
Hello Kebaya Lovers!
SEDIH banget ya lihat kondisi Jakarta dan beberapa kota lain belakangan ini. Demo yang awalnya buat nyuarain aspirasi, malah berubah jadi kerusuhan besar-besaran. Nggak cuma bikin fasilitas publik porak-poranda, tapi juga bikin kita semua rugi, secara materi, sosial, dan budaya.
Bayangin aja, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bilang ada 22 halte TransJakarta dirusak, sejumlah stasiun MRT sampai CCTV ikut hancur. Kerugiannya? Ditaksir sampai Rp55 miliar! Belum lagi biaya subsidi transportasi gratis sekitar Rp18 miliar plus pengobatan 716 orang yang jadi korban. Itu baru di Jakarta lho, belum kota-kota lainnya.
Tapi yang bikin hati makin miris, Museum Bagawanta Bari di Kediri juga jadi sasaran. Padahal museum ini tuh penting banget buat ngelestarikan sejarah dan budaya bangsa. Bayangin, koleksi sejarah yang udah ratusan tahun jadi saksi perjalanan bangsa malah dirusak dan dijarah.
Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, museum itu bukan sekadar ruang buat simpan benda-benda kuno, tapi juga simbol memori kolektif masyarakat. Jadi kalau sampai rusak, itu sama aja bikin bangsa kehilangan sebagian ingatannya.
Beberapa koleksi penting yang hilang di Museum Bagawanta Bari antara lain:
- Kepala Ganesha
- Koleksi Wastra (kain batik)
- Buku-buku lama
Sementara koleksi lain kayak miniatur lumbung rusak parah. Untungnya, ada beberapa benda yang berhasil diselamatin sama juru pelihara, kayak arca Bodhisatwa dan bata berinskripsi mantra-mantra.
Selain itu, ada juga gedung cagar budaya lain yang terbakar akibat kerusuhan, antara lain
- Gedung Grahadi Surabaya – Rumah Dinas Gubernur Jawa Timur yang udah berdiri sejak 1795
- Gedung Cagar Budaya Bandung di Jalan Diponegoro No. 20 – bangunan bergaya indische empire dari era 1920-an.
Kementerian Kebudayaan sendiri udah mengimbau masyarakat buat lebih peduli sama warisan budaya. Karena, museum dan cagar budaya itu milik kita semua. Mereka adalah simbol perjalanan panjang sejarah bangsa, yang harus kita rawat, jaga, dan hormati.
So, Kebaya Lovers, yuk kita sama-sama jadi generasi yang bukan cuma bangga pakai kebaya atau batik, tapi juga ikut menjaga warisan budaya kita. Karena kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? ***














































