cita-cita masa kecil itu sebenarnya “peta” buat masa depan kita? Kali ini, kebayastory berkesempatan ngobrol bareng Kristin Samah, penulis yang menelurkan sejumlah buku best seller. 

Kristin bukan cuma penulis produktif yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik selama 25 tahun, tapi juga sosok yang punya deep connection sama kebaya. Penasaran gimana ceritanya dari mantengin harga cabai sampai jadi penulis buku yang vokal soal budaya? Cekidot!

Bukan Mimpi Jadi Wartawan, Tapi Jadi Penulis

Siapa sangka, sosok senior di dunia media ini dulunya nggak pernah mimpi jadi jurnalis. Mimpinya cuma satu, jadi Penulis.

Kristin kecil yang tinggal di Jogja seneng banget baca koran yang kala itu jadi barang mewah karena tidak semua keluarga mampu beli atau berlangganan. Nah, ia  sering banget baca koran di papan pengumuman publik atau “nyolong start” baca koran di Yayasan Pendidikan Kristen tempat orangtuanya bekerja.  

“Kebetulan kami tinggal di salah satu sekolah, jadi saya baca koran sebelum yang punya. Saya suka baca yang lucu-lucu, kayak di Koran Kedaulatan Rakyat. Tulisannya pendek, mudah dipahami, dan biasanya lucu,” ungkap Kristin.

Kristin juga suka baca kolom kritis “Cemplon” karya Umar Nur Zain di harian sore Sinar Harapan. Sampai-sampai ia membayangkan jadi Cemplon, sosok perempuan cerdas, kritis, dan satire.  Tak disangka, di kemudian hari Umar Nur Zain (alm) menjadi senior Kristin Ketika  bekerja di Suara Pembaruan (perubahan dari Sinar Harapan).  “Ternyata untuk menjadi penulis, jalannya melalui jurnalistik dulu,” kenangnya.

Mental Baja: Dari Harga Cabai ke Hawaii

Perjalanan karir Kristin jadi penulis nggak mudah. Ia mulai bekerja di LKBN Antara, bagian Info Pasar. Tugasnya? Mantengin harga cabai, bawang merah, sampai angka inflasi tiap hari.  “Informasi harga komoditas itu menjadi bagian dari memori masa kecil karena ibu saya selalu menyuruh kami tidur ketika RRI sudah menyiarkan berita malam dan memberitakan tentang harga komoditas,” paparnya. 

Meskipun tidak lama bekerja di Info Pasar,  pengalaman ini sangat membekas karena ada pelajaran penting, ketekunan membaca data. Setiap bulan ia diminta membaca beberapa buku keluaran Badan Pusat Statistik (BPS) dengan angka yang kecil-kecil untuk kemudian dibuat narasi dalam bentuk berita. Sadisnya lagi, tulisan pertamanya pernah diremas dan dibuang ke tempat sampah oleh editor!

“Waktu itu saya nangis. Beruntung teman-teman sekantor cukup baik, mereka menghibur dan memberi contoh tulisan yang sudah jadi supaya bisa dipelajari pola dan cara penulisannya,” kata Kristin.

Tapi, mental baja itu yang bikin dia bertahan 25 tahun jadi jurnalis sampai akhirnya tahun 2016, saat ikut Leadership Training di Hawaii, dia memantapkan hati: “Gue harus fokus jadi penulis!” Keputusannya nggak mudah karena harus ngelepas pendapatan rutin, tapi Kristin membuktikan kalau fokus dan restu Tuhan bisa bikin semuanya lancar.

Selama menjadi jurnalis, ungkap Kristin, ia senang jika dikasih penugasan bikin artikel analisis berita atau feature, bukan sekadar berita-berita pendek atau hard news. “Beberapa kali saya bergabung dalam tim penulisan buku meskipun masih sebagai asisten. Ini seperti jadi pintu masuk cita-cita saya jadi penulis,” tegasnya.

Oiya, sebelum jadi penulis, Kristin sempat membangun agency ,  “Kinarya Communication” bersama Atie Nitiasmoro, mantan jurnalis senior yang juga pegiat kebaya. 

Menulis = Healing

Selain menulis buku, Kristin juga menjadi pembicara sejumlah pelatihan menulis. Pengalaman yang paling membekas baginya ketika memberikan pelatihan menulis adalah ‘ketakutan’ peserta tidak bisa menulis. Kebanyakan menganggap sekali latihan langsung bisa menulis artikel atau bahkan buku. Padahal proses menulis itu gabungan antara kemauan, kerja keras, dan disiplin. Soal tema, teknik penulisan, bagaimana memulainya, dan lain sebagainya, itu hanyalah teknis yang bisa dipelajari.

Buat kalian yang merasa menulis itu berat, Kristin punya pesan simple, menulis itu kayak belajar naik sepeda atau renang. Harus latihan terus! Salah satu bukunya, “Menulis Membaca Kehidupan”, lahir dari refleksi saat pandemi. Ia percaya kalau menulis itu bisa jadi alat buat menjaga kesehatan mental. Jadi, kalau kalian lagi pusing atau ngerasa burnout, coba deh tuangkan ke tulisan. It saves lives!

Kebaya: Lebih dari Sekadar Fashion

Nah, ini yang paling menarik buat kita para kebaya enthusiast. Kristin adalah salah satu penggerak berkebaya dalam berbagai aktivitas hingga busana kebanggaan kita ini makin dicintai perempuan Indonesia. Baginya, kebaya itu bukan cuma baju buat kondangan atau biar kelihatan cantik di Instagram. “Kebaya bagi saya adalah jalan kebudayaan,” tegasnya.

Dari kebaya, Kristin belajar banyak hal: tentang motif batik, tenun, lurik, sampai filosofi kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat. Mengenakan kebaya setiap hari bikin dia makin cinta sama identitas Indonesia tanpa harus merasa ketinggalan zaman.

Kristin berpandangan, di era serba digital, literasi tidak hanya berarti kemampuan menulis tetapi lebih dari itu kemampuan membaca, memahami, dan menarasikan. “Saya selalu percaya pada pepatah “dimana langit dijunjung, di situ bumi dipijak”. Kita harus mempelajari kebiasaan, adat dan budaya masyarakat di mana kita tinggal tanpa harus kehilangan adat dan budaya sendiri,” katanya. 

Ia menambahkan, pada saat di luar negeri, itulah kesempatan emas untuk mempromosikan budaya Indonesia. Menurutnya, kalau kita membuat catatan baik dalam bentuk tulisan maupun digital, pengalaman itu akan menjadi penuntun bagi mereka yang datang selanjutnya. Keberadaan dokumentasi itu pula yang membantu masyarakat di negara tempat kita tinggal, lebih memahami budaya bangsa Indonesia.

Pesan buat Perempuan Muda

Buat kalian yang pengen mulai nulis atau pengen lebih pede berkarya:

  • Pelajari prinsipnya, kuasai tekniknya.
  • Latihan, latihan, dan serius!
  • Jadikan karyamu sebagai dokumentasi budaya. Kalau kita di luar negeri, tulisan dan dokumentasi digital kita adalah cara terbaik buat promosiin budaya Indonesia ke mata dunia.

Jadi, buat kalian yang pengen jadi penulis, mulai sekarang bisa memulai dengan nulis jurnal. Terus berlatih seperti belajar berenang atau naik sepeda. Nah, perjalanan hidup Kristin Samah yang di share di kebayastory bisa kalian jadikan pembelajaran. Semangat ya! ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *