Hello Kebaya Lovers!

UMUMNYA, dalam menjalankan sebuah bisnis atau usaha, seberapa besar peluang pasar jadi salah satu pertimbangan utama. Hal tersebut menjadi lumrah karena akan menentukan seberapa besar keuntungan materi yang didapat dari bisnis yang dijalankan.

Seperti halnya yang terjadi dari bisnis kecantikan. Dengan peluang pasar yang begitu besar, banyak orang terjun ke bisnis ini karena tergiur keuntungan yang besar.

Namun, hal itu tidak berlaku pada diri dr Johana Fitriani M.Farm. Keputusannya untuk menekuni bisnis kecantikan dengan mendirikan Jo Skincare memiliki makna yang lebih personal.

Beprofesi sebagai dokter, Johana melihat kebutuhan masyarakat, khususnya perempuan, terhadap kesehatan kulit bukan sekadar persoalan penampilan. Hal itu juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan kualitas hidup.

“Bisnis yang saya jalani adalah pengabdian terhadap profesi sebagai dokter untuk melayani kesehatan masyarakat Indonesia,” ujar Johana kepada kebayastory.com, Kamis (30/7/2026).

Keseharian Johana sebagai tenaga medis membuatnya semakin memahami berbagai permasalahan kulit yang dialami masyarakat. Lingkungan kerja yang dekat dengan kehidupan rumah tangga membawanya berinteraksi dengan banyak perempuan yang tidak hanya membutuhkan kesehatan tubuh, tetapi juga perawatan kulit untuk menunjang aktivitas pribadi maupun sosial.

Dari pengalaman tersebut, lahirlah klinik Jo Skincare pada 2013 dengan visi menjadi produk terpercaya dalam menjaga kesehatan kulit masyarakat Indonesia. Melalui bisnis ini, Johana ingin menghadirkan layanan dan produk perawatan kulit yang berlandaskan pendekatan medis. Bukan sekadar mengikuti tren kecantikan.

Jo Skincare saat ini menyasar perempuan usia 20 hingga 55 tahun yang memiliki berbagai kebutuhan dan permasalahan kulit. Menurut Johana yang membuka praktek pribadi sejak 2007, salah satu persoalan yang cukup banyak ditemukan adalah dermatitis kontak alergi akibat penggunaan kosmetik yang tidak sesuai dengan kondisi kulit.

Ia menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih produk perawatan kulit. Pemilihan skincare seharusnya dilakukan berdasarkan kebutuhan kulit secara personal, bukan hanya karena mengikuti tren atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

“Kenali kebutuhan kulitmu, bukan keinginanmu. Kondisi kulitmu adalah dirimu,” pesan Johana.

Jaga standar kesehatan

Pendekatan tersebut menjadi salah satu prinsip Jo Skincare dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Alih-alih menawarkan produk secara umum, Jo Skincare berupaya memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Di tengah pertumbuhan industri skincare yang semakin kompetitif, Jo Skincare memilih memperkuat kepercayaan pelanggan melalui standar pelayanan kesehatan. Johana mengatakan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga layanan kepada konsumen.

Dari sisi produk, Jo Skincare mengembangkan skincare berbasis bahan kimia yang telah melalui pengujian klinis dan telah digunakan oleh sedikitnya 100 pasien setiap bulan. Sementara untuk produk berbahan alami, perusahaan masih melakukan tahap penelitian dan pengembangan (research and development/R&D).

Menurut Johana, inovasi menjadi bagian penting dalam industri perawatan kulit. Namun, pengembangan produk tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan tren pasar karena kulit membutuhkan pemeriksaan dan pemahaman yang tepat.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan ilmu, Johana juga terus meningkatkan kompetensinya dengan menempuh pendidikan doktoral di bidang farmasi untuk mendukung pengembangan produk yang lebih bertanggung jawab.

Padukan layanan digital dan interaksi langsung

Perubahan perilaku konsumen turut mendorong Jo Skincare mengembangkan layanan digital. Melalui strategi digital marketing terintegrasi, setiap cabang menghubungkan aktivitas media sosial dengan layanan e-commerce.

Meski memanfaatkan teknologi digital, Johana tetap menilai interaksi langsung antara tenaga kesehatan dan pelanggan memiliki peran penting dalam layanan perawatan kulit. “Karena kulit butuh dipegang untuk diperiksa,” ujarnya.

Untuk membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, Jo Skincare juga menerapkan sistem customer relationship management (CRM) yang menghubungkan pelanggan dengan tenaga layanan di setiap cabang.

Produk berkualitas

Dalam mengembangkan Jo Skincare, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah menciptakan produk dan layanan berkualitas dengan harga yang tetap dapat dijangkau masyarakat.

Tantangan tersebut dijawab dengan menjaga keseimbangan antara standar pelayanan kesehatan dan kebutuhan pasar. Baginya, bisnis bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Berbisnis untuk mencari berkah dan menjaga integritas sumpah profesi. Yang kaya bukan yang tercepat, tetapi yang paling banyak memberi manfaat,” tutur Johana yang saat ini mengelola 2 klinik pribadi dan 2 beauty store di Jakarta.

Ke depan, Jo Skincare berencana pengembangan dengan membangun pabrik kosmetik tipe B yang memanfaatkan bahan baku alami Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat industri kosmetik nasional sekaligus menghadirkan produk perawatan kulit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Melalui perjalanan Jo Skincare, Johana ingin menunjukkan bahwa industri kecantikan dapat berjalan seiring dengan prinsip pelayanan kesehatan. Baginya, kecantikan bukan hanya tentang tampilan luar, tetapi juga tentang memahami kondisi kulit dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *