
Hello Kebaya Lovers!
PERNAH membayangkan seorang perempuan muda dari lingkungan keraton tampil menari di hadapan Ratu Belanda? Bukan hanya itu, kecantikannya konon membuat sejumlah tokoh besar Indonesia terpikat, mulai dari Presiden Soekarno hingga Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
Dialah Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, atau lebih akrab dikenal sebagai Gusti Noeroel. Sosok perempuan yang dijuluki De Bloem van Mangkunegaran alias Kembang Mangkunegaran ini bukan hanya dikenal karena parasnya yang ayu, tetapi juga kecerdasan, kepiawaian menari, dan prinsip hidupnya yang kuat.
Kisah Gusti Noeroel kembali menarik perhatian dalam pameran Waves of Weave yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Salah satu ruang pamerannya yang diberi nama Suwung – secara khusus menghadirkan koleksi pribadi sang putri, mulai dari kebaya, kain batik, hingga aksesori yang pernah dikenakannya.
Yuk, kenalan lebih dekat dengan perempuan luar biasa ini!
Putri tunggal Mangkunegara VII yang berpikiran modern
Disarikan dari berbagai sumber, Gusti Noeroel lahir di Pura Mangkunegaran, Surakarta, pada 17 September 1921. Ia merupakan putri tunggal Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur.

Ayahnya merupakan penguasa Mangkunegaran pada periode 1916–1944, sedangkan ibunya adalah putri Sultan Hamengku Buwono VII dari Kasultanan Yogyakarta.
Tumbuh di lingkungan istana tidak membuat Gusti Noeroel hanya berkutat pada tradisi. Ia justru mendapatkan pendidikan yang cukup maju di zamannya.
Mangkunegara VII memberikan kesempatan pendidikan kepada anak perempuan maupun laki-laki. Gusti Noeroel belajar dengan guru privat, termasuk mempelajari bahasa Belanda. Dari sana, ia mengenal berbagai bacaan dan pemikiran modern tentang perempuan, pendidikan, serta kebebasan menentukan masa depan.
Didikan tersebut membentuk pribadi Gusti Noeroel yang terbuka, percaya diri, dan memiliki pergaulan luas. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial, sastra, seni, dan olahraga.
Kecantikannya membuat namanya populer di kalangan masyarakat Solo. Bahkan, Ratu Belanda Wilhelmina konon menjulukinya De Bloem van Mangkunegaran atau Kembang Mangkunegaran.
Namun, pesona Gusti Noeroel ternyata bukan hanya soal penampilan. Ia memiliki kemampuan seni yang membuat namanya dikenal hingga mancanegara.
Menari di hadapan Ratu Belanda pada usia 15 tahun
Salah satu catatan paling menarik dalam perjalanan hidup Gusti Noeroel adalah penampilannya di Belanda pada Januari 1937. Saat itu, usianya baru sekitar 15 tahun. Ia mendapat kehormatan untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina dalam rangkaian perayaan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard.
Gusti Noeroel membawakan Tari Sari Tunggal, sebuah tarian klasik yang berasal dari Yogyakarta. Penampilannya menjadi persembahan seni dari Mangkunegaran untuk keluarga kerajaan Belanda.

Ada cerita menarik di balik pertunjukan tersebut. Rombongan Mangkunegaran tidak membawa seperangkat gamelan ke Belanda. Sebagai gantinya, alunan gending gamelan dari Pura Mangkunegaran di Solo disiarkan melalui Solosche Radio Vereeniging (SRV) agar dapat mengiringi tarian Gusti Noeroel dari jarak jauh.
Teknologi radio saat itu menjadi bagian penting dari pertunjukan seni lintas negara tersebut.
Dalam sejumlah catatan sejarah, sempat terjadi gangguan sinyal sehingga suara gamelan tidak terdengar dengan baik. Namun, situasi itu dapat diatasi dengan bantuan aba-aba keprak dari anggota rombongan, sehingga Gusti Noeroel bisa menyelesaikan tariannya.
Penampilannya disaksikan Ratu Wilhelmina dan para tamu undangan dari berbagai negara. Tarian tersebut mendapat perhatian dan kekaguman karena memperlihatkan keindahan seni tradisi Jawa di panggung internasional. Bagi Mangkunegaran, penampilan tersebut bukan sekadar pertunjukan tari. Ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan kebudayaan Jawa kepada dunia.
Dikagumi sejumlah tokoh
Kalau berbicara tentang Gusti Noeroel, ada satu cerita yang selalu menarik perhatian, sejumlah tokoh penting Indonesia pernah dikabarkan menaruh hati kepadanya.
Salah satunya adalah Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kekaguman Bung Karno terhadap Gusti Noeroel bahkan diceritakan sampai pada permintaan kepada maestro pelukis Basoeki Abdullah untuk melukis sosoknya.
Dalam sebuah kisah yang dicatat dalam penelitian mengenai Gusti Noeroel, Basoeki Abdullah sempat menanyakan tarian apa yang sulit diperagakan. Gusti Noeroel menjawab tari wayang Cina. Sang pelukis kemudian membuat potret Gusti Noeroel dengan busana wayang Cina, meskipun ketika menjadi model ia mengenakan kebaya.
Lukisan tersebut kemudian dipajang di ruang kerja Presiden Soekarno di Istana Cipanas.
Selain Bung Karno, Sutan Sjahrir juga dikabarkan mengagumi Gusti Noeroel. Ketika rapat kabinet berlangsung di Yogyakarta, Sjahrir disebut sering mengirimkan hadiah melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran.
Nama lain yang juga pernah dikaitkan dengan kisah asmara sang putri adalah GPH Djatikusumo dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Namun, Gusti Noeroel bukan perempuan yang mudah mengubah prinsip hanya karena perhatian atau kedudukan seseorang.
Ia memiliki pandangan tegas mengenai poligami. Ia tidak ingin menjadi istri dari laki-laki yang sudah memiliki pasangan, termasuk ketika lamaran datang dari seorang tokoh dengan kedudukan tinggi seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Baginya, perempuan juga berhak menentukan jalan hidup dan menjaga perasaan sesama perempuan. Sikap tersebut terbilang berani pada zamannya, terutama ketika perempuan masih sering ditempatkan dalam posisi yang terbatas untuk menentukan pilihan perkawinan.
Memilih perwira militer
Setelah melewati berbagai cerita dan perhatian dari sejumlah tokoh besar, Gusti Noeroel akhirnya melabuhkan hatinya kepada seorang perwira militer, R.M. Soerjo Soejarso.
Keduanya menikah ketika Gusti Noeroel berusia sekitar 30 tahun. Sang suami merupakan perwira TNI berpangkat kolonel dan memiliki latar pendidikan militer di KMA Breda, Belanda.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa Gusti Noeroel tidak menjadikan popularitas, gelar kebangsawanan, atau jabatan sebagai ukuran utama dalam menentukan pasangan hidup.
Setelah menikah, ia meninggalkan kehidupan istana di Solo dan menetap bersama suaminya di Bandung.
Dari pernikahan tersebut, Gusti Noeroel dikaruniai tujuh anak. Ia menjalani kehidupan keluarga hingga akhir hayatnya. Gusti Noeroel meninggal dunia di Bandung pada 10 November 2015 dalam usia 94 tahun.
Kebaya, kain batik, dan jejak perempuan yang melampaui zamannya
Kehadiran koleksi Gusti Noeroel dalam pameran Waves of Weave di Museum Nasional Indonesia menjadi kesempatan untuk melihat sisi lain kehidupannya. Pameran yang berlangsung pada 26 Oktober 2026 hingga 8 Januari 2027 ini merupakan kolaborasi Jakarta Fashion Week, Kementerian Pariwisata, Indonesian Heritage Agency, Museum Nasional Indonesia, Adhvan Media, dan ASA.

Di salah satu area pameran yang diberi tajuk Suwung, pengunjung dapat melihat koleksi pribadi Gusti Noeroel berupa kebaya, kain batik, dan aksesori peninggalannya.
Koleksi tersebut bukan sekadar busana dan pelengkap penampilan. Di balik setiap helainya tersimpan cerita tentang perempuan Jawa yang tetap dekat dengan akar budayanya, tetapi memiliki wawasan dan pergaulan internasional.
Salah satu koleksi yang ditampilkan dalam pameran adalah kebaya beludru dengan benang logam yang disulam tangan berwarna ungu. Kebaya cantik ini dihiasi sulaman motif bunga berwarna keemasan dipadu kain batik warna coklat yang disebut sebagai busana kebesaran keraton. Sementara kain batik yang bisa dilihat pengunjung adalah Gandrung Manis, Truntum, dan Parang Kusuma Gapit Boket.

Dua kebaya kutubaru motif bunga berwarna ungu dan hijau tosca lengkap dengan selendang dan kain Batik Semen Kakrasana dan Batik Pisan Bali juga turut dipajang dalam pameran koleksi Gusti Noeroel.
Dalam pengamatan Kebaya Story saat mengunjungi pameran, area yang menampilkan koleksi Gusti Noeroel terlihat ramai dikunjungi. Banyak pengunjung tertarik melihat lebih dekat busana dan benda-benda pribadi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sang putri seperti kipas, tas tangan, giwang dan gelang.
Menariknya, melalui benda-benda tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana Gusti Noeroel menjalani kehidupan sebagai perempuan bangsawan, penari, istri, sekaligus ibu.
Gusti Noeroel telah berpulang hampir sebelas tahun lalu. Namun, kisah hidupnya tetap relevan untuk dikenang, terutama ketika berbicara tentang pendidikan perempuan, kebebasan menentukan pilihan, dan keberanian mempertahankan prinsip.
Ia membuktikan bahwa menjadi perempuan modern bukan berarti harus meninggalkan tradisi. Seseorang bisa tetap mencintai kebaya, kain batik, seni tari, dan nilai-nilai budaya sendiri, sekaligus memiliki pemikiran terbuka dan keberanian menentukan masa depan. ***




























