Hello Kebaya Lovers!

Namaku Respati. Aku pernah bekerja sebagai jurnalis dan redaksi di sejumlah stasiun televisi dan radio penyiaran publik nasional Belanda, di antaranya NMO, VPRO, dan NTR. Selain itu, aku juga pernah mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Setelah didiagnosis kanker payudara, aku lebih memusatkan perhatian pada pekerjaan sebagai pengajar NT2 atau bahasa Belanda sebagai bahasa kedua bagi para pendatang baru, imigran, pengungsi, dan ekspatriat di Belanda yang harus memenuhi persyaratan program integrasi.

Januari 2021 menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupku. Saat itu, aku didiagnosis kanker payudara. Kini, aku menjalani hidup sebagai metavivor, sebutan bagi seseorang yang hidup dengan kanker metastasis. Meski sel-sel kankerku saat ini stabil, aku masih menjalani pengobatan dan pemeriksaan rutin dengan dokter onkologi.

Perjalanan ini mengubah banyak hal dalam hidupku. Bukan hanya tentang bagaimana aku menghadapi penyakit dan pengobatan, tetapi juga bagaimana aku memandang tubuh, keluarga, waktu, dan diriku sendiri.

Ketika Dugaan Jadi Kenyataan

Sejak kakak perempuanku meninggal dunia akibat kanker kelenjar getah bening pada 2014, aku rutin menjalani pemeriksaan dini di RS Dharmais setiap tahun. Namun, pada 2020, ketika pandemi COVID-19 melanda, aku melewatkan pemeriksaan karena kondisi rumah sakit saat itu terasa kurang kondusif. Aku juga berpikir bahwa deteksi dini hanya bersifat preventif.

Sejak akhir 2020, aku mulai merasa mudah lelah. Benjolan yang selama ini diketahui sebagai tumor jinak di payudara kiriku terasa agak nyeri. Aku masih menjalani aktivitas seperti biasa, tetapi sering merasakan energiku tiba-tiba menurun drastis pada sore hari. Ada perasaan bahwa sesuatu tidak beres dengan tubuhku.

Pada Januari 2021, pemeriksaan akhirnya memastikan bahwa aku terkena kanker payudara.
Saat menerima diagnosis itu, aku ditemani seorang sahabat karena suamiku sedang bertugas di luar kota dan pembatasan sosial masih berlaku. Anehnya, aku justru cukup tenang, sementara sahabatku mengalami syok.

Aku tidak terlalu terkejut karena sebelumnya sudah memiliki dugaan. Pengalamanku mendampingi almarhum kakak yang terlambat mendapatkan diagnosis membuatku memahami betapa pentingnya mengetahui penyakit dengan segera. Aku bersyukur diagnosis akhirnya ditegakkan sehingga aku bisa langsung memikirkan langkah pengobatan yang harus dijalani.

Ketakutan terbesarku bukanlah kehilangan rambut atau payudara, melainkan apakah tubuhku cukup kuat menghadapi kemoterapi. Aku bertubuh mungil dan cenderung kurus. Di sisi lain, anak perempuanku satu-satunya saat itu baru berusia 11 tahun.
Aku ingin tetap hidup untuk mendampinginya tumbuh dewasa.

Berjuang untuk Tetap Dampingi Anak

Sebelum didiagnosis kanker, aku sebenarnya sudah melewati masa-masa sulit. Kakak perempuan, ayah, dan ibuku berpulang dalam rentang waktu yang relatif berdekatan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kehilangan mereka membuatku merasa harus lebih banyak mengandalkan diri sendiri dalam membesarkan anak perempuanku, tentu bersama suamiku. Dahulu, ketika orang tua dan kakakku masih ada, aku merasa memiliki tempat untuk menitipkan anak jika harus bertugas ke luar kota atau menghadapi keadaan darurat.

Setelah mereka tiada, aku merasa anakku juga kehilangan sumber kasih sayang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Aku teringat janji yang pernah kusampaikan kepada kedua orang tuaku sebelum mereka berpulang: aku akan menjaga anakku. Janji itu menjadi salah satu kekuatan terbesarku ketika menghadapi kanker.

Aku ingin berusaha sebaik mungkin agar bisa mendampingi anakku selama mungkin. Aku tahu hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada dalam kendaliku. Namun, selama masih diberi kesempatan, aku ingin menjalani ikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, aku mempersiapkan diri menghadapi kemoterapi dengan berusaha menjaga kondisi mental dan fisik. Aku mencoba berpikir positif dan tidak membiarkan ketakutan mengambil alih seluruh pikiranku.

Bukan berarti aku selalu kuat atau tidak pernah sedih. Aku hanya ingin memberikan kesempatan terbaik bagi diriku sendiri untuk melewati setiap tahap pengobatan.

Mastektomi dan Perpisahan dengan Bagian Tubuhku

Setelah diagnosis, aku meminta agar operasi dilakukan sesegera mungkin. Sekitar dua minggu kemudian, aku menjalani mastektomi, yaitu operasi pengangkatan payudara.

Pemeriksaan PET scan setelah operasi menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke hati dan salah satu ruas tulang belakang. Aku didiagnosis kanker payudara stadium 4.

Dokter onkologiku di Jakarta menjelaskan bahwa aku perlu menjalani kemoterapi, kemudian mempertimbangkan pengobatan berikutnya sesuai kondisi tubuh, serta mengonsumsi obat dalam jangka panjang. Dari penjelasan itu, aku memahami bahwa pengobatanku kemungkinan akan menjadi bagian dari sisa perjalanan hidupku.

Aku tidak pernah membayangkan harus menghadapi keadaan seperti ini. Namun, sejak awal aku sudah menyadari bahwa mempertahankan hidup jauh lebih penting daripada mempertahankan bentuk tubuh.

Ketika bertemu dokter bedah sebelum operasi, aku diberi tahu bahwa payudaraku mungkin bisa dipertahankan apabila sel kanker belum menginvasi saluran utama. Aku mengatakan bahwa bagiku, payudara tidak lebih penting daripada hidupku. Jika memang harus diangkat, silakan diangkat.

Sebelum operasi, aku, suami, dan anakku melakukan semacam ritual perpisahan dengan payudara kiriku. Kami mengucapkan terima kasih karena selama ini bagian tubuh itu telah menjalankan fungsinya dengan baik, termasuk menyusui anak kami hingga berusia tiga setengah tahun.

Aku juga meminta maaf karena merasa belum berhasil menjaganya tetap sehat, lalu bersyukur kepada Tuhan atas apa pun yang harus kami hadapi. Sejak saat itu, aku belajar membangun hubungan yang berbeda dengan tubuhku sendiri. Aku mencoba berterima kasih kepada bagian-bagian tubuhku secara rutin, bukan hanya ketika semuanya sehat dan berfungsi seperti yang kuharapkan.

Aku menyadari bahwa tubuhku telah menemani perjalanan hidupku selama bertahun-tahun. Ia layak mendapatkan kasih sayang, bahkan ketika keadaannya berubah.

Kecantikan Bukan Sekadar Bentuk Fisik

Aku beruntung dibesarkan oleh orang tua yang mengajarkanku bahwa perempuan tidak boleh menjadikan kecantikan fisik sebagai hal terpenting dalam hidup.
Tentu saja, penampilan dan estetika tetap boleh diperhatikan. Namun, seorang perempuan memiliki begitu banyak sisi lain yang bisa dikembangkan dan dibanggakan: prestasi akademis, bakat seni, keterampilan, hingga kemampuannya memberikan manfaat bagi sesama.

Aku suka membayangkan diri manusia seperti berlian. Ketika satu fasetnya, dalam hal ini penampilan fisik, berubah atau kehilangan sebagian keindahannya, masih ada faset-faset lain yang tetap bersinar.

Aku baru benar-benar menyadari betapa kuatnya pengaruh didikan orang tuaku ketika beberapa teman perempuan bermaksud menghiburku dengan menyarankan operasi estetika menggunakan silikon setelah aku kehilangan payudara.

Aku memahami bahwa mereka mungkin bermaksud baik. Namun, bagiku, kehilangan payudara bukanlah sesuatu yang harus segera diperbaiki agar aku kembali merasa utuh sebagai perempuan.

Aku juga sudah menerima kenyataan bahwa kemoterapi akan membuat rambutku rontok. Semua itu memang perubahan fisik yang besar, tetapi keinginanku untuk bertahan hidup jauh lebih kuat daripada kekhawatiran terhadap penampilan.
Aku tidak mengatakan bahwa setiap perempuan harus memiliki pandangan yang sama denganku. Setiap orang memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam menghadapi perubahan tubuh. Bagiku sendiri, menerima keadaan menjadi lebih mungkin ketika aku berhenti menempatkan penampilan fisik sebagai ukuran utama nilai diriku.

Ketika Energi Tidak Lagi Sama

Perubahan yang paling berat bagiku justru bukan kehilangan payudara atau rambut, melainkan berkurangnya vitalitas dan energi. Dahulu, aku dikenal sebagai orang yang sangat aktif, lincah, dan seolah tidak pernah kehabisan tenaga. Aku terbiasa bekerja keras dan mengisi hari dengan berbagai agenda.

Setelah menjalani pengobatan, tubuhku tidak lagi mampu mengikuti semua keinginan dan rencana seperti dahulu. Rasanya seperti kuda pacu yang patah kaki. Ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan, tetapi tenaga yang tersedia tidak selalu mencukupi. Pada awalnya, aku merasa tidak berdaya dan frustrasi menghadapi perubahan itu.

Perlahan-lahan, aku belajar menerima bahwa tubuhku memiliki batas. Aku mulai melihat keadaan ini sebagai kesempatan untuk lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan lebih mendengarkan kebutuhan diri sendiri.

Dahulu, aku sering mengesampingkan kebutuhan istirahat demi menyelesaikan pekerjaan atau memenuhi agenda. Sekarang, aku belajar bahwa beristirahat bukanlah bentuk kemalasan dan bahwa produktivitas tidak harus menjadi ukuran keberhasilan setiap hari.
Jika tubuhku membutuhkan waktu untuk berbaring atau memulihkan tenaga, aku berusaha memenuhinya tanpa merasa bersalah.

Kanker Bikin Kami Lebih Menghargai Waktu

Ada sebuah ungkapan yang selalu kuingat: to love is to realize that it might be lost — mencintai berarti menyadari bahwa suatu saat kita bisa kehilangan. Pengalaman menghadapi kanker membuat hubungan kami sebagai keluarga semakin kuat. Kami semakin menyadari bahwa kebersamaan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.

Suami dan anakku membantu meringankan pekerjaan sehari-hari. Mereka memahami bahwa dalam kondisi fisik yang sedang berjuang menghadapi kemoterapi, aku tidak lagi sanggup mengerjakan semua hal seperti sebelumnya.

Dukungan sederhana semacam itu sangat berarti bagiku. Aku tidak selalu membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan masalahku. Terkadang, aku hanya membutuhkan orang-orang terdekat untuk memahami bahwa tenagaku terbatas dan aku membutuhkan bantuan.
Dukungan juga datang dari paman, bibi, para sepupu, keluarga mertua, serta sahabat-sahabatku. Meskipun sebagian doa dan dukungan disampaikan secara daring, kehadiran mereka membuatku merasa tidak sendirian.

Aku merasa disayangi dan diterima apa adanya. Bagiku, perasaan itu sangat berharga ketika seseorang sedang menghadapi penyakit serius. Aku percaya, kasih sayang tidak selalu harus diwujudkan dalam nasihat panjang atau tindakan besar. Terkadang, cukup dengan hadir, mendengarkan, dan membantu tanpa menghakimi.

Hidup Berdampingan dengan Kanker

Setelah menjalani operasi, aku melanjutkan kemoterapi. Tujuh kali kemoterapi kulakukan di Jakarta, sementara sisanya kujalani di Rotterdam, Belanda, tempat aku kini bermukim bersama keluargaku. Aku berhenti menghitung jumlah kemoterapi setelah melewati angka 40 kali.

