Hello Kebaya Lovers!

NAMAKU Fransisca Ria Susanti. Aku masih ingat hari itu, April 2019. Saat sedang mandi, tanganku tiba-tiba meraba sebuah benjolan di dada, tepat di atas payudara kiri. Aku langsung teringat kakak perempuan nomor duaku yang meninggal karena kanker payudara.

Empat hari kemudian, aku menjalani USG. Hasilnya mengonfirmasi ketakutanku: aku didiagnosis kanker payudara. Reaksi pertamaku? Aku langsung *blank*.

Pikiranku bukan hanya tentang diriku sendiri, operasi, atau kemoterapi. Aku justru teringat kakak perempuanku yang mengalami down syndrome dan tinggal di kampung. Kedua orang tua kami sudah meninggal. Kakak perempuanku yang lain, yang mungkin bisa merawatnya, juga sudah tiada. Kalau aku meninggal karena kanker, siapa yang akan merawat kakakku?

Pertanyaan itulah yang terus berputar di kepalaku. Aku takut, sedih, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, di tengah semua ketakutan itu, aku tahu bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak ingin hanya diam dan membiarkan ketakutan menguasai diriku.

Aku Harus Tahu Apa yang Sedang Ku Hadapi

Hal pertama yang kulakukan adalah mencari tahu sebanyak mungkin tentang kanker. Aku mulai berselancar di internet, membaca jurnal, dan pergi ke toko buku untuk mencari bacaan tentang penyakit ini. Aku ingin memahami apa itu kanker, bagaimana pengobatannya, dan apakah ada pasien yang bisa bertahan hidup setelah didiagnosis kanker.

Aku sadar, aku tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut. Aku perlu pengetahuan agar bisa memahami pilihan pengobatan dan mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang yang menantiku.

Aku juga berdiskusi dengan suami, kakak-kakak, dan teman-teman dekat. Aku membutuhkan orang-orang yang bisa kuajak berbicara, bertukar pikiran, dan membantu mempertimbangkan langkah yang harus kuambil.

Di tengah proses itu, aku berusaha mencari kekuatan melalui buku-buku yang menginspirasi. Membaca menjadi salah satu caraku menjaga pikiran agar tidak terus-menerus dipenuhi bayangan buruk tentang kanker dan kematian.

Aku tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang serius. Namun, aku tidak ingin menyerah bahkan sebelum memulai pengobatan.

Operasi, Kemoterapi, dan Penantian yang Panjang

Aku menjalani mastektomi, yaitu operasi pengangkatan payudara kiri. Setelah itu, aku masih harus menjalani rangkaian pengobatan lanjutan berupa kemoterapi, radioterapi, dan terapi hormon.

Perjalanan pengobatanku tidak berlangsung singkat. Dari operasi hingga selesai menjalani radiasi, waktunya sekitar satu tahun. Aku menjalani enam kali kemoterapi dan 25 kali radiasi. Setelahnya, aku harus mengonsumsi obat hormon yang awalnya direncanakan selama sepuluh tahun.

Namun, perjalanan pengobatan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Setelah sekitar enam tahun mengonsumsi obat hormon, aku sempat harus menghentikannya sementara karena ditemukan polip di rahim dan perlu penyesuaian pengobatan.

Aku belajar bahwa menghadapi kanker bukan hanya tentang menjalani satu tindakan medis, lalu berharap semuanya selesai. Ada banyak tahapan, pemeriksaan, konsultasi, dan keputusan yang harus dihadapi sepanjang perjalanan.

Saat itu, aku juga merasakan betapa lamanya menunggu pengobatan lanjutan melalui BPJS. Sambil menunggu jadwal, aku mencoba mencari cara lain yang menurutku masuk akal untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan pikiranku.

Aku bertemu dengan praktisi food combining dan mulai mengubah pola makan. Aku juga mengikuti terapi meditasi penyembuhan shen-qi. Bagiku, itu merupakan upaya tambahan untuk merawat diri, sementara pengobatan medis tetap menjadi fokus utama.

Aku ingin menegaskan satu hal: aku tidak meninggalkan pengobatan medis. Operasi, kemoterapi, radiasi, dan terapi hormon tetap menjadi bagian penting dari perjalanan pengobatanku. Perubahan pola makan dan meditasi kulakukan sebagai pendamping, bukan pengganti terapi dokter.

Tetap Bekerja, Tetap Menjalani Hidup

Di tengah pengobatan, aku berusaha tetap masuk kerja seperti biasa. Bagiku, bekerja menjadi salah satu cara untuk mempertahankan rutinitas dan membuat hidupku tidak sepenuhnya berputar di sekitar kanker. Tentu saja, ada hari-hari ketika aku merasa takut atau lelah. Namun, aku berusaha menjalani hari demi hari dengan sebaik mungkin.

Aku mulai memperhatikan pola makan dan mengubah kebiasaan hidup. Aku sempat menjalani pola makan vegetarian selama empat bulan, mengurangi konsumsi gula, daging merah, dan tepung. Aku juga berusaha tidur sebelum pukul sepuluh malam, mengurangi begadang, berjalan kaki selama 30 menit, serta rutin bermeditasi.

Perubahan ini bukan sesuatu yang langsung mudah dilakukan. Ada proses penyesuaian, ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan, dan ada kalanya aku merasa kesulitan menjaga konsistensi.

Namun, aku belajar bahwa merawat diri tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, langkah-langkah sederhana yang dilakukan berulang kali justru menjadi bagian penting dari keseharian kita.

Aku tidak menganggap perubahan pola hidup sebagai jaminan kanker tidak akan kembali. Aku melakukannya karena ingin menjaga tubuh dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Suami dan Teman-Teman yang Menjadi Kekuatan

Dalam perjalanan panjang ini, dukungan terbesar datang dari suamiku. Ia tidak hanya menemani secara emosional, tetapi juga ikut terlibat dalam perubahan gaya hidup yang harus kulakukan. Ia mengingatkanku untuk berolahraga, membuatkan jus, dan membantu menyediakan makanan yang sesuai dengan pola makan yang sedang kujalani.

Bahkan, ia ikut mengubah pola makannya sendiri agar aku tidak merasa sendirian. Belakangan, ia juga merasakan manfaat dari perubahan kebiasaan tersebut sehingga gaya hidup sehat menjadi sesuatu yang kami jalani bersama.

Tentu saja, ada kalanya aku merasa kesulitan menjaga konsistensi. Saat tubuh mulai terasa lebih baik, godaan untuk kembali pada kebiasaan lama sering muncul. Di saat seperti itulah, suamiku biasanya kembali mengingatkanku. Kadang bawel juga, tetapi justru itu yang kubutuhkan.

Selain suami, aku bersyukur memiliki teman-teman perempuan yang selalu ada ketika aku membutuhkan tempat untuk bercerita. Mereka bersedia mendengarkan keluh kesahku, menemani ke rumah sakit, menanyakan kabar, bahkan membantu dalam berbagai bentuk, baik materiil maupun nonmateriil.

Aku menyebut mereka sebagai tempat sampah curhatku. Bukan karena mereka menampung sesuatu yang tidak berharga, melainkan karena aku bisa menumpahkan rasa takut, kesedihan, dan kegelisahan tanpa harus selalu terlihat kuat.

Dari mereka, aku belajar bahwa dukungan tidak selalu harus berupa nasihat atau solusi. Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan saja sudah sangat berarti.

Aku tidak bergabung dengan komunitas kanker tertentu. Namun, pada masa awal diagnosis, seorang kawan bernama Kristin Samah pernah menghubungkanku dengan komunitas pasien kanker dari Yayasan Kanker Indonesia. Para penyintas yang menghubungiku saat itu cukup gigih memberikan dukungan dan mengingatkanku agar tetap menempuh pengobatan medis, bukan hanya mengandalkan pengobatan alternatif.

Dukungan seperti itu membantuku memahami bahwa aku tidak harus menghadapi semua ketakutan ini sendirian.

Belajar Hidup Berdampingan dengan Ketidakpastian

Salah satu hal tersulit ketika menghadapi kanker adalah menerima ketidakpastian. Aku pernah membaca banyak referensi tentang kanker dan kisah pasien yang mampu bertahan hidup. Pengetahuan itu membantuku memahami penyakit yang sedang kuhadapi, tetapi juga membuatku sadar bahwa perjalanan setiap pasien berbeda.

Tidak ada satu pengalaman yang bisa dijadikan patokan bagi semua orang. Pengobatan, respons tubuh, dan kondisi setiap pasien tidak selalu sama.

Karena itu, aku berusaha menjalani pengobatan sesuai arahan dokter dan melakukan kontrol secara rutin. Meski pengobatan utama telah selesai, aku tahu bahwa menjaga kesehatan tetap menjadi bagian dari kehidupanku.

Aku pernah merasa lebih tenang ketika kondisi tubuh membaik. Namun, aku juga belajar bahwa merasa sehat bukan berarti boleh mengabaikan pemeriksaan. Kontrol tetap diperlukan meskipun hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukkan kondisi yang baik.

Bagiku, kanker bukan sesuatu yang bisa begitu saja kulupakan. Ia pernah hadir dan mengubah banyak hal dalam hidupku. Namun, aku tidak ingin seluruh kehidupanku ditentukan oleh penyakit ini.

Aku ingin tetap bekerja, membaca, berolahraga, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan menikmati hal-hal sederhana yang membuat hidup terasa berarti.

Untuk Perempuan yang Baru Didiagnosis Kanker Payudara

Kalau ada perempuan yang baru saja menerima diagnosis kanker payudara dan sedang merasa takut, aku ingin mengatakan bahwa aku memahami perasaan itu.

Aku juga pernah mengalami saat-saat ketika pikiranku kosong, ketakutan membayangkan kematian, dan kecemasan memikirkan orang-orang yang akan kutinggalkan.

Namun, aku belajar bahwa rasa takut tidak harus membuat kita berhenti melangkah.

Carilah informasi dari sumber yang dapat dipercaya. Diskusikan pilihan pengobatan dengan dokter. Jangan ragu meminta dukungan dari pasangan, keluarga, teman, atau tenaga kesehatan. Jika membutuhkan pendampingan emosional, carilah orang atau komunitas yang bisa membantu melewati masa sulit tersebut.

Dan yang paling penting, jangan merasa harus selalu kuat setiap saat. Kita boleh sedih, takut, menangis, dan merasa lelah. Semua itu tidak berarti kita menyerah.

Perjalanan pengobatan kanker memang panjang. Ada prosedur yang harus dijalani, efek samping yang perlu dihadapi, serta ketidakpastian yang kadang sulit diterima. Tetapi kita bisa melewatinya satu tahap demi satu tahap, dengan dukungan yang tepat dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kita.

Aku tidak tahu berapa lama waktu yang masih kumiliki. Tidak seorang pun benar-benar mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

Karena itu, aku berusaha melakukan yang terbaik hari ini: menjalani pengobatan dan kontrol sesuai kebutuhan, menjaga pola makan, bergerak, beristirahat, serta memelihara hubungan dengan orang-orang yang kusayangi. Selebihnya, aku belajar menyerahkan hal-hal yang tidak bisa kukendalikan kepada Tuhan.

Pesanku sederhana, jangan putus asa dan jangan menyerah. Perjalanan menghadapi kanker memang panjang, tetapi jangan biarkan ketakutan tentang masa depan merampas kesempatanmu untuk menjalani hari ini.

Kita tidak selalu bisa menentukan apa yang terjadi pada tubuh kita. Namun, kita tetap bisa berusaha, mencari pertolongan, menerima dukungan, dan menjalani kehidupan sebaik mungkin, satu hari demi satu hari.

Fransiska Ria Susanti, mantan jurnalis. Saat ini aktif di Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *