
Hello Kebaya Lovers!
KETUPAT masih ada? Opor ayam masih anget? Atau nastar tinggal kenangan? Yang jelas, Selamat Lebaran buat kamu yang merayakan!
Pastinya momen Lebaran nggak jauh dari yang namanya halalbihalal. Mulai dari kumpul keluarga, reunian sama teman lama, sampai acara kantor yang kadang jadi ajang “eh kamu sekarang kerja di mana?”
Tapi pernah nggak sih kamu kepikiran—sebenernya halalbihalal itu apa sih? Dan… bener nggak sih ini tradisi dari Arab?
Plot twist: ternyata halalbihalal itu bukan dari Arab, lho! Di negara seperti Arab Saudi, mereka tetap merayakan Idulfitri dan saling bermaafan. Tapi istilah “halalbihalal” nggak ada di sana. Bahkan kalau kita ngomong istilah itu ke orang Arab, mereka bisa bingung, kayak, “Ini maksudnya apa ya?”
Cerita dari Muhammad Subhan yang dibagikan di media sosial menarik banget. Dia menulis, halalbihalal ini bisa dibilang <produk lokal Indonesia, hasil kreativitas bahasa dan kebutuhan sosial kita yang doyan kumpul dan menjaga hubungan.

Secara arti, halalbihalal itu simpel saling memaafkan setelah Ramadan sekalian jadi ajang silaturahmi. Tapi kalau dipikir lebih dalam, maknanya nggak sesimpel itu. Di Indonesia, halalbihalal itu kayak proses “menghalalkan” kesalahan satu sama lain. Istilahnya, kita reset hubungan, mulai lagi dari nol, tanpa ganjelan.
Menariknya lagi, secara bahasa Arab formal, istilah ini sebenarnya “nggak baku”. Tapi justru di situlah uniknya, ini adalah “bahasa rasa” khas Nusantara. Karena kadang, bahasa itu nggak cuma soal aturan, tapi juga soal kebiasaan dan makna yang disepakati bareng.
Fun fact sejarah:
Halalbihalal sempat jadi “alat perdamaian nasional”! Konon, di tahun 1948, Presiden Soekarno minta saran ke K.H. Wahid Hasyim buat meredakan konflik politik. Lalu muncullah ide bikin acara silaturahmi yang dikemas dengan nama halalbihalal. Dari situ, tradisi ini berkembang pesat, dari Istana Negara sampai ke rumah-rumah kita sekarang.
Halalbihalal udah jadi bagian hidup orang Indonesia. Mau di kampung, kota, kantor, bahkan di luar negeri sekalipun, tradisi ini tetap hidup. Karena pada akhirnya, halalbihalal itu bukan sekadar acara formal atau tradisi tahunan. Tapi:
● Cara kita menjaga hubungan
● Cara kita menyembuhkan luka
● Cara kita bilang, “yaudah, nol nol ya”
Di tengah dunia yang makin sibuk dan individualis, halalbihalal jadi reminder kalau memaafkan itu bukan cuma kata-kata tapi aksi nyata. Dan hubungan itu harus dirawat bareng-bareng. Kalau kamu halalbihalal sama siapa aja, Kebaya Lovers? ***



















































