• 2026-07-27
  • admin
  • 0

Kebaya lovers

Berkebaya kini bukan lagi sekadar mengenakan busana tradisional. Di balik setiap helai kebaya tersimpan cerita tentang pelestarian budaya, kreativitas, hingga perjuangan ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan hidupnya pada industri ini.

Berangkat dari semangat tersebut, KebayaStory.com,menggelar Ngobrol Santai Hari Kebaya Nasional 2026 bertajuk “Gerakan Berkebaya: Menggerakkan UMKM, Menguatkan Budaya dan Ekonomi Indonesia”, Sabtu (1/8/2026), di Restoran Beautika, Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Melalui forum ini, KebayaStory.com ingin mendorong lahirnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, sektor perbankan, akademisi, komunitas, dan media dalam memperkuat ekosistem industri kebaya nasional.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan pegiat budaya, akademisi, desainer, pelaku UMKM, komunitas, media, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas bagaimana gerakan berkebaya dapat menjadi kekuatan pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi Indonesia.

Ngobrol santai akan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang yang selama ini aktif memperjuangkan kebaya dan industri kreatif berbasis budaya, yakni Atie Nitiasmoro, pegiat kebaya nasional yang terlibat dalam pengajuan Hari Kebaya Nasional dan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO; Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, M.Si., Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia sekaligus budayawan; Dr. Lenny Agustin Ernawati, M.Sn., desainer dan akademisi fesyen; serta Thiifa, pendiri brand Nona Srikaya yang dikenal berhasil mendekatkan kebaya kepada generasi muda. Acara dipandu oleh Indiah Marsaban, pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sekaligus anggota Tim Nasional Pengajuan Kebaya ke UNESCO.

Diskusi membahas berbagai isu strategis, mulai dari kebaya sebagai identitas bangsa, peluang ekonomi dari gerakan berkebaya, strategi memperkuat daya saing UMKM, inovasi desain agar semakin diminati generasi muda, hingga peluang memperluas pasar kebaya ke tingkat internasional.

Selain diskusi, rangkaian acara juga menghadirkan Fashion Show Generasi Muda Berkebaya, pemilihan tamu dengan kebaya terbaik, serta berbagai permainan interaktif sebagai bagian dari kampanye bahwa kebaya dapat tampil modern, nyaman dikenakan, dan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya.

Atie Nitiasmoro mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini. Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan rekomendasi strategis untuk memperkuat ekosistem industri kebaya nasional.

“Pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari pemberdayaan masyarakat. Ketika semakin banyak orang bangga mengenakan kebaya, semakin besar pula peluang bagi para perajin, penjahit, pembatik, penenun, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraannya,” ujar Atie.

Lead Organizer Ngobrol Santai Hari Kebaya Nasional 2026, Elvy Yusanti, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir gerakan berkebaya menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, mulai mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan.

“Dampak gerakan berkebaya tidak hanya mendorong masyarakat mengenakan busana khas Indonesia, tetapi juga menggerakkan UMKM di sektor kebaya dan berbagai produk pendukungnya, mulai dari fesyen, bordir, tenun, batik, hingga aksesori,” ujar Elvy.

Data yang dihimpun KebayaStory.com menunjukkan bahwa peningkatan minat berkebaya turut berdampak pada pertumbuhan usaha para pelaku industri.
Salah satunya dialami Roemah Kebaya Vielga. Pendirinya, Vielga Wennida, mengungkapkan bahwa sejak gerakan berkebaya berkembang, penjualan kebaya untuk kalangan muda meningkat hingga 100 persen, sementara penjualan kebaya dewasa naik sekitar 10–15 persen.

Saat ini Roemah Kebaya Vielga mempekerjakan sekitar 40 karyawan dan memberdayakan sekitar 200 perajin bordir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Permintaan produknya juga datang dari Singapura dan Malaysia, bahkan telah membuka toko di Malaysia.

Fenomena serupa juga terlihat pada Cottonink. Brand fesyen yang selama ini dikenal dengan busana kasual mulai menghadirkan koleksi kebaya sejak Idul Fitri 2026. Respons pasar sangat positif, dengan komposisi penjualan mencapai sekitar 70 persen untuk koleksi kebaya dan 30 persen untuk busana kasual.

Sementara itu, hasil penelusuran KebayaStory.com di sentra penjualan kebaya Thamrin City menunjukkan bahwa sejumlah pedagang mengalami kenaikan penjualan sekitar 10–15 persen untuk pembeli lokal setelah kampanye berkebaya semakin masif. Pada periode tertentu, pembeli asal Malaysia juga memberikan kontribusi penjualan yang cukup signifikan.

Meski demikian, Elvy menilai pertumbuhan tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku UMKM kebaya. “Masih banyak pelaku usaha yang menghadapi tantangan, mulai dari akses pembiayaan, pemasaran, inovasi produk, digitalisasi, hingga regenerasi pasar. Karena itu diperlukan kolaborasi yang lebih kuat agar industri kebaya dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *