Hello Kebaya Lovers!

MALAM yang dingin di kota kecil Italia mendadak terasa hangat. Bukan karena jaket tebal, tapi karena Kebaya Night, sebuah perayaan budaya yang bikin kebaya tampil pede di jantung Eropa.

Alunan lagu Indonesia yang dinyanyikan Cahaya, penyanyi muda berbakat jebolan The Voice Kids Spanyol dan Eurovision Junior Spanyol, mengiringi langkah anggun perempuan-perempuan berkebaya. Mereka adalah anggota Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Eropa yang datang dari berbagai negara, membawa sepotong identitas Nusantara dan sukses memukau warga Italia yang hadir malam itu.

Nuansa Indonesia makin terasa saat aroma nasi goreng, sate ayam, pastel, dan risoles memenuhi ruangan. Menu khas Tanah Air ini diracik langsung oleh Chef Marco Feltrin dari Feria Restaurant—restoran yang masuk daftar Michelin Guide. Indonesia vibes, but make it Europe!

Pegiat kebaya sekaligus istri Dubes RI untuk Takhta Suci, Atie Nitiasmoro, menyoroti dampak kebaya dari sisi ekonomi.

Menurutnya, berkebaya adalah cara merawat ingatan kolektif bangsa sekaligus menumbuhkan nasionalisme di tengah arus globalisasi.

“Kebaya juga menggerakkan ekonomi. Dari UMKM sampai industri mode besar, semuanya hidup. Sekarang kebaya mudah ditemui di department store dan marketplace, bahkan banyak pesanan datang dari luar negeri,” jelas Atie.

Bagi PBI Eropa, Kebaya Night bukan sekadar acara fashion. Ini adalah ruang perjumpaan budaya dan panggung diplomasi kultural, tempat kebaya bicara soal sejarah, jati diri, dan peran perempuan Indonesia di dunia global.

Ketua PBI Eropa berfoto bersama Ibu Gloria Gigante , sebagai Konsul Kehormatan untuk Indonesia di Trieste. Dan bu Atie Nitiasmoro, sebagai istri Dubes RI untuk Tahta suci Vatikan juga sebagai penggiat kebaya di Indonesia dan juga salah satu pejuang yang menggoalkan kebaya goes to UNESCO.

Ketua PBI Eropa, Christiana D. Streiff, menegaskan komitmen organisasinya untuk membawa kebaya melampaui batas geografis.

“Kami berkomitmen memperkuat posisi kebaya sebagai identitas budaya nasional yang berkelas global,” tegasnya.

Acara ini juga menjadi kelanjutan langkah PBI Eropa setelah kunjungan mereka ke UNESCO pada Februari 2025, menandai keseriusan memperjuangkan kebaya di level internasional.

Bapak Dubes Junimart Girsang berfoto bersama ibu Atie Nitiasmoro ( istri Dubes Vatikan untuk Indonesia & penggiat Kebaya) , Ibu Gloria Gigante ( Konsul Kehormatan Italia untuk Indonesia), ketua PBI Eropa, Christiana Streiff dan para perempuan berkebaya di berbagai negara Eropa & beserta para hadirin dan juga staf kbri Roma

Hal senada disampaikan Duta Besar RI untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang. Menurutnya, kebaya bukan sekadar busana tradisional.

“Bagi bangsa Indonesia, kebaya adalah identitas, sejarah, dan kisah tentang perempuan Indonesia—tentang keanggunan yang berpadu dengan keteguhan, serta tradisi yang terus hidup dan berkembang seiring zaman.”

Sekitar 50 tamu undangan hadir dalam Kebaya Night ini, termasuk Gloria Gigante, Konsul Kehormatan RI di Trieste, pelaku industri mode, warga Italia, serta diaspora Indonesia dari berbagai negara.

Malam itu, anggota PBI Eropa hadir dari 10 negara—mulai dari Belanda, Prancis, Swiss, Italia, Norwegia, Spanyol, Republik Irlandia, Irlandia Utara, Skotlandia, hingga Vatikan. Saat ini, PBI Eropa sendiri telah merangkul perempuan Indonesia dari 23 negara.

Satu hal yang pasti, malam di Treviso itu membuktikan bahwa kebaya bukan milik masa lalu tapi hidup, bergerak, dan bersinar di panggung dunia. Keren ya Kebaya Lovers!

Bagaimana menurut Anda artikel ini
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *