Hello Kebaya Lovers!

TAHUKAH kalian, kenapa tiap 2 Oktober kita memperingati Hari Batik Nasional? Ternyata, penetapan Hari Batik Nasional memiliki sejarah penting karena bertepatan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi atau Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009. Tentu ini hal yang membanggakan ya, Kebaya Lovers!

Momentum peringatan Hari Batik Nasional bukan sekadar kita bangga mengenakan pakaian bermotif batik, namun justru menjadi momentum untuk mengenal lebih dalam sejarah batik yang berkembang sejak ratusan tahun lalu.

Perkembangan batik tidak bisa dilepaskan dari situasi politik pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia. Pendudukan dua negara tersebut turut memberikan pengaruh pada kekayaan ragam motif batik. Sebut saja Batik Belanda dan Batik Hokakai yang lahir pada abad 19.

Batik Belanda, Motif Kompeni yang Mengkamuflase Kekerasan

Batik memiliki catatan penting dalam sejarah dan budaya Indonesia. Pada abad 19, pengusaha batik keturunan Eropa di Hindia Belanda yang memadukan motif dan warna kain India dengan selera orang-orang Eropa.

Batik Belanda memiliki motif Buketan, Dongeng, dan Kompeni yang dikenal dengan coraknya yang ramai dan berwarna cerah. Motif Buketan sering dihiasi dengan tambahan gambar sulur-sulur tumbuhan, kupu-kupu, atau burung kecil dengan palet warna yang mencolok, cerah, dan manis seperti merah, biru, hijau, serta kuning.

Sementara itu, motif Batik Kompeni bercerita tentang aktifitas para serdadu Belanda di daerah jajahan. Ada motif senjata, kendaraan perang, pasukan berkuda, meriam, pesawat terbang, kapal laut, dan balon udara.

Pola Batik Belanda tumbuh dan berkembang antara tahun 1840 – 1940. Batik ini diproduksi oleh Noni-noni Indo-Belanda yang memulai usaha batiknya dalam bentuk industri rumah tangga, batik ini terinspirasi dari cerita dongeng dari luar negeri yaitu “Si Tudung Merah”, dibuat dengan canthing tulis dan masih menggunakan warna alam.

Informasi yang dikutip dari website dkb.batik.go.id – Majalah Dinamika Kerajinan dan Batik dengan judul Makna Visual dan Negosiasi Kolonial pada Batik Belanda menyebutkan, Batik Belanda berkembang di pesisir utara Jawa, seperti Pekalongan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Motifnya disesuaikan dengan estetika feminin serta selera kolonial kelas menengah.

Temuan ini merupakan hasil kajian Dr Aniendya Christiannah, Gatut Priyowidodo, dan Ido Prijana Hadi dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Menurut analisa mereka, motif Batik Belanda menunjukkan bahwa simbol militer tidak ditampilkan melalui narasi konflik atau heroisme, melainkan sebagai citra yang tertata, berulang, dan bersifat dekoratif.

Motif pada Batik Belanda menunjukkan repetisi dan ragam hias berperan dalam menormalkan kehadiran kekuasaan kolonial sebagai bagian dari pengalaman visual sehari-hari. Sementara, kekerasan dan daya rusak mesin perang disamarkan melalui stilisasi, siluet, dan integrasi dengan motif flora.

Dr. Aniendya Christianna yang juga dosen Universitas Kristen Petra mengatakan, visual Batik Kompeni memang tidak menunjukkan kekerasan secara gamblang, seolah sebuah keteraturan. Padahal perang itu chaos, penuh kekerasan dan korban. Tapi lewat batik, semua itu dihilangkan,” kata Aniendya dalam sebuah diskusi seperti dikutip dari hariandisway.id.

Aniendya menyoroti Istilah “Batik Belanda” yang selama ini digunakan yang bisa menimbulkan penafsiran yang salah. Batik Belanda bukan dibuat di Belanda, melainkan di Indonesia, dengan pengaruh Eropa pada masa kolonial. Batik Belanda diproduksi pengusaha Indo-Eropa, tapi pengrajinnya orang pribumi.

Aniendya menjelaskan, motif Batik Belanda saat ini masih diproduksi di sejumlah daerah seperti Pekalongan dan Cirebon. Nah jangan salah ya Kebaya Lovers, Batik Belanda itu hasil karya orang Indonesia. ***

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *