Hello Kebaya Lovers!

DI BULAN Oktober yang dijadikan sebagai pengingat kanker payudara aku membagikan kisahku.

“Apakah saya mau mati? Tak akan lagi kulihat pohon-pohon, bunga-bunga, burung-burung. Tak akan lagi kutemui dua buah hatiku.” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku pada suatu senja, 8 November 2007. Aku baru saja keluar dari ruang praktik dokter bedah onkologi di sebuah rumah sakit di Jakarta. Hasil pemeriksaan mammografi dan USG menunjukkan adanya kanker payudara kiri yang menurut dokter saat itu sudah berada pada stadium lanjut.

Aku duduk terpaku di balik kemudi mobil. Air mata mengalir deras. Pohon, gedung rumah sakit, dan mobil-mobil yang terparkir di sekelilingku mendadak terasa asing. Senja yang biasanya kunikmati justru terasa kelabu dan hampa.

Dokter memintaku kembali ke rumah sakit keesokan harinya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, kemudian bersiap menjalani operasi. Semuanya terasa begitu cepat. Aku bahkan belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhku.

Namaku Theresia Laksmi Notokusumo. Aku seorang seniman tari dan teater. Pada usia 59 tahun, aku harus berhadapan dengan kenyataan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya: kanker payudara.

Ketika aku menyadari telah mengabaikan kesehatan sendiri

Malam itu, setelah kedua anakku, Nathalia dan Boris, mengetahui diagnosis dokter, aku mulai merenung. Aku mencoba mengingat kembali kebiasaan hidupku selama ini.

Aku merasa sudah cukup menjaga kesehatan. Aku menyukai sayur dan buah, jarang jajan sembarangan, dan minum kopi tanpa gula. Namun, ada satu kebiasaan yang tidak bisa kuabaikan: aku adalah perokok berat selama lebih dari 35 tahun. Aku hanya berhenti merokok ketika hamil dan menyusui.

Ketika pernah merasakan sensasi aneh di sekitar payudara kiri saat merokok, aku pun tidak segera menghentikan kebiasaan itu. Padahal, pada usia 30 tahun, aku pernah menjalani operasi untuk mengangkat beberapa tumor jinak di payudara. Dokter saat itu sudah mengingatkanku agar melakukan pemeriksaan berkala setiap satu atau dua tahun.

Sayangnya, pemeriksaan rutin itu tidak kulanjutkan setelah memasuki masa menopause.

Malam itu aku menyadari bahwa selama ini ada hal penting yang kuabaikan. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi aku masih bisa menentukan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku memilih berobat dengan sungguh-sungguh.

Foto diabadikan pada Maret, 2008 setelah Laksmi melakukan kemoterapi standard ke 3/4. Foto: Dok Pribadi

Mencari kepastian dan menjalani mastektomi
Atas saran ayah anak-anakku, aku menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mencari pendapat kedua dari seorang profesor yang mendalami kanker dan penyakit darah. Pertemuan itu mengubah cara pandangku terhadap penyakit yang semula terasa begitu menakutkan.

Dokter menjelaskan apa itu kanker, bagaimana sel kanker berkembang, bagaimana penyebarannya terjadi, dan pilihan pengobatan yang tersedia. Penjelasannya santai, diselingi humor, sehingga aku dan kedua anakku bisa lebih tenang.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, dokter memperkirakan kanker payudara kiriku berada pada stadium 2B dan telah melibatkan kelenjar getah bening. Pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi serta pemeriksaan jaringan dan imunohistokimia, diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Hasil pemeriksaan kemudian menunjukkan karsinoma payudara kiri dengan HER2 positif. Aku harus menjalani mastektomi, yaitu operasi pengangkatan jaringan payudara yang terkena kanker. Aku tahu keputusan itu tidak mudah. Sebagai perempuan, aku tentu menyadari bahwa ada bagian tubuh yang akan hilang. Namun, sejak awal aku memutuskan tidak menjalani rekonstruksi payudara. Kedua anakku memahami keputusan tersebut.

Operasi berlangsung pada November 2007. Ketika tempat tidurku didorong menuju ruang operasi, aku melihat begitu banyak keluarga, saudara, sahabat, dan teman datang untuk memberikan dukungan. Lambaian tangan, doa, dan ucapan penyemangat mereka membuatku merasa tidak sendirian. Aku bersyukur. Di tengah ketakutan menghadapi operasi besar, kasih sayang orang-orang di sekelilingku menjadi kekuatan yang luar biasa.

Kemoterapi dan radiasi: perjalanan panjang yang harus kujalani

Operasi bukanlah akhir dari pengobatanku. Berdasarkan hasil pemeriksaan jaringan dan karakteristik kanker, dokter merencanakan kemoterapi serta radioterapi.
Aku menjalani kemoterapi standar dan terapi target HER2, kemudian melanjutkan pengobatan dengan radiasi. Seluruh rangkaian pengobatan berlangsung selama kurang lebih 16 bulan.

Aku mengalami mual, muntah, rambut rontok, sariawan, dan penurunan jumlah sel darah putih. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lemah. Aku juga harus menjalani pemeriksaan darah dan mendapatkan penanganan dokter agar pengobatan dapat diteruskan sesuai rencana.

Namun, aku belajar bahwa sakit bukan berarti seluruh kehidupan harus berhenti.

Setelah menjalani tiga kali kemoterapi, aku mulai bertanya kepada dokter tentang aktivitas yang masih boleh kulakukan. Aku ingin kembali menari, berteater, dan menulis.

Dengan mengikuti arahan dokter, aku perlahan kembali melakukan kegiatan yang kusukai. Aku menjahit kain perca menjadi bed cover bersama adikku, berlatih tari, dan mempersiapkan pertunjukan. Sesekali aku tetap harus berlari ke toilet karena mual dan muntah. Rambutku pun masih gundul saat tampil, tetapi aku menemukan cara untuk menutupinya dengan ciput di balik jamang.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Namun, kegiatan-kegiatan tersebut membuatku merasa tetap menjadi diriku sendiri, bukan sekadar seorang pasien kanker.

Apa yang kupelajari dari perjalanan ini?

Aku tidak bisa mengatakan bahwa kankerku semata-mata disebabkan oleh kebiasaan merokok. Kanker payudara merupakan penyakit kompleks dengan berbagai faktor risiko. Namun, pengalaman ini membuatku semakin memahami pentingnya berhenti merokok dan tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan.

Aku pernah memiliki riwayat tumor jinak dan sudah mendapat anjuran untuk melakukan pemeriksaan berkala. Aku seharusnya tetap mengikuti anjuran tersebut, bukan menganggap pemeriksaan tidak lagi diperlukan setelah menopause.

Kanker payudara dapat terjadi pada perempuan dengan berbagai latar belakang dan kebiasaan hidup. Karena itu, jangan menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain ketika diagnosis datang.

Yang penting adalah mengenali perubahan pada tubuh, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan menjalani pemeriksaan sesuai anjuran dokter.
Aku juga belajar bahwa pengobatan kanker bukan hanya soal operasi, kemoterapi, atau radiasi. Dukungan keluarga, sahabat, komunitas, serta kesempatan untuk tetap melakukan aktivitas bermakna turut membantu seseorang melewati masa yang sulit.

Dari penyintas menjadi pendamping bagi sesama

Setelah menyelesaikan pengobatan kanker payudara, aku bergabung dengan Cancer Information and Support Center (CISC), sebuah komunitas yang mempertemukan para penyintas kanker dan menyediakan ruang untuk berbagi pengetahuan serta dukungan.

Di sana aku bertemu orang-orang dengan berbagai jenis kanker. Aku mengikuti seminar, belajar dari dokter dan sesama penyintas, serta mulai memikirkan bagaimana pengalaman dan latar belakang seniku bisa berguna bagi orang lain.

Aku kemudian mencoba mengembangkan pendekatan pemulihan melalui seni, termasuk gerak, tari, dan teater. Bagiku, seni dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan, membangun keberanian, dan kembali merasakan hubungan dengan tubuh sendiri.

Kini, aku juga menggagas Breast Pad Project bersama Grup Silver Needle dari Komunitas Stecers Jabodetabek. Program ini berupaya menyediakan bantalan payudara buatan tangan bagi perempuan yang menjalani mastektomi atau lumpektomi, agar mereka memiliki pilihan untuk merasa lebih nyaman dan percaya diri.

Aku ingin para perempuan yang mengalami perubahan pada tubuhnya tahu bahwa mereka tetap berharga. Kehilangan sebagian tubuh tidak berarti kehilangan identitas, martabat, atau kesempatan untuk menjalani kehidupan yang bermakna.

Bila ada satu hal yang ingin kusampaikan kepada perempuan lain, pesanku sederhana, jangan mengabaikan kesehatanmu. Jangan menunda konsultasi ketika menemukan perubahan pada payudara. Jangan ragu mencari pendapat kedua bila membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dan jangan takut meminta bantuan ketika harus menghadapi pengobatan.

Aku pernah duduk sendirian di dalam mobil, menangis, dan membayangkan kematian. Namun, perjalanan pengobatan mengajarkanku bahwa di tengah ketakutan masih ada harapan, di tengah kehilangan masih ada kehidupan, dan di tengah kesulitan selalu ada kesempatan untuk memberi arti bagi orang lain.

Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup, berkarya, dan berbagi. Karena bagiku, menjadi penyintas bukan hanya tentang berhasil melewati penyakit, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan kesempatan hidup yang diberikan untuk melakukan sesuatu yang berarti.***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *