• 2026-07-22
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

PRESTASI membanggakan kembali ditorehkan Dr. Emi Wiranto, pegiat budaya, filantropis dan pembina Yayasan Sekar Ayu Jiwanta. Selain berhasil meraih gelar doktor di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) program pascasarjana S-3 Ilmu Kepolisian Angkatan ke-9 dengan predikat cum laude. Ia juga menjadi satu dari 6 orang yang memperoleh penghargaan Wiyata Karya sebagai peraih disertasi terbaik dari sekitar 400 doktor yang diwisuda.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kebaruan gagasan yang diangkat dalam penelitiannya mengenai perlindungan kebudayaan tak benda di Indonesia.
Disertasi yang diangkat berjudul “Inkorporasi Teori Nudge dalam Konsep Pemolisian Kolaboratif terhadap Strategi Perlindungan Kebudayaan Tak Benda di Indonesia (Studi Kasus Praktik Pemolisian Kolaboratif di Riau)” atau dalam bahasa Inggris “Incorporating Nudge Theory within the Concept of Collaborative Policing in the Strategy of Safeguarding Indonesian Heritage (Case Study of Collaborative Policing in Riau).”

Menurut Dr Emi, pemilihan tema tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga bersama. Pelestarian budaya, katanya, tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah ataupun komunitas budaya semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Saya ingin menghadirkan pendekatan yang lebih humanis, persuasif, dan relevan dengan tantangan zaman. Budaya akan tetap hidup apabila masyarakat merasa memiliki dan terdorong untuk melestarikannya tanpa harus dipaksa,” ujarnya dalam perbincangan dengan kebayastory.com, Senin (20/7/2026).

Dr. Emi Wiranto mengangkat disertasi berjudul “Inkorporasi Teori Nudge dalam Konsep Pemolisian Kolaboratif terhadap Strategi Perlindungan Kebudayaan Tak Benda di Indonesia (Studi Kasus Praktik Pemolisian Kolaboratif di Riau).” Penelitian ini menawarkan pendekatan persuasif untuk menjaga warisan budaya melalui kolaborasi berbagai pihak.

Pendekatan Nudge yang Masih Jarang Digunakan

Keunggulan utama disertasi ini terletak pada penggunaan teori nudge, sebuah pendekatan yang masih relatif jarang diterapkan dalam kajian perlindungan kebudayaan di Indonesia. Melalui teori ini, perubahan perilaku masyarakat tidak dilakukan melalui pemaksaan atau hukuman, melainkan dengan menciptakan lingkungan yang secara alami mendorong masyarakat memilih perilaku yang lebih baik.

Dr Emi menuturkan, pendekatan tersebut telah diterapkan di sejumlah negara maju. Salah satu contoh sederhana adalah pengaturan kawasan merokok di Singapura. Pemerintah tidak semata-mata melarang masyarakat merokok, tetapi menyediakan area khusus yang diberi penanda jelas, seperti kotak atau marka kuning. Dengan penataan tersebut, masyarakat memahami secara alami di mana mereka boleh merokok sehingga tercipta kedisiplinan tanpa pendekatan represif.

Konsep serupa juga banyak diterapkan di berbagai negara, termasuk Jepang dan Belanda, dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui desain lingkungan dan kebijakan yang persuasif.

Dr. Emi melihat pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam pelestarian budaya Indonesia. “Bukan memaksa masyarakat mencintai budaya, tetapi menghadirkan situasi yang membuat masyarakat dengan sendirinya ingin ikut menjaga dan melestarikannya,” jelasnya.

Meneliti Praktik Pemolisian Kolaboratif di Riau

Dalam penelitiannya, Dr. Emi memilih Provinsi Riau sebagai lokasi studi kasus. Pemilihan Riau bukan tanpa alasan. Menurutnya, masyarakat Melayu di daerah tersebut masih memiliki ikatan budaya yang sangat kuat sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk melihat bagaimana budaya dapat menjadi instrumen membangun kehidupan sosial.

Penelitian ini mengkaji praktik pemolisian kolaboratif yang dilakukan Kepolisian Daerah Riau melalui pendekatan budaya Melayu. Alih-alih hanya mengedepankan penegakan hukum, kepolisian membangun hubungan dengan masyarakat melalui nilai-nilai budaya lokal.

Salah satu lokasi penelitian berada di kawasan Tuan Kadi, Kampung Dalam, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, Riau. Ini adalah sebuah wilayah di tepi sungai yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh, zona merah dan identik dengan persoalan narkoba.

Melalui kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat, kawasan tersebut ditata kembali menjadi ruang publik yang hidup, jadi pusat budaya dan tumbuhnya UMKM.

“Rumah-rumah tua yang memiliki nilai sejarah dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Kawasan yang sebelumnya kumuh berubah menjadi lokasi kegiatan budaya, pertunjukan seni, hingga konser, jelas Dr Emi yang pernah dianugerahi penghargaan MURI Kartini serta memimpin gerakan pelestarian kebaya hingga diakui UNESCO.

Pendekatan budaya Melayu menjadi bagian penting dalam proses perubahan tersebut. Nilai-nilai budaya dihidupkan kembali melalui pantun, seni tari, serta berbagai aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Dalam budaya Melayu, penyampaian kritik maupun teguran dilakukan secara santun melalui pantun, sehingga masyarakat merasa dihargai tanpa harus mengalami tekanan.

Bagi Dr. Emi Wiranto, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga bersama. Melalui riset doktoralnya, ia membuktikan bahwa pendekatan budaya mampu mendorong perubahan sosial sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat tanpa mengedepankan pemaksaan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Transformasi kawasan Tuan Kadi tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat. Semakin banyak masyarakat datang berkunjung sehingga pelaku UMKM memperoleh peluang usaha baru.
Pedagang makanan bermunculan, perajin tenun kembali mendapatkan pasar, dan produk-produk budaya lokal semakin dikenal masyarakat luas.

Kondisi kawasan yang sebelumnya identik dengan kriminalitas berubah menjadi ruang yang produktif dan membanggakan warga setempat.

Bagi Dr. Emi, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif yang dipadukan dengan teori nudge mampu menghasilkan perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.

 

Penelitian yang Diharapkan Menjadi Rujukan Nasional

Dr. Emi berharap hasil penelitiannya dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan perlindungan kebudayaan tak benda di Indonesia. Ia juga ingin mendorong semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, media, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya bangsa. Baginya, keberhasilan meraih gelar doktor bukanlah garis akhir.

“Gelar ini adalah awal tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin terus berkontribusi dalam pelestarian budaya, pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan kegiatan sosial agar ilmu yang saya miliki benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap hasil disertasinya tidak hanya tersimpan di perpustakaan sebagai karya ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai program nyata yang memperkuat perlindungan kebudayaan Indonesia secara berkelanjutan. Wah, inspiratif banget ya riset Dr Emi, kebaya lovers! ***

 

 

 

 

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *