
Hello Kebaya Lovers!
KALAU mendengar daging kambing, banyak orang langsung berpikir: kolesterol naik, darah tinggi kambuh, sampai takut makan sate saat Idul Adha. Padahal ternyata, kambing selama ini sering jadi “kambing hitam” tanpa alasan yang sepenuhnya tepat.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini meluruskan anggapan tersebut lewat konten edukasi kesehatannya di media sosial. Menurut Budi, daging kambing justru memiliki kandungan lemak jenuh lebih rendah dibandingkan daging sapi.
Dalam 100 gram daging kambing, kandungan lemak jenuhnya sekitar 0,8 gram. Sementara pada daging sapi, kandungan lemak jenuhnya bisa mencapai 3 gram per 100 gram. Bahkan kadar kolesterol daging kambing disebut berada di angka sekitar 64 mg, lebih rendah dibanding daging sapi yang mencapai 73 mg dan ayam sekitar 76 mg.
“Kasihan nih si kambing selalu dituduh jadi kambing hitam,” kata Budi dalam unggahan edukasinya.
Menurutnya, masalah kesehatan yang sering muncul setelah Idul Adha sebenarnya bukan semata-mata karena daging kambing, tetapi lebih sering berasal dari cara pengolahannya.
Bayangkan saja, daging kambing sering dimasak menggunakan santan berlebihan, garam tinggi, tambahan gula, hingga dicampur jeroan yang memang memiliki kandungan kolesterol tinggi. Belum lagi porsinya yang sering “kalap” saat momen kumpul keluarga. Nah, kombinasi inilah yang justru bisa memicu tekanan darah naik dan tubuh terasa tidak nyaman setelah makan besar.
Penelitian dan pendapat ahli gizi juga mendukung hal tersebut. Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Septa Indra Puspikawati, menyebut kandungan kolesterol dan lemak total daging kambing memang lebih rendah dibandingkan daging sapi. Selain itu, daging kambing juga kaya protein dan mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
“Daging kambing mentah mengandung kolesterol 57mg/ 100gr. Sedangkan daging sapi mengandung kolesterol sebanyak 87mg/100gr. Perbandingan tersebut menunjukkan kolesterol daging kambing lebih rendah dari pada daging sapi. Jadi, bagi yang peduli dengan kadar kolesterol, daging kambing bisa menjadi pilihan yang lebih sehat,” kata Septa dikutip dari website fikkia.unair.ac.id.
Ternyata, daging kambing memiliki kandungan protein baik yakni setiap 100 gr terdapat 16,6 gr protein yang dapat memenuhi sekitar 29,12% dari kebutuhan protein harian. “Daging kambing juga mengandung asam amino esensial yang penting untuk tubuh, seperti lysine, leucine, arginine, phenylalanine, isoleucine, valine dan histidine. Sumber protein yang berasal dari hewani memiliki daya cerna yang lebih tinggi dibandingkan protein nabati, sehingga kebutuhan protein bisa tercukupi dengan baik,” ungkap Septa.
Namun bukan berarti daging kambing bisa dikonsumsi berlebihan tanpa kontrol ya, Kebaya Lovers. Lemak jenuh tetap perlu dibatasi karena konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kolesterol tinggi. Para ahli kesehatan tetap menyarankan pola makan seimbang dan pengolahan yang lebih sehat, seperti direbus, dipanggang, atau dibakar tanpa terlalu banyak santan dan minyak.
Selain itu, memilih bagian daging yang lebih sedikit lemak dan memperbanyak konsumsi sayur juga bisa membantu tubuh tetap sehat meski menikmati olahan daging kurban.
Jadi sekarang sudah tahu ya, Kebaya Lovers. Ternyata kambing tidak sejahat stigma yang selama ini beredar. Bisa jadi yang bikin kolesterol naik bukan kambingnya, melainkan cara memasaknya. Jadi, tetap boleh menikmati sate dan gulai favorit, asal porsinya dijaga dan pengolahannya lebih sehat. ***






















































