
Hello Kebaya Lovers!
KABAR duka datang dari dunia seni Indonesia. Maestro tari Sunda, Irawati Durban, meninggal dunia pada Rabu malam, 10 September 2025, di usia 82 tahun. Jasa Irawati Durban itu besar banget di dunia seni. Beliau bukan cuma penari, tapi juga koreografer yang punya andil gede dalam menjaga sekaligus memperbarui tari-tari Sunda klasik biar tetep relevan sampai sekarang.
Bikin Tari Merak Jadi Ikonik
Salah satu karya fenomenal Irawati Durban adalah revitalisasi Tari Merak pada 1965. Ira, begitu beliau akrab disapa, nggak cuma mempercantik gerakannya, tapi juga mendesain ulang kostumnya biar lebih hidup dan menunjang ekspresi penarinya. Hasilnya? Tari Merak jadi salah satu tarian Sunda paling dikenal sampai level internasional.
Nggak berhenti di situ, beliau juga merenovasi tari Surengpati dan Srenggana, plus menciptakan karya-karya baru seperti Tari Balon (1956), Tari Bambu (1961), Tari Puspa Apsari (1977), dan Tari Simbar Kembar (1979).
Dari Misi Kesenian ke Panggung Istana
Sejak remaja, Irawati udah keliling dunia lewat misi kesenian Indonesia. Dari tahun 1957, beliau ikut delapan misi besar ke negara-negara Eropa, Asia, hingga Amerika. Bisa dibilang, beliau jadi wajah Indonesia di panggung internasional.
Dilansir dari https://irawatidurban.com, hampir tiga dekade (1971–1998) beliau jadi penari andalan di Istana Negara untuk menyambut tamu-tamu penting, dari masa Presiden Soeharto sampai era-era berikutnya. Bahkan di tahun 2006, beliau masih ikut menarikan Tari Merak di hadapan Presiden George Bush di Istana Bogor—sebagai peringatan 50 tahun kiprahnya menari.
Guru, Penulis, dan Pendiri Pusbitari
Meski sempat jadi arsitek lulusan ITB, hatinya selalu balik ke dunia tari. Sejak 1967, Ira jadi pengajar di Konservatori Tari Indonesia (KORI), yang berkembang jadi ASTI dan kini ISBI Bandung. Beliau juga pernah ngajar di Amerika, Meksiko, dan Belanda.
Biar warisan seni Sunda nggak hilang, beliau mendirikan Pusat Bina Tari Irawati Durban (Pusbitari ID) tahun 1986, yang kemudian berkembang jadi Yayasan. Dari sini lahir generasi-generasi muda yang tetap bangga dengan tari Sunda.
Selain menari dan ngajar, Irawati juga rajin menulis. Lewat Pusbitari Press, lahirlah buku-buku penting tentang sejarah dan teknik tari Sunda—dari Tari Kawit sampai Teknik Tari Sunda Klasik Puteri. Semua ditulis biar jadi rujukan buat generasi berikutnya.
Jejak yang Nggak Akan Hilang
Di masa pensiunnya, beliau masih aktif bikin event besar, salah satunya Parade Sarewu Merak Tandang tahun 2015 di Bandung yang melibatkan lebih dari 1500 penari dan masuk rekor ORI.
Ira Durban bukan cuma maestro, tapi juga pejuang seni yang bikin dunia kenal dan cinta sama tari Sunda. Kepergiannya jelas ninggalin duka, tapi juga meninggalkan jejak yang abadi lewat karya, murid, dan buku-buku yang beliau tinggalkan.
Selamat jalan, Bu Ira. Tari Merak dan karya-karyamu bakal terus hidup, menari di hati generasi Indonesia selamanya. ***














































