Hello Kebaya Lovers!

PUASA Ramadan ternyata bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan, puasa punya manfaat besar untuk kesehatan mental sekaligus fisik, asal dijalankan dengan cara yang tepat.

Kontrol Diri dan Redakan Stres

Psikolog UGM, Dr. Bagus Riyono, M.A., menjelaskan bahwa puasa melatih kemampuan delay gratification atau menunda kepuasan.

“Dengan berpuasa kita dilatih delay gratification atau menunda pemuasan dari makan, emosi dan lainnya,” ujar Bagus dalam kegiatan Pojok Bulaksumur di Kantor Pusat UGM seperti dikutip dari https://ugm.ac.id/id.

Menurut dosen Fakultas Psikologi UGM ini, bukan hanya soal menunda makan, tetapi juga menunda luapan emosi. Saat ada jeda sebelum bereaksi, seseorang menjadi tidak impulsif. Dampaknya? Ketegangan dan stres bisa menurun.

Puasa juga melatih disiplin, ketekunan, dan ketenangan hati. Ketika seseorang terbiasa merespons sesuatu dengan lebih tenang, tekanan psikologis pun berkurang.

Bagus menekankan, Ramadan seharusnya menjadi momentum latihan pengendalian diri untuk kehidupan setelahnya.

“Jangan sampai mengendalikan diri hanya saat puasa saja. Justru ini menjadi latihan untuk persiapan kehidupan setelah puasa.”

Artinya, puasa adalah training ground untuk membangun mental yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Secara Fisik Puasa Juga Menyehatkan 

Dari sisi gizi, Dietisien FKKMK UGM, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD., Ph.D., menjelaskan bahwa puasa secara fisiologis melatih tubuh dalam pembakaran kalori.

Saat berpuasa, tubuh menggunakan cadangan energi. Ini baik untuk metabolisme. Namun, masalah sering muncul saat berbuka.

Banyak orang langsung makan dalam jumlah besar. Akibatnya, gula darah melonjak cepat lalu turun drastis. Efeknya? Tubuh jadi lemas dan mengantuk.

“Hal ini tidak sehat untuk badan. Jadi lemas dan ngantuk karena caranya kurang tepat,” jelas Tony.

Nah, biar puasa ramadan lebih bermakna berikut tips berbuka yang tepat:

  • Makan secara bertahap, tidak langsung dalam porsi besar.
  • Pilih makanan yang lambat dicerna tubuh.

Untuk protein, disarankan:

  • Daging
  • Ikan
  • Ayam

Untuk karbohidrat, pilih yang kompleks:

  • Nasi merah
  • Ubi
  • Sereal
  • Roti gandum utuh

Pilihan karbohidrat ini lebih baik dibandingkan nasi putih dan mie. Oiya Kebaya Lovers, jangan lupa buah dan sayur yang tinggi serat ya,  karena akan membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Tony menegaskan, kunci puasa sehat bukan makanan mahal atau mewah. “Kuncinya makanan yang bervariasi. Semakin variatif, semakin banyak zat gizi yang diperoleh tubuh.”

 Pilih dan Olah Bahan Makanan dengan Benar

Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, S.Pt., M.Sc., Ph.D., menambahkan, kualitas bahan makanan juga sangat menentukan kesehatan tubuh.

Ia mengingatkan pentingnya memilih bahan yang segar agar kandungan gizinya tetap optimal. Daging dari hewan yang mati bukan karena disembelih—misalnya karena sakit atau tua—tidak layak dikonsumsi. Darahnya tidak keluar secara maksimal sehingga menjadi tempat ideal bagi bakteri pembusuk berkembang. Artinya, aspek keamanan pangan juga tidak boleh diabaikan selama Ramadan.

Reset Mental dan Metabolisme

Puasa bukan hanya ritual spiritual. Dari sisi psikologi, ia melatih kontrol diri dan menurunkan stres. Dari sisi fisik, membantu metabolisme bekerja lebih efisien. Dari sisi keamanan pangan, ia mengajarkan kehati-hatian dalam memilih makanan.

Ramadan adalah momen reset — bukan cuma untuk iman, tapi juga untuk mental dan tubuh.

Pertanyaan pentingnya adalah, “ Apakah setelah Ramadan usai kita tetap mempertahankan pola hidup yang lebih sehat dan lebih terkendali? Kebaya Lovers, sejatinya latihan menjaga mental dan tubuh terbaik bukan hanya yang dilakukan 30 hari, tetapi yang terus dijaga setelahnya. Selamat Berpuasa! ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *