• 2025-12-22
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

KABAR baik datang buat pecinta kebaya dan seluruh warga +62! Kebaya resmi mendapat sertifikat Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage) dari UNESCO. Yes, ini bukan cuma kemenangan satu komunitas, tapi hasil gotong royong banyak pihak yang selama ini ngegas terus buat ngangkat kebaya ke level dunia.

Atie Nitiasmoro, salah satu anggota timnas yang mengajukan kebaya ke Unesco bilang diberikannya sertifikat Warisan Budaya Takbenda oleh Unesco merupakan hasil kerja keras dan sinergi banyak pihak.

“Pengakuan Unesco ini ajakan untuk bergerak bersama. Sekarang bukan cuma soal mengenakan kebaya, tapi menjadikannya ruang aksi untuk pendidikan, sosial, serta pemberdayaan perempuan dan anak. Kebaya harus hidup dan membawa Indonesia dihargai di dunia,” ujarnya.

Atie menambahkan, dengan kata lain setelah diakui Unesco bukan berarti kita tinggal santai. Justru sekarang giliran anak muda yang harus ikut ngawal supaya kebaya tetap hidup, relevan, dan makin dikenal dunia.

“Kebaya selain sebagai identitas sekaligus tanggung jawab bersama. Kebaya adalah perahu perjuangan melestarikan budaya, mendorong pendidikan, memperkuat nilai sosial, serta memberdayakan perempuan dan anak-anak,” tegas Atie yang juga istri Dubes Indonesia untuk Takhta Suci (Vatikan), Michael Trias Kuncahyono.

Jadi Perempuan Berdampak
Senada dengan Atie, pendiri dan pembina Yayasan Sekar Ayu Jiwanta, Emi Wiranto menyatakan, berkebaya bukan soal kembali pada akar tradisi tetapi tentang sikap menghargai akar, memahami peran dan mau terlibat.

“Untuk generasi muda, jadilah perempuan yang sadar nilai, mengenakan kebaya bukan sekadar tren. Perempuan muda hari ini punya energi dan akses yang besar, gunakan itu untuk memberi dampak, bukan hanya eksistensi,” ungkapnya kepada kebayastory.com, Minggu (21/12/2025).

Emi berharap gerakan perempuan berkebaya tumbuh sebagai kekuatan yang tulus, inklusif, dan berdampak nyata. Kebaya harus menjadi alat pemersatu dan pengabdian sosial, bukan sekadar simbol atau panggung pribadi.

“Pesan saya bagi siapa pun yang terlibat di komunitas kebaya, bekerjalah dengan hati untuk kebaya dan untuk komunitasnya. Jangan menjadikan kebaya hanya sebagai alat mencari sorotan karena kebaya membawa nilai, tanggung jawab, dan amanah budaya yang besar,” tegas Emi.

Momen Penyerahan Sertifikat: Resmi dan Penuh Makna

Sertifikat Unesco untuk Kebaya, Kolintang, dan Reog Ponorogo diserahkan pada 2 Desember 2025 di Museum Nasional Indonesia. Acara ini dihadiri perwakilan ASEAN dan Afrika, kementerian, komunitas budaya, akademisi, sampai mitra diplomasi internasional.

Kebaya masuk dalam daftar Unesco lewat nominasi multinasional bareng Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Artinya, kebaya diakui sebagai warisan budaya bersama yang hidup dan berkembang di Asia Tenggara.

Direktur Jenderal Diplomasi Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, yang hadir mewakili Menteri Kebudayaan, menegaskan pentingnya momentum ini.

“Ini adalah pengakuan dunia yang menggembirakan. Tapi juga amanah besar agar warisan budaya Indonesia terus hidup dan memberi makna lintas generasi.”

Jadi, Apa Peran Kita?

Kebaya Lovers! Sebagai bagian dari generasi yang kreatif dan penuh ide, kita bisa banget ikut merawat kebaya , mulai dari pakai kebaya di momen spesial, bikin konten edukatif, sampai kolaborasi sama desainer lokal. Karena menjaga kebaya bukan cuma urusan masa lalu, tapi cara kita menunjukkan identitas Indonesia di masa depan. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *