• 2026-08-19
  • Vivi Putri Soewondo
  • 0

Hello Kebaya Lovers!

Pada 15 Agustus 2026 lalu, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa magnitudo 7,7. Hingga Selasa (18/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sudah ada 2.119 gempa susulan di NTT.

Jumlah korban meninggal dunia seperti dikatakan Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo bertambah menjadi 70 orang, korban luka-luka 132 orang, per Senin (17/08) malam. Laporan kompas.com menyebutkan, warga Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT mengaku, hingga hari keempat pascagempa, mereka belum menerima bantuan dari pemerintah. Warga cemas lantaran persediaan makanan menipis. Untuk sementara, mereka mengandalkan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan.

Kebaya Lovers, lebih dari 400 WNI dan diaspora turut memanjatkan doa bersama bagi para korban gempa di NTT pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke – 81 RI yang digelar KBRI untuk Takhta Suci di Roma, Italia, 17 Agustus 2026.

Menurut press release yang diterima kebayastory.com, upacara yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, berlangsung dengan khidmat dan penuh empati bagi para korban gempa di wilayah NTT.

Hampir 80 persen WNI yang terdaftar di KBRI untuk Takhta Suci berasal dari Provinsi NTT. Mereka adalah para rohaniwan dan rohaniwati yang melakukan pelayanan di wilayah Italia dan Vatikan, serta studi S2 dan S3 di beberapa Universitas Kepausan di Italia.

“Mari kita mengheningkan cita untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia, selain itu kita juga mengheningkan cipta untuk mendoakan saudara saudara kita yang sedang menderita bencana gempa di Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk solidaritas sebagai sesama bangsa Indonesia,” ucap Duta Besar Trias.

Momen haru dan bangga juga mewarnai upacara di KBRI untuk Takhta Suci pada pagi hari itu ketika Sang Merah Putih dikibarkan oleh 10 orang anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang seluruhnya berasal dari NTT. Berbeda dengan anggota Paskibra yang pada umumnya adalah masyarakat awam, kali ini kaum religius yaitu para biarawati Indonesia yang tinggal dan melayani di wilayah Italia mendapat kehormatan mengibarkan bendera.

Pada tahun ini, Paskibra di KBRI Vatikan terdiri dari 10 (sepuluh) orang anggota utama dan satu anggota cadangan yang berasal dari di Kongregasi Suster Katekis Hati Kudus di Italia. Mereka sebelumnya berlatih secara intensif selama dua minggu dibawah arahan Atase Pertahanan RI di Roma, Kolonel Laut (Pelaut) Profidol Andre Mantiri Dotulung.

Menjadi bagian dari Paskibra merupakan sebuah kebanggan bagi para Suster. Komandan Pasukan Paskibra, Suster Maria Josephine, menyampaikan bahwa sebagai biarawati, dia tidak pernah menyangka bisa bertugas menjadi Pasukan Pengibar Bendera di kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

“Waktu pertama-pertama saya tidak tahu kalau Suster juga bisa ikut pasukan pengibar bendera. Tapi ketika waktu tiba di Italia pada tahun 2020, saya diberitahu bahwa kongregasi kami sejak tahun 2014 sudah diberi kepercayaan oleh KBRI Vatikan untuk berpartisipasi dalam memeriahkan perayaan 17 Agustus menjadi anggota Paskibra. Hal ini merupakan pengalaman luar biasa meskipun kami seorang Suster tapi bisa berpartisipasi untuk memeriahkan acara 17 Agustus” ungkapnya.

Setelah upacara, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol ucapan syukur atas HUT ke – 81 Kemerdekaan RI. Berbagai sajian nusantara seperti nasi kuning, bakso, telur balado, sambal goreng hati, dan es mambo, disajikan untuk mengobati rasa rindu para warga Indonesia di Italia dengan tanah air.

Kedutaan juga menggelar lomba final karaoke bertajuk KARBONARA atau Karaoke Bersama Gaya Nusantara yang menampilkan lima orang finalis terpilih untuk tampil di babak final. Para finalis menyanyikan lagu wajib “Tanah Airku” ciptaan Ibu Soed dan lagu pilihan yang bernuansa Indonesia. Lagu tanah airku dipilih sebagai wujud rasa cinta dan bangga para warga Indonesia untuk tanah air.

Bekerja sama dengan Ikatan Rohaniwan dan Rohaniwati Indonesia di Kota Keabadian (IRRIKA), KBRI untuk Takhta Suci memfasilitasi penggalangan dana sumbangan bagi para korban bencana di NTT yang dilakukan oleh IRRIKA. Penggalangan dana dilakukan selama pelaksanaan perayaan HUT RI di KBRI untuk Takhta Suci yang berlangsung dari pagi hingga sore hari dengan memasukan donasi ke kotak donasi yang sudah disiapkan oleh panitia pelaksana.

Di akhir acara, dana dihitung dan diumumkan kepada seluruh warga yang hadir untuk kemudian diserahkan oleh IRRIKA kepada para korban bencana melalui Caritas Indonesia. Bagi para WNI yang tinggal jauh dari Indonesia, perayaan HUT RI bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk kembali merasakan kedekatan dengan tanah air, budaya, dan sesama masyarakat Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia Indonesia berdaulat, adil dan makmur!

Wah, sangat menginspirasi ya apa yang telah dilakukan KBRI untuk Takhta Suci Vatikan. Jadi terharu….***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *