
Hello Kebaya Lovers!
KEMISKINAN masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tugas itu bukan hanya menjadi beban pemerintah tetapi juga kepedulian banyak pihak termasuk masyarakat umum.
Hal itulah yang diyakini Riana Tjokrosoeseno. Berawal dari sebuah pengajian kecil di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten pada 2005. Saat itu, kelompok tersebut melihat masih banyak anak dari keluarga prasejahtera di sekitar Bintaro yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Kepedulian itu kemudian berkembang menjadi gerakan bersama dengan mendirikan Yayasan Maleo.
Selama 21 tahun berdiri, Yayasan Maleo kini telah berkembang dan terus berkomitmen memberikan kesempatan pendidikan gratis sekaligus pengembangan diri bagi anak-anak yang membutuhkan.
Riana menyakini, pendidikan yang berkualitas akan berdampak besar terhadap masyarakat. Dengan pendidikan, upaya memerangi kemiskinan akan mendatangkan hasil yang diinginkan.
“Pendidikan memberikan seseorang pengetahuan, tempat belajar, tempat mengembangkan diri, mengembangkan potensi melalui salah satunya keterampilan. Dan juga dapat membuka peluang kelanjutan pendidikan, bekerja atau berwirausaha sehingga mereka memiliki kemandirian secara ekonomi dan kepercayaan diri untuk dapat hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Bersamaan dengan berdirinya Yayasan Maleo, Riana diajak bergabung dengan Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Yayasan ini menaungi anak-anak disabilitas ganda terlantar. Di dua lembaga tersebut, kiprah Riana di bidang sosial dan pendidikan semakin berkembang.
Berawal dari kepedulian
Pendirian Yayasan Maleo, jelas Riana, tidak terlepas dari kenyataan bahwa kondisi ekonomi kerap menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Berangkat dari persoalan tersebut, Yayasan Maleo hadir dengan membawa misi yang lebih luas. Bukan hanya memberikan akses sekolah, tetapi juga membekali anak dengan keterampilan dan karakter.
Melalui Sekolah Maleo, yayasan berupaya mempersiapkan masyarakat prasejahtera agar kelak menjadi anggota masyarakat yang berharga, produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Yayasan Maleo mendirikan sekolah bersubsidi penuh pada jenjang SMP dan SMA. Selain pendidikan formal, yayasan juga memfasilitasi berbagai program pendidikan, pelatihan, keterampilan, dan kewirausahaan.
“Fasilitas seperti Perpustakaan atau Taman Baca Masyarakat (TBM) juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan. Berbagai kursus dan pelatihan keterampilan diselenggarakan, termasuk pembentukan unit usaha serta pelatihan kewirausahaan bagi para siswa,” jelasnya.
Bagi Riana, keberhasilan mereka yang menempuh pendidikan di Sekolah Maleo menjadi pengalaman yang paling menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan mampu mengubah arah kehidupan seseorang.
Riana mengakui menyaksikan sendiri perjalanan anak-anak yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pendidikan, kemudian mampu menyelesaikan sekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian lainnya memasuki dunia kerja atau memilih berwirausaha.
Kisah para alumni yang kini dapat melanjutkan kuliah dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri menjadi bukti nyata bagi Riana bahwa kesempatan pendidikan dapat menghadirkan perubahan besar.
“Pendidikan benar-benar dapat mengubah arah hidup seseorang. Itulah yang membuat saya terus percaya bahwa kontribusi di bidang pendidikan harus terus dilanjutkan,” katanya.
Diuji Berbagai Tantangan
Namun, menjalankan sekolah gratis tentu bukan perkara mudah. Tantangan terbesar adalah soal pendanaan berkelanjutan agar biaya operasional Sekolah Maleo tetap terpenuhi menjadi salah satu tugas yang tidak enteng.
Selain itu, sekolah juga harus menjaga kualitas dan ketersediaan tenaga pendidik serta terus mengembangkan kualitas pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Karena itu, dukungan para donatur, relawan, dan mitra menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan Sekolah Maleo.
Untuk memperkuat dukungan tersebut, Yayasan Maleo membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Dunia usaha dilibatkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Masyarakat dan relawan juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan.
“Komunikasi dengan para donatur terus dijaga agar mereka dapat melihat secara langsung dampak dari dukungan yang diberikan kepada sekolah dan para siswa,” katanya.
Membangun Karakter Siswa
Bagi Riana, pendidikan yang baik tidak berhenti pada pencapaian akademik. Anak-anak juga perlu dibekali karakter, kepedulian sosial, rasa percaya diri, dan kemandirian.
Karena itu, Sekolah Maleo membangun karakter siswa melalui berbagai kegiatan. Mulai dari pembiasaan disiplin, kegiatan keagamaan, pramuka, kegiatan sosial, hingga ekstrakurikuler dan pengembangan keterampilan.
Para siswa juga diberi kesempatan mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan. Program Praktisi Mengajar turut memperkenalkan mereka pada pengalaman dan wawasan yang lebih luas di luar lingkungan sekolah.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, sekolah berupaya menumbuhkan keberanian siswa untuk mengembangkan potensi, percaya terhadap kemampuan diri sendiri, peduli kepada sesama, serta memiliki kemandirian.
“Berbagai proses tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan anak-anak agar kelak mampu mengambil peran di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menjaga Budaya Bangsa
Selain pendidikan dan pengembangan karakter, ada hal lain yang tidak kalah penting bagi Riana, yakni pendidikan budaya. Menurutnya, pendidikan budaya sejak usia dini merupakan fondasi bagi anak untuk mengenal jati diri, nilai-nilai, dan keberagaman bangsa Indonesia. Melalui pengenalan budaya, anak belajar menghargai perbedaan, mencintai tradisi, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Semangat tersebut juga diterapkan di Sekolah Maleo. Pengenalan budaya dilakukan melalui pembelajaran maupun berbagai kegiatan bersama di lingkungan sekolah.
Para siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan menampilkan beragam seni dan budaya Indonesia. Salah satunya melalui pentas seni dan penampilan tari Saman. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan peringatan hari nasional, termasuk upacara Hari Kemerdekaan.
Kebaya pun menjadi bagian dari pengenalan budaya tersebut. Bagi Riana, pengenalan kebaya tidak boleh dibatasi oleh latar belakang ekonomi. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mengenal dan mencintai budaya bangsanya.
“Kebaya merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Latar belakang ekonomi tidak menjadi batas bagi anak untuk mengenal dan menghargai budayanya sendiri,” tuturnya.
Justru, menurut dia, melalui kebaya anak-anak dapat belajar mencintai warisan bangsa. Respons para siswa pun cukup positif. Mereka tidak hanya mengenal budaya melalui pembelajaran di sekolah, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengalaminya secara langsung.
Menariknya, keinginan mengenakan kebaya dalam acara wisuda justru datang dari para siswi sendiri. Hal itu menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat tumbuh menjadi kesadaran dari dalam diri anak.
Di tengah derasnya pengaruh budaya global, Riana berharap sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya memperkenalkan budaya melalui teori di ruang kelas.
Menurut dia, pengenalan budaya akan lebih bermakna apabila diwujudkan melalui kegiatan nyata yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan siswa.
Dengan cara tersebut, generasi muda tetap dapat terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Peran tersebut tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga dan masyarakat memiliki posisi yang sama pentingnya karena pendidikan budaya sesungguhnya dimulai dari lingkungan terdekat anak.
Di lingkungan keluarga, misalnya, pengenalan budaya dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari. Orang tua dapat memperkenalkan bahasa daerah, makanan tradisional, pakaian, seni, maupun berbagai tradisi yang ada di lingkungan mereka.
Sementara itu, masyarakat dapat menciptakan ruang bagi anak-anak untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan budaya dan sosial di lingkungannya.
Dengan demikian, budaya tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, perjalanan Riana di dunia pendidikan, sosial, dan pelestarian nilai-nilai kebangsaan bermuara pada satu keyakinan: setiap orang dapat memberikan manfaat, sekecil apa pun kontribusinya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak menunggu memiliki sesuatu yang besar sebelum mulai berbagi. Pengabdian, menurutnya, dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dari apa yang dimiliki saat ini.
“Sekecil apa pun bentuk pengabdian yang kita lakukan itu sangat berarti. Dimulai dari hal sederhana, di lingkungan terdekat dan kemauan untuk berbagi apa yang kita punya,” kata Riana.
Bagi Riana, menjadi generasi muda bukan hanya tentang mengejar keberhasilan untuk diri sendiri, melainkan juga tentang memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan.
“Jadilah generasi yang memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan,” ungkapnya.
Perjalanan Riana membuktikan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah sederhana. Ketika pendidikan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap budaya berjalan beriringan, harapan untuk memutus rantai kemiskinan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan bersama. (*)























