• 2026-02-23
  • admin
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

BANGGA nggak sih kalau kesenian tradisional Indonesia bikin warga negara asing jatuh cinta? Bukan cuma sekadar coba-coba, tapi benar-benar dipelajari serius sampai datang langsung ke Indonesia.

Yap, ini cerita tentang komunitas gamelan di Italia bernama Gong Wisnu Wara Group yang berbasis di Roma. Mereka rutin latihan setiap hari Rabu di KBRI Takhta Suci Vatikan. Dan yang bikin makin kagum, para anggotanya adalah dosen dan mahasiswa Etnomusikologi dari La Sapienza University.

Bukan main-main lho. Mereka belajar gamelan bertahun-tahun. Ada yang belajar di Yogyakarta, Bali, Banyumas, sampai Bandung. Duh, orang jauh aja segitunya mencintai budaya kita. Masa kita yang punya malah cuek?

Jatuh Cinta Sejak Nada Pertama

Salah satu sosok yang paling mencuri perhatian adalah Ilaria Meloni, seorang profesor yang juga piawai menjadi pesinden.

Ia pertama kali mengenal gamelan pada 2010 saat masih menjadi mahasiswa Etnomusikologi jurusan Piano Musik Klasik di La Sapienza 

Waktu itu ia berlatih gamelan seminggu sekali di KBRI Takhta Suci. “Dari awal belajar gamelan, langsung jatuh cinta,” ceritanya.

Saking cintanya, ia mengajukan beasiswa dan pada 2012 berangkat ke Indonesia untuk belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Bukan cuma sebentar, tapi hampir tujuh tahun!

Awalnya ia belajar karawitan dan mendalang, tapi kemudian tertarik mendalami nyinden. Menurutnya, teknik vokal sinden itu kompleks banget, perpaduan keluwesan, getaran suara, teknik pernapasan, hingga penguasaan berbagai cengkok dan variasi melodi di setiap gending.

Saat pandemi Covid-19, Ilaria kembali ke Roma. Tapi pulangnya nggak cuma bawa kenangan tapi ia juga bisa berbahasa Jawa!

“Kalau nyinden saya bisa bahasa Jawa, tapi kalau bicara… sekedik saget (bisa sedikit),” katanya sambil tertawa.

Tembang favoritnya? Sarung Jagung dan Ayunayun. Keren nggak tuh!

Gamelan: Musik yang Mengajarkan Harmoni

Anggota Gong Wisnu Wara Group adalah dosen dan mahasiswa Etnomusikologi dari La Sapienza University.

Bukan cuma Ilaria. Ada juga Frederico yang mendalami musik Sunda degung, Profesor Joani yang memainkan gambang, Michaela yang belajar gender sampai ke Bali, bahkan ada yang khusus belajarcalung di Banyumas.

Mereka tertarik pada gamelan karena satu hal penting, gamelan tidak bisa dimainkan sendirian.

Main gamelan itu soal kebersamaan. Harus mendengarkan orang lain, menyesuaikan ritme, membangun harmoni. Ini bukan soal siapa paling jago, tapi bagaimana semuanya bisa menyatu.

Ada yang sudah expert, ada yang masih belajar. Tapi semuanya tetap bisa main bareng. Yang senior membantu yang baru. Indah banget kan?

Dan setiap tahun, selalu ada mahasiswa baru di Roma yang tertarik belajar gamelan. Artinya? Cinta pada budaya Indonesia terus tumbuh… bahkan jauh dari tanah air.

Totalitas Sampai ke Busana

Anggota Gong Wisnu Wara Group belajar gamelan bertahun-tahun di Yogyakarta, Bali, Banyumas, sampai Bandung. 

Yang bikin makin bangga, saat tampil mereka nggak setengah-setengah. Para pria mengenakan batik lengkap dengan blangkon, sementara perempuan memakai kebaya dan kain.

Bukan cuma memainkan musiknya, tapi juga menghormati nilai dan identitas budayanya.

Kebaya Lovers, setelah baca cerita ini, gimana rasanya? Bangga? Terharu? Atau malah jadi kepikiran, “Kok kita kalah ya sama bule?”

Siapa tahu ini saatnya kita juga mulai lebih dekat lagi dengan budaya sendiri. Siapa tahu, dari satu nada gamelan, kamu juga bisa jatuh cinta seperti Ilaria dan teman-temannya. *** 

 

 

 

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *