• 2026-08-09
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

APA hubungan antara penyakit kanker dengan keberadaan kebaya nusantara? Jelas tidak ada. Yang satu berhubungan dengan dunia medis sementara yang lain terkait soal budaya.

Namun hal tersebut tidak berlaku pada Retno Soepardji. Baginya, ada benang merah antara kanker dan kebaya. Bagi Retno, ada hubungan dalam mendampingi anak-anak penderita kanker dengan kecintaannya terhadap kebaya Nusantara, keduanya lahir dari keyakinan bahwa harapan harus terus dirawat dan jati diri harus tetap dijaga.

Retno, yang kini berusia 80 tahun, memang dikenal aktif aktif mengabdikan diri mendampingi perjuangan penderita kanker, khususnya anak-anak. Melalui Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) yang ikut ia dirikan pada 1993, Retno mengabdikan diri memberi semangat bagi anak-anak penderita kanker untuk menjalani kehidupan.

Selama lebih dari tiga dekade, YOAI menjadi rumah harapan bagi ribuan anak penderita kanker dan keluarganya. Sementara dalam keseharian, ia hampir tak pernah melepaskan kebaya yang telah dikenakannya selama sekitar 30 tahun terakhir sebagai simbol kecintaannya pada budaya Indonesia.

Bagi Retno, keduanya bukan sekadar aktivitas sosial ataupun pilihan berpakaian. Semuanya berangkat dari rasa syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kisah berdirinya YOAI tidak lepas dari pengalaman yang dialami Retno saat putri bungsunya divonis mengidap leukemia pada 1990. Apa yang terjadi pada diri Retno juga dialami empat ibu lain yang anak-anak mereka juga divonis mengidap kanker. Saat itu leukemia pada anak masih dipandang sebagai penyakit yang sulit disembuhkan di Indonesia.

Kondisi ini membuat Retno dan kelima ibu lainnya memilih pengobatan ke luar negeri untuk sang buah hati. Mereka berjuang mencari berbagai cara agar anak-anak mereka mendapatkan pengobatan terbaik, termasuk bekerja sama dengan para ahli kanker anak dari Eropa. Perjuangan panjang itu membuahkan hasil. Anak-anak mereka berhasil sembuh.

“Bagi kami, rasa syukur itu tidak boleh berhenti pada keluarga sendiri. Anak-anak lain di Indonesia juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh,” kenang Retno.

Berbekal semangat tersebut, Retno dan empat ibu dari anak penyintas kanker bersama seorang relawan mendirikan Yayasan Onkologi Anak Indonesia pada 1993. Visi mereka sederhana namun besar, membantu pemerintah dalam penanggulangan kanker pada anak di Indonesia.

Sejak awal, yayasan juga mengundang para pakar kanker anak dari Eropa untuk berbagi ilmu dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sekaligus memperkuat kapasitas tenaga medis dalam menangani pasien anak.

Harapan di tengah keterbatasan

Saat YOAI berdiri, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Berbagai persoalan dihadapi karena bermacam sebab. Misalnya, jumlah dokter spesialis onkologi anak masih terbatas, fasilitas ruang rawat inap belum memadai serta bantuan biaya pengobatan juga masih sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, banyak orang tua belum memahami pentingnya pendampingan psikologis selama proses pengobatan. Tidak sedikit pula pasien yang datang ke rumah sakit ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

“Kami menyadari bahwa penyembuhan bukan hanya soal obat. Orang tua juga membutuhkan pendampingan agar mampu mendukung anak-anak mereka selama menjalani terapi,” ujar Retno.

Karena itu, selain membantu pengobatan, YOAI juga aktif memberikan edukasi kepada keluarga pasien mengenai pentingnya dukungan nonmedis selama proses penyembuhan.

Lebih dari 30 tahun kemudian, Retno melihat perubahan yang sangat berarti. Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah meningkatnya kualitas hidup para penyintas kanker anak yang kini dapat tumbuh, belajar, bekerja, bahkan membangun keluarga seperti anak-anak lainnya.

YOAI juga berkontribusi dalam renovasi ruang rawat inap anak dan remaja di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Renovasi ruangan seluas sekitar 2.000 meter persegi itu dilakukan secara bertahap pada 2006, 2011, dan 2019.

Meski telah mengalami banyak kemajuan, YOAI terus melakukan berbagai upaya untuk membantu meringankan beban anak penderita kanker dan keluaranya. Hingga kini, YOAI masih terus membantu memenuhi kebutuhan pengobatan pasien yang belum sepenuhnya dapat ditanggung pemerintah.

Retno bersyukur karena kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini kanker anak semakin meningkat. Menurutnya, tujuan besar yang ingin dicapai adalah agar angka kesembuhan anak Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju, sekaligus memastikan para penyintas memiliki kualitas hidup yang sama baiknya dengan anak-anak sehat lainnya.

Prinsip gotong royong dan semangat kebersamaan dari para relawan, donatur, dan pendukung menjadi motor penggerak bagi YOAI dalam menghadirkan harapan serta fasilitas yang lebih baik bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia.

Optimisme demi masa depan

Di balik pengabdiannya, Retno memegang prinsip sederhana. Ia percaya bahwa perjuangan harus selalu dijalani dengan optimisme.

“Selalu berpikir positif, bahkan ketika menghadapi banyak kendala. Sikap berprasangka baik membuat kita tetap kuat dan konsisten,” katanya.

Semangat itu pula yang membuatnya terus bertahan selama puluhan tahun menjadi pekerja sosial. Baginya, keberhasilan penanganan kanker anak tidak mungkin dicapai sendirian.

Ia merasakan sendiri bagaimana budaya gotong royong bangsa Indonesia menjadi kekuatan besar dalam perjalanan YOAI. Menurutnya, sebagian besar perusahaan yang diajak bekerja sama melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menunjukkan kepedulian tinggi terhadap anak-anak penderita kanker.

Demikian pula para relawan dari berbagai profesi dan latar belakang ekonomi yang dengan sukarela meluangkan waktu untuk mendampingi pasien. “Gotong royong adalah kekuatan bangsa ini. Kami benar-benar merasakan besarnya kepedulian masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Retno berharap suatu saat kanker pada anak tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga Indonesia. Ia membayangkan setiap provinsi memiliki fasilitas yang memadai beserta dokter spesialis onkologi anak yang cukup. Di sisi lain, masyarakat semakin memahami pentingnya nutrisi dan pola hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh anak sejak dini.

“Harapan saya, anak-anak Indonesia tidak lagi kehilangan kesempatan hidup karena keterlambatan diagnosis atau keterbatasan fasilitas.”

Selama 30 tahun terakhir, kain dan kebaya menjadi identitas keseharian Ibu Retno. Kebaya bukan sekadar busana tradisional yang anggun, melainkan simbol kehormatan, keteguhan, dan karakter kuat perempuan Indonesia di tengah arus globalisasi.

Kebaya sebagai identitas

Di luar aktivitas sosialnya, Retno memiliki komitmen lain yang tak kalah kuat yaitu melestarikan kebaya. Sejak memasuki usia 50 tahun, ia memutuskan mengenakan kain dan kebaya dalam kesehariannya. Kebiasaan itu terus dijalani hingga kini.

Baginya, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional. “Kebaya sangat sesuai dengan perempuan Indonesia. Selain anggun, juga sejalan dengan nilai-nilai ketimuran dan kesopanan,” jelas Retno.

Ia percaya kebaya dapat memperkuat karakter perempuan Indonesia. Cara berpakaian, menurutnya, ikut membentuk sikap, cara berjalan, cara duduk, hingga rasa percaya diri.

Retno berharap penggunaan kebaya tidak berhenti sebagai busana seremonial. Ia mengusulkan agar kebiasaan mengenakan kebaya mulai diperkenalkan sejak bangku sekolah dasar melalui dukungan pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut akan membantu membangun identitas budaya generasi muda di tengah derasnya pengaruh global.

“Kebaya tidak membatasi kreativitas. Justru kita bisa terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.”

Lebih jauh Retno mengatakan, kaum perempuan Indonesia, terutama generasi muda harus tetap menjaga kepedulian terhadap sesama sekaligus melestarikan budaya bangsa. Menurutnya, mencintai kebaya bukan semata-mata soal busana, melainkan juga tentang membangun karakter yang mandiri, tangguh, dan tidak mudah menyerah.

“Dalam situasi apa pun, mari kita melestarikan budaya sendiri. Dampaknya bukan hanya pada cara berpakaian, tetapi juga membentuk kepribadian dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.”

Pesan itu terasa sejalan dengan perjalanan hidup Retno sendiri. Selama lebih dari tiga dekade, ia menunjukkan bahwa kepedulian dan kecintaan terhadap budaya sama-sama dapat menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. (*)

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *