• 2026-05-29
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

“HAPPY tummy, happy life”  atau yang berarti usus yang sehat akan mendukung otak yang sehat ternyata bukan sekadar ungkapan. Siapa sangka, organ yang selama ini kita anggap hanya berfungsi untuk mencerna makanan ternyata punya peran besar terhadap suasana hati, kesehatan mental, hingga daya tahan tubuh. Belakangan, pembahasan tentang usus sebagai “otak kedua” manusia semakin ramai diperbincangkan.

Dalam sebuah podcast bersama Raditya Dika, dr. Rianti Maharani menjelaskan bahwa sekitar 90 persen “hormon bahagia” diproduksi di usus. Menurutnya, kondisi usus yang tidak sehat dapat memengaruhi suasana hati dan kondisi tubuh secara keseluruhan.

“Kalau usus kita nggak sehat, kita jadi unhappy. Usus punya jalur khusus langsung ke otak. Kalau otak nggak baik-baik saja, usus meronta, mules, cemas, atau terasa melilit. Tapi kalau usus nggak sehat, mood kita juga jadi berantakan,” jelas Rianti.

Ia juga menyebut, tubuh sebenarnya memberikan banyak sinyal ketika kondisi usus sedang tidak baik. Mulai dari sulit BAB, tubuh mudah sakit, stamina menurun, badan terasa lemas, tidak segar, hingga kulit tampak kusam.

“Makanya kalau pencernaan lagi bermasalah, mood ikut berantakan, badan gampang lelah, bahkan gampang sakit,” katanya.

Gangguan Pencernaan Pengaruhi Kondisi Emosional 

Penelitian dari Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa di dalam sistem pencernaan manusia terdapat jaringan saraf kompleks bernama Enteric Nervous System (ENS), yang sering disebut sebagai “otak kedua”.

ENS terdiri dari lebih dari 100 juta sel saraf yang melapisi saluran pencernaan, mulai dari kerongkongan hingga rektum. Meski tidak bisa berpikir seperti otak utama di kepala, ENS memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dua arah dengan otak manusia.

Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa mules saat gugup, kehilangan nafsu makan ketika stres, atau mengalami “butterflies in the stomach” saat cemas maupun jatuh cinta. Semua itu merupakan bentuk komunikasi antara usus dan otak.

Para peneliti juga menemukan bahwa gangguan pada sistem pencernaan ternyata dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Selama bertahun-tahun, banyak orang mengira kecemasan dan depresi menyebabkan gangguan pencernaan. Namun penelitian terbaru menunjukkan hubungan tersebut bisa terjadi dua arah. Gangguan pada usus justru dapat mengirim sinyal ke sistem saraf pusat dan memicu perubahan suasana hati.

Hal ini banyak ditemukan pada penderita gangguan usus seperti IBS (Irritable Bowel Syndrome), sembelit, diare, perut kembung, hingga nyeri pencernaan kronis. Kondisi tersebut sering kali diikuti perubahan emosi seperti cemas, stres, hingga depresi ringan.

Karena itu, menjaga kesehatan usus bukan lagi sekadar soal menghindari sakit perut, tetapi juga bagian penting dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. Pola makan sehat, konsumsi serat dan probiotik, tidur cukup, olahraga, serta mengelola stres menjadi beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menjaga keseimbangan usus dan otak.

Jadi Kebaya Lovers, jangan anggap remeh kesehatan pencernaan ya. Bisa jadi, rasa lelah, mood berantakan, atau tubuh yang gampang sakit berasal dari “otak kedua” kita yang sedang minta diperhatikan. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *