
Hello Kebaya Lovers!
DALAM artikel sebelumnya, kebayastory.com menulis bahwa pendudukan penjajah Belanda dan Jepang di Indonesia turut memberikan pengaruh pada perkembangan corak dan jenis batik di Indonesia. Batik Belanda dan Batik Hokokai yang lahir di masa itu bukan hasil karya para penjajah, tetapi dibuat oleh tangan warga pribumi. Orang-orang Belanda dan Jepang yang merancang ide sesuai selera mereka.
Batik Hokokai yang lahir di era pendudukan Jepang memiliki ciri motif sangat detail, warna cerah dengan motif bunga sakura, seruni, kiku (bunga simbol kaisar) atau krisan, tanaman asal negeri Sakura. Batik Hokokai lahir di tengah kondisi keterbatasan kain sehingga muncul ide, dalam selembar kain dibuat dua motif berbeda yang dikenal dengan pola pagi-sore yang merujuk satu kain batik bisa dikenakan di pagi hari dan sore hari dalam satu hari.
Dikutip dari website ranggawarsitamuseum, Batik Hokokai memiliki motif yang merupakan akulturasi dengan budaya Jepang. Pengaruh Jepang terlihat pada ornamen maupun susunan motifnya yang menyerupai Kimono, semakin ke atas makin mengecil dan memakai gaya Sushimoyo, yaitu motif yang menyebar dari dua ujung kain bagian bawah.
Kain batik ini diberi isen-isen (isi corak) dengan guratan halus dengan motif utama berupa bunga dengan ukuran besar. Selain bergambar bunga, ada yang corak kupu-kupu yang merupakan simbol keanggunan wanita dalam budaya Jepang. Pengerjaannya terlihat cermat dan halus, diberi latar atau tanahan kawung, parang, atau ceplok.
Dalam Kamus Mode Indonesia yang disusun Irma Hadisurya dan Ninuk dituliskan, Batik Hokakai sering disebut sebagai batik terindah karena kekayaan warna dan detail yang halus dan rumit. Semua bidang diisi dengan corak dan motifnya merupakan pengembangan bunga dan kupu-kupu yang dipengaruhi Indo Eropa yang kemudian diadaptasi pembatik China.
Asal Muasal Batik Hokokai
Dalam artikel yang ditulis Reni Kusumawardhani di kulturalindonesia.id disebutkan, Batik Hokokai atau Djawa Hokokai adalah batik yang lahir pada jaman penjajahan Jepang (1942-1945), di tengah matinya industri batik saat itu karena sulitnya bahan baku. “Namun ternyata, bagi sebagian pembatik, kesulitan itu mendatangkan kekreatifan. Ada segelintir pembatik yang menghasilkan batik-batik bermutu pada saat itu, berkat adanya pasokan bahan dari Jepang pada saat itu. Batik-batik halus zaman itu disebut Batik Djawa Hokokai,” tulis Reni.
Nama Hokokai merupakan nama organisasi bentukan Jepang yang beranggotakan orang Indonesia tapi dipimpin oleh orang Jepang. Motif dan warna Batik Hokokai menunjukkan adanya pengaruh budaya Jepang. Pada masa itu, pemerintah Jepang banyak memesan batik kepada pengusaha batik Indo-Eropa, Indo-Arab, atau peranakan Tionghoa di Pekalongan yang terkenal akan kehalusan batiknya.
Ragam hias yang ada pada selembar kain Batik Hokokai menggambarkan situasi Indonesia di era Pendudukan Jepang yang sulit mendapatkan kain dan harganya selangit. Para pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan motif yang padat seperti flora fauna.
Sampai saat ini, produksi Batik Djawa Hokokai banyak dijumpai di Pekalongan, terutama di Kedungwuni. Para perajin batik daerah lain menjadikan motif Hokokai sebagai inspirasi yang dikombinasikan dengan motif setempat seperti di Cirebon, Madura dan Solo.
Batik Hokokai Oey Soe Tjoen
Pembahasan mengenai Batik Hokokai tidak akan lengkap tanpa menyebut Batik Oey Soe Tjoen, pelopor dan perintis usaha batik tulis halus legendaris asal Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, yang berdiri sejak tahun 1925. Dikutip dari https://pithecanthropusbali.com, Oey Soe Tjoen mengadopsi kompleksitas gaya Batik Hokokai yang menghasilkan karya-karya yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga menunjukkan penguasaan teknis yang luar biasa.

Setiap helai batik karya Oey Soe Tjoen dibuat dengan teknik tulis tangan dan proses pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Para perajinnya terlatih untuk mempertahankan standar tinggi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, lebih dari satu abad sejak didirikan, usaha Batik Oey Soe Tjoen masih terus berproduksi didorong oleh semangat untuk melestarikan seni batik.
Dalam artikel berjudul Warisan Batik Hokokai: Antara Propaganda Jepang dan Kehalusan Karya Oey Soe Tjoen yang ditulis Nanang Rendi Fauzi, pada era penjajahan Jepang 1942-1945, karya batik Hokokai buatan Oey Soe Tjoen dihargai sangat tinggi oleh Kumiai, ditukar dengan tiga helai kain mori, karena kehalusan dan kerumitan ragam hiasnya. Namun hingga kini, tak satu pun batik Hokokai bertanda tangan Oey Soe Tjoen berhasil ditemukan.
Namun menurut Oey Kiem Lian, generasi ketiga keluarga Oey Soe Tjoen, ia tidak pernah menemukan batik Hokokai yang dibubuhi tanda tangan Oey Soe Tjoen, meskipun pernah mendengar bahwa Oey Soe Tjoen dan Kwee Netti pernah membuatnya. Beberapa kolektor meyakini bahwa pembatik pada masa Jepang jarang membubuhkan cap atau tanda tangan karena kain mori berkualitas sangat sulit didapat, sehingga para pembatik enggan memperlihatkan bahwa mereka masih bisa memperoleh bahan bagus.
Batik Hokokai dapat dikenali dari kualitas yang kebanyakan dibuat pembatik Tionghoa peranakan, Indo–Eropa, dan Indo–Arab. Beberapa nama yang dikenal antara lain Oey Soe Tjoen dan Oey Siok Kiem dari Kedungwuni, serta Oei Khing Liem dan Eliza van Zuylen. Pada masa pendudukan, Oey Soe Tjoen dan Eliza van Zuylen bahkan pernah diperintah langsung oleh pemerintah Jepang untuk membuat obi (ikat pinggang kimono) yang dibatik, serta kain panjang dengan pola pagi–sore.
Kado untuk Shinzo Abe
Ada catatan penting tentang Batik Hokokai yang menjadi simbol hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Saat Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meninggal karena ditembak pada 8 Juli 2022, Pemerintah Indonesia memberikan lukisan Shinzo Abe mengenakan Batik Hokokai yang diserahkan kepada Dubes Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasuki.

Lukisan Shinzo Abe yang tersenyum mengenakan batik warna hijau dengan corak bunga merah muda dan kupu-kupu berwarna ungu dilukis oleh Dipo Alam, mantan Sekretaris Negara era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Lukisan ini sebagai bentuk belasungkawa dan menandai hubungan baik ndonesia dan Jepang,” kata Dipo seperti dilansir dari antaranews.com 22 September 2022.
Wah, Kebaya Lovers, menarik sekali ya menelusuri sejarah Batik Hokokai, yang memperkaya seni budaya Indonesia. Salut untuk para perajin pribumi, di tengah situasi penjajahan yang berat baik oleh Belanda maupun Jepang dengan kondisi politik dan ekonomi yang memprihatinkan, mereka bisa menghasilkan karya luar biasa yang abadi hingga kini.
































