Kepindahan kami ke Belanda sebenarnya telah direncanakan jauh sebelum aku didiagnosis kanker. Karena keluarga inti di Indonesia sudah berpulang, kami memutuskan untuk kembali ke negeri asal suamiku dan menyekolahkan anak di sana setelah ia menyelesaikan sekolah dasar di Indonesia.

Dokter onkologi di Belanda tidak merekomendasikan radioterapi untuk kondisiku. Hingga kini, aku masih menjalani pengobatan dengan obat-obatan dan pemeriksaan rutin kepada dokter onkologi setiap bulan. Sebagai pasien kanker metastasis stadium 4, aku menyebut diriku seorang metavivor. Artinya, aku hidup berdampingan dengan kanker yang secara medis belum dapat disembuhkan.

Kondisiku bisa naik dan turun. Ada masa ketika hasil pemeriksaan menunjukkan keadaan yang stabil, tetapi tetap ada ketidakpastian yang harus kuhadapi.
Tentu saja, kecemasan terkadang muncul. Namun, aku berusaha agar kecemasan tidak mengambil alih kehidupanku.

Seorang sahabat pernah mengatakan sesuatu yang selalu kuingat, meskipun perkataan itu disampaikan jauh sebelum aku didiagnosis kanker: “Cemas atau tidak, apa pun yang sudah digariskan harus terjadi tetap akan terjadi.”

Kalimat itu membuatku berpikir bahwa kecemasan tidak akan mengubah segala kemungkinan yang berada di luar kendaliku. Bukan berarti aku tidak boleh takut atau sedih. Aku hanya belajar untuk tidak menghabiskan seluruh waktu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Aku berusaha tetap tenang dan menyerahkan hal-hal yang tidak bisa kukendalikan kepada Tuhan.

Di samping pengobatan medis, aku juga menjalani meditasi penyembuhan sebagai bagian dari ikhtiarku. Bagiku, penting untuk tetap berusaha menjaga keseimbangan diri, sembari mengikuti pengobatan dan pemantauan medis.

Belajar Hidup dengan Lebih Pelan

Kanker memaksaku mengubah cara menjalani hari. Dari seseorang yang terbiasa sibuk dan bekerja keras, aku belajar menjalani hidup dengan lebih pelan atau slow living.
Aku berusaha memulai pagi dengan tenang. Saat membuka mata, aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bangun dan menjalani hari yang baru.

Setelah itu, aku bermeditasi dan berjalan pagi di sekitar rumah. Selain menikmati udara segar, berjalan kaki juga membantuku mengenali kondisi energi tubuh pada hari itu.

Aku tetap bekerja secara daring, tetapi membatasi janji dan kewajiban yang mengharuskanku berinteraksi dengan banyak orang. Aku juga berusaha mengurangi interaksi yang berpotensi menimbulkan stres dan menyediakan lebih banyak waktu untuk hening.

Hal terpenting yang kupelajari adalah mendengarkan tubuh sendiri. Jika hari itu aku merasa cukup kuat untuk bekerja, aku akan bekerja. Jika tubuhku membutuhkan istirahat lebih lama, aku akan beristirahat. Aku tidak lagi merasa harus membuktikan sesuatu melalui pencapaian setiap hari. Tujuan harianku kini lebih sederhana, merasa bahagia dan bersyukur atas apa yang masih kumiliki saat ini.

Menemani Orang Lain Tanpa Harus Menggurui

Pada awal perjalanan kanker, aku sempat aktif dalam komunitas sesama pasien kanker di Belanda. Ketika kondisiku membaik dan sel-sel kanker stabil, aku kemudian lebih aktif sebagai relawan di De Zonnebloem, sebuah organisasi yang mendukung kegiatan sosial bagi orang-orang yang membutuhkan pendampingan, terutama lansia.

Aku membantu berbagai kegiatan, seperti menyiapkan makanan untuk makan malam bersama atau mendampingi lansia berjalan-jalan. Aku juga tetap membuka diri untuk menjadi teman berbagi bagi sesama pasien kanker secara pribadi, satu lawan satu, bukan dalam kelompok besar.

Menurut pengalamanku, kanker merupakan pengalaman yang sangat individual. Dua pasien yang memiliki jenis kanker dan penyebaran penyakit serupa, bahkan menerima obat yang sejenis, belum tentu mengalami respons pengobatan yang sama.

Terkadang, cerita tentang kemajuan seseorang dalam pengobatan bisa memberikan harapan bagi pasien lain. Namun, dalam situasi tertentu, cerita yang sama justru dapat membuat pasien yang masih berjuang merasa frustrasi karena membandingkan kondisinya dengan orang lain.

Karena itu, aku memilih hadir untuk menemani seseorang secara personal. Aku ingin mendengarkan tanpa terburu-buru memberikan nasihat, apalagi jika nasihat itu tidak diminta.

Menurutku, seseorang yang sedang menghadapi penyakit serius tidak selalu membutuhkan jawaban. Terkadang, ia hanya membutuhkan orang lain yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan ceritanya, atau berdoa bersama.

Aku ingin memberikan dukungan dengan cara yang sederhana: menunjukkan bahwa ia tidak harus menghadapi perjuangannya seorang diri.

Tubuhku Tidak Butuh Validasi Orang Lain

Setelah melewati semua pengalaman ini, aku semakin percaya bahwa tubuh kita adalah kendaraan yang telah menemani dan membawa kita menjalani kehidupan sejauh ini.

Apa pun bentuk dan keadaannya, tubuh layak disayangi. Kita bisa belajar berterima kasih kepada setiap bagian tubuh yang selama ini bekerja bersama kita, bahkan ketika sebagian fungsinya berubah karena penyakit atau pengobatan. Aku juga belajar bahwa tubuh dan diri kita tidak membutuhkan validasi dari luar untuk menjadi berharga.

Orang-orang yang tulus menyayangi kita tidak akan menjadikan kebotakan, kulit yang mengering atau menggelap akibat kemoterapi, maupun perubahan bentuk tubuh sebagai alasan untuk merendahkan kita. Justru dalam situasi seperti ini, kita bisa melihat siapa yang benar-benar menerima kita apa adanya.

Jika seseorang memahami apa yang sedang kita lalui, semestinya ia tidak menjadikan perubahan fisik sebagai bahan komentar yang menyakitkan. Jika ia tidak memahami, kita pun tidak harus terus-menerus merasa bertanggung jawab atas ketidakmampuannya untuk mengerti.

Sebagai perempuan dan sebagai manusia, kita berharga. Kita layak dihargai dan disayangi tanpa syarat, tanpa harus memenuhi ekspektasi orang lain. Untuk para orang tua yang membesarkan anak perempuan, aku berharap kita mengajarkan mereka untuk mencintai dirinya dengan sehat. Ajarkan bahwa kecantikan tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk tubuh, warna kulit, rambut, atau standar yang ditetapkan masyarakat.

Kecantikan terletak pada mata yang melihat. Sebuah lukisan abstrak mungkin terlihat tidak simetris atau berantakan bagi sebagian orang, tetapi bisa memiliki keindahan dan makna bagi orang yang memahami seni. Begitu pula dengan manusia. Kita tidak harus memenuhi satu standar tertentu untuk dianggap indah dan berharga.

Jika masyarakat terus menuntut perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang sempit, mungkin justru standar masyarakat itulah yang perlu kita pertanyakan.

Aku tidak tahu berapa lama lagi perjalanan hidupku akan berlangsung. Namun, aku ingin menggunakan waktu yang masih diberikan kepadaku untuk menjalani hidup dengan lebih sadar, mencintai keluarga, membantu sesama, dan berdamai dengan tubuhku sendiri.

Bagiku, menerima diri bukan berarti berhenti berusaha. Menerima diri berarti mengakui keadaan kita hari ini tanpa kehilangan kasih sayang kepada diri sendiri.
Dan mencintai tubuh bukan berarti tubuh harus selalu sehat, kuat, atau terlihat sempurna. Mencintai tubuh berarti tetap menghargainya, bahkan ketika ia sedang berjuang.

Karena pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi sempurna untuk layak dicintai. Kita hanya perlu belajar menerima bahwa diri kita, dalam segala keadaan, tetap berharga. ***

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *